KEYAKINAN IMAN KITA : ALKITAB ADALAH FIRMAN ALLAH
BY Pdt. Yohanes R. Suprandono, M.Th

Pendahuluan

Alkitab adalah firman Allah. Ada empat arti ketika kita berbicara tentang firman Allah: Satu, Firman Allah adalah Pribadi Yesus Kristus; Dua, Firman Allah sebagai Perkataan Allah. Yang kita bahas di sini, Firman Allah sebagai perkataan. Yang berarti: ketetapan Allah; Allah berbicara secara pribadi kepada seseorang; Tiga, firman Allah yang disampaikan melalui mulut hamba-Nya; dan Empat, Firman Allah yang tertulis (Alkitab); Alkitab ini menunjuk kepada Firman Allah yang menjadi Manusia – Yesus Kristus.

Pada kenyataannya, Alkitab ditolak sebagai firman Allah oleh semua orang yang belum mengalami Kelahiran Baru. Kerangka berpikir orang yang belum lahir baru tidak bisa memuat perkara-perkara rohani yang ada di Alkitab. Orang-orang duniawi tidak menangkap perkara rohani. Mereka menolak Alkitab karena tidak percaya Yesus Kristus, karena inti berita Alkitab berpusatkan pada pribadi Yesus Kristus. Orang yang menolak Yesus maka mereka akan menolak Alkitab yang memberitakan Yesus. Namun demikian orang yang belum kenal Yesus, dan mau membaca Alkitab mereka akan mengenal Yesus sebagai intisari berita Alkitab .

Orang yang lahir baru bisa menerima Alkitab adalah firman Allah. Mereka mengaku dengan mulut mereka, dan seharusnya tidak cukup sampai di sana, mereka harus secara berkesinambungan dididik untuk membaca , merenungkan, menghafal, menerapkan dan mengajarkan Alkitab kepada orang lain. Mengaku saja tidak cukup- Mengaku yang konsekwen, akan bertindak atas pengakuan itu untuk menghayati pesan-pesan Alkitab yang adalah firman Allah.

Keyakinan Teologis tentang Alkitab

Roh Kudus dan Penulisan Alkitab

Rasul Paulus kepada anak rohaninya Timotius menegaskan bahwa :

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”( 2 Timotius 3:16-17).

Segala tulisan (kumpulan kitab-kitab ; Alkitab) adalah tulisan yang diilhamkan atau dinafaskan oleh Allah. Istilah “diilhamkan” atau “dinafaskan” (Yunani:Τeopneustos). “Dinafaskan oleh Allah- given by inspiration of God (KJV); – is God-breathed (NIV) ); memiliki arti bahwa Roh Allah sendiri yang mewahyukan atau menginspirasikan segala tulisan di Alkitab. Oleh karena itu apa yang tertulis di Alkitab adalah Firman Allah. Dengan kata lain, Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Kaum Injili menganut pandangan teori pengilhaman seluruh bagian (the plenary verbal theory)- artinya semua (plenary) kata-kata (verbal) dari Alkitab diilhamkan Allah.

Para penulis Alkitab telah menulis dibawah pimpinan Roh Kudus. Para nabi dalam Perjanjian Lama dan para Rasul dalam Perjanjian Baru , yang menerima panggilan, pengurapan khusus, mereka menyadari penyertaan Allah, Amanat-Nya begitu jelas, menuliskan setiap kata dengan sangat cermat dan penuh tanggungjawab sehingga berita Alkitab sangat konsisten, akurat dan abadi meskipun ditulis oleh orang-orang yang berbeda dalam masa (jaman), latar belakang, pendidikan, kondisi rohani dan masyarakatnya kepada siapa mereka berbicara.

Para teolog menyebut pandangan tentang kepenulisan ini sebagai pengilhaman secara organik; yakni suatu pandangan yang memegang teguh dua faktor. Satu, Faktor Allah yang terpenting; Dua, faktor manusia. Roh Allah memang mewahyukan firman-Nya dengan memakai manusia sebagai alat-Nya. Ada kombinasi dari dua faktor itu. Para Rasul dan para nabi digerakkan oleh Roh Kudus untuk berbicara dan menulis. Roh Kudus memimpin penulis kepada kebenaran (ide dan konsep), tetapi masih memberikan kebebasan kepada kepribadian (personality) si penulis untuk menentukan pilihan kata atau ekspresi. Charles C. Ryrie mengenai pengilhaman Alkitab mengatakan: “Allah mengawasi sedemikian rupa , sehingga para penulis Alkitab itu menyusun dan mencatat tanpa kekeliruan pesan-Nya kepada manusia dalam bentuk kata-kata pada penulisan aslinya.“[1]

Penulis adalah alat di tangan Roh Kudus. Hal ini dibuktikan dalam Alkitab di mana seringkali muncul ungkapan,”Demikianlah firman Allah”, “firman Allah datang kepada ….”. Ini berarti para Nabi berbicara atas nama Tuhan (Ul. 18:18-20); dan Alkitab diinspirasikan (Kel. 34:27-28); Penulis Perjanjian Baru, mereka yang dikuasai Roh Kudus untuk menulis. Janji Yesus kepada mereka (para Rasul) sbb:

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yoh. 16:13).

Konteks dekat ayat-ayat ini, merupakan penjelasan Yesus di masa akhir hidupnya di dunia. Ia yang menjanjikan Roh Kebenaran kepada murid-murid-Nya. Apabila Roh Kudus datang, Ia adalah Roh Kebenaran: Satu, Ia adalah Roh yang memimpin murid-murid Yesus (kita juga) ke dalam seluruh kebenaran. Dua, Ia adalah Roh yang mewakili Allah. Tiga, Ia adalah Roh yang memberitakan hal-hal yang akan datang. Ia adalah Roh Nubuat.

Alkitab: Perjanjian Lama dan Baru adalah Firman Allah

Sehubungan dengan penulisan Alkitab, Rasul Petrus juga menegaskan bahwa:

“Nubuat-nubuat dalam kitab suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:20-21).

Kitab suci bukan merupakan hasil penafsiran, bukan hasil rekayasa dan khayalan yang kreatif para nabi. Dalam ayat ini, Rasul Petrus menegaskan bahwa, tulisan dalam kitab suci diinspirasikan oleh Roh Kudus, karena itulah pesannya teguh dan otentik.

Memang Allah memakai talenta, pendidikan, dan latar belakang kebudayaan dari masing-masing penulis Alkitab dan Allah bekerja sama dengan penulis dengan cara yang tertentu untuk memastikan supaya pesan yang dimaksudkan dengan setia dikomunikasikan di dalam setiap kata-kata yang ditulisnya. Oleh karena itu, sumber berita dan bahkan aktor utama dalam penulisan Alkitab adalah Roh Kudus. Roh Kudus berbicara melalui para nabi sehingga perkataan yang ditulisnya ini begitu berotoritas dan sangat penting.

Alkitab memiliki kriteria tertentu yang membuktikan dirinya sebagai Firman Allah sebagai berikut:

Satu, Alkitab (PL dan PB) adalah Firman Allah yang memiliki otoritas yang mutlak artinya tidak gagal (infallibility) yang mengatur iman dan hidup orang percaya (otoritas yang mutlak -infallible authority).

Pemazmur mengatakan: “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tidak berpengalaman”(Maz 19:7). Alkitab yang berisi hukum dan peraturan adalah sabda Allah. Seluruh perkataan dalam Alkitab adalah Firman Allah sehingga sebagai konsekwensinya, seseorang yang tidak mempercayai dan tidak mentaati Alkitab berarti tidak mempercayai dan tidak mentaati Allah.

Yesus telah berdoa bagi murid-murid-Nya dengan mengatakan: “…Kuduskanlah mereka di dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran (Yohanes 17:17). Firman Allah adalah kebenaran yang mutlak (Yunani, aletheia). Sehingga Alkitab yang adalah firman Allah merupakan otoritas tertinggi untuk mengatur tingkah laku (moral dan etika) bagi orang-orang percaya (baca: Kristen). Pemazmur mengumandangkan: “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga. (Maz. 119:89).

Selanjutnya Alkitab juga disebut sebagai kitab suci, dengan sebuah makna bahwasanya Alkitab di dalam isi pengajarannya menampilkan kekudusan Allah yang Mahatinggi. Alkitab menghakimi dosa manusia tanpa pandang bulu-tanpa kompromi. Semua manusia dituntut untuk hidup sesuai dengan kekudusan Allah atau yang tidak sesuai dengan tuntutannya mereka akan menerima disiplin dan hukuman. Di sinilah letak kekuatan otoritas Alkitab yang mengikat orang-orang percaya. Bernard Ramm sebagaimana dikutif Milard J Erickson menyatakan: firman tertulis yang objektif, Alkitab yang diinspirasikan, bersama dengan firman yang subyektif, penerangan batiniah (ilmunasi) dan keyakinan dari Roh Kudus, mengandung otoritas bagi orang-orang Kristen[2].

Diagram 1. Pola Otoritas

Allah

↓ Roh Kudus

Pewahyuan ↓

↓ Penerangan Roh Kudus

Penulis Alkitab → inspirasi → Orang- Orang Kristen

Orang Kristen menyatakan diri sebagai hamba-hamba yang setia kepada Tuhan, mereka dengan menundukkan diri kepada pengajaran ilahi yang diberikan dalam tulisan-tulisan para nabi dan rasul yang secara bersama-sama merupakan Alkitab yang ada pada kita.[3]

Dua, Ketidaksalahan Alkitab (Innerancy).

Oleh karena pengawasan, pengaruh, secara supranatural dari Roh Kudus, maka Alkitab dalam naskah aslinya tidak menegaskan apapun yang bertentangan dengan fakta. Alkitab dalam keseluruhannya adalah tak berkesalahan (innerant), bebas dari segala kesalahan, kepalsuan, atau tipu day[4]. Penulis Amsal menegaskan: “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya supaya engkau tidak ditegurNya dan dianggap pendusta.” (Amsal 30:5,6).

Misalkan, kita menjumpai dua laporan yang berbeda di Alkitab, hal ini belum tentu membuktikan kesalahan Alkitab, tetapi bisa dijelaskan berhubungan dengan perspektif dua penulis sesuai dengan maksud dan tujuannya yang terlihat dalam konteks dan juga berkaitan dengan keterbatasan informasi waktu itu.

Kaum Injili meyakini ineransi berarti Alkitab itu benar /tidak bersalah atas apa yang diajarkan, bukan atas apa yang dilaporkan. Ineransi berarti Alkitab itu benar kalau dilihat dari segi budaya di saat pernyataan itu dibuat. Ineransi berarti Alkitab itu benar/tidak salah kalau dilihat dari maksud tujuan penulis. Dan ineransi itu berarti Alkitab itu benar dalam melaporkan kejadian sejarah dan ilmiah dalam bahasa fenomena dan tidak dalam bahasa ilmiah.

Konsekwensi dari ineransi Alkitab adalah; Satu, kekonsistenan teologi. Jika Allah itu maha kuasa dan maha tahu, Ia pasti mengetahui segala sesuatu , termasuk kesalahan dalam hal apapun , dan Ia sanggup mempengaruhi penulis Alkitab untuk menghindari kesalahan itu; Dua, kepentingan epistemology[5], jika Alkitab terbukti bersalah dalam hal-hal yang dapat kita periksa, apa yang membuat kita yakin bahwa Alkitab tidak bersalah dalam hal-hal yang membutuhkan iman (tidak bisa kita periksa)?

Tiga, Alkitab adalah Jelas (Clarity-perspicuitas).

Alkitab ditulis dalam suatu cara tertentu sehingga pengajarannya dapat dimengerti oleh orang yang membaca dengan mencari pertolongan Allah dan dengan kesediaan untuk mengikuti ajarannya. Apalagi sekarang Alkitab sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, hal ini akan lebih memudahkan para pembacanya untuk mengetahui maksud Allah di dalamnya. Alkitab juga sebagaimana dikatakan oleh para reformator (abad 16) memiliki kualitas “perspicuitas” artinya memiliki kejelasan, tembus pandang atau transparan. Kejelasan ini menunjuk kepada jalan keselamatan. Alkitab begitu jelas menyatakan bahwa Yesus adalah kebenaran yang mutlak. Hal ini dapat dimengerti sekalipun oleh orang yang tidak berpendidikan dan bahkan oleh anak-anak kecil yang diterangi Roh Kudus. Meskipun demikian Alkitab tidak menjawab seluruh keingintahuan kita akan segala sesuatu. Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, …”(Ul. 29:29). Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN (Saya Tidak tahu) dan hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita (Saya tahu). Beberapa hal kebenaran sesungguhnya telah dinyatakan dan kita tidak tahu hal-hal yang tidak dinyatakan. Hal-hal yang tidak dinyatakan merupakan rahasia bagi kita dan rahasia itu ada pada Allah. Sebenarnya kita harus puas dengan mengetahui kehendak-Nya bagi kehidupan kita di Alkitab. Oleh karena itu yang penting, kita harus taat pada apa yang telah kita ketahui dalam firman-Nya[6].

Yang masih berkaitan dengan ini, Alkitab tentu saja menjadi bersifat sangat diperlukan (Neccesity-neccessitas). Alkitab diperlukan untuk mengenal Injil, untuk memelihara kehidupan rohani dan untuk mengetahui kehendak Allah. Rasul Paulus menegaskan kepada Timotius: “ Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik “ ( 2 Tim. 3:16,17).

Empat, Alkitab sudah cukup (Sufficiency-sufficientia).

Alkitab sudah cukup dalam menjelaskan firman Tuhan yang dimaksudkan agar umat manusia mengenal sejarah penebusan (redemptive history) dan Alkitab terdiri dari firman Allah yang kita perlukan untuk masuk ke dalam rencana Allah dalam keselamatan, untuk mempercayai Dia dengan sepenuhnya dan untuk mentaati Dia dengan sepenuhnya.

Paulus mengingatkan Timotius : “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” (2 Timotius 3:15).

Yakobus kepada jemaat perantauan : “ Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya.” (Yakobus 1:18).

Dan Petrus kepada jemaat diaspora: “23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal. 24 Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, 25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. (1 Petrus 1:23 -25).

Lima, Alkitab merupakan kesatuan (unitas).

Alkitab yang terdiri dari 66 kitab yang ditulis oleh sekitar 40 orang dengan latar belakang yang berbeda, ditulis dalam jangkau waktu yang hampir 16 abad, akan tetapi Alkitab memiliki satu sistem doktrin yang jelas, tidak bertentangan satu sama lain, satu konsep moral yang sama, satu sistem keselamatan yang searah- keselamatan hanya di dapat melalui korban Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak domba Allah, dan Alkitab memiliki satu pusat yaitu Yesus Kristus (lambang dan bayangan) dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada Yesus Kristus yang menjadi pusat berita Perjanjian Baru.

Enam, Ada banyak nubuatan dalam Alkitab yang sudah digenapi.

Nubuatan yang digenapi bisa disebutkan di sini antara lain; Nubuatan tentang penghakiman bangsa Mesir dan penggenapannya (Kej. 15 ; Kel. 4-12; dan Yeh. 29-30); Sejarah Israel dan perserakkannya merupakan penggenapan dari nubuat yang terdapat dalam Ulangan 28; Nubuatan yang paling rinci digenapi adalah nubuatan tentang Yesus Kristus; lahir dari seorang perawan (Yes. 7:14; Mat. 1:18-25; Benih Abraham (Kej. 12:3, Mat. 1:1-2); Suku Yehuda (Kej. 49:10; Mat. 1:2); Keturunan Daud (2 Sam. 7:12; Mat. 1:1,6); Lahir di Betlehem (Mikha 5:1, Mat.2.:1, Luk. 2:4-7); Diurapi Roh Kudus (Yes. 11:1-2, Mat 3:16), Menunggang keledai masuk Yerusalem (Zakh. 9:9, Mat. 21:1-7); dicelakai sahabat dekatnya (Maz.41:10, 55:13-15; Yoh. 13:18,21-26) ; dijual seharga 30 keping perak (Zakh. 11:12-13, Mat. 27:3-10); ditinggalkan para murid-Nya, (Zakh. 13:7, Mat. 26:56b); kaki dan tangan-Nya di tusuk (Maz. 22:17, Zak. 12:10); Tak sebuah tulangpun dipatahkan ( Kel.12:46, Zakh. 12:10, Yoh. 19:36-37); baju luarnya dibagi-bagi dan baju dalamnya diundi (Maz. 22:19, Yoh. 19:23-24); menderita karena dosa manusia (Yes.53:5-6, 1 Pet. 2:24); ditinggalkan Allah (Maz. 22:2, Mat. 27:46); bangkit dari kematian (Maz. 16:10-11, Kis. 2:24, 27-28, 30-32); naik ke sorga (Maz. 16:10-11, Ef. 4:8-10); duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan menaklukkan musuh-musuh-Nya di telapak kakiNya (Maz. 110:1, Kis. 2:33-35, Ef. 1:20-21). Artinya bahwa nilai Kebenaran Alkitab teruji dengan tepat.

Intisari Alkitab: Injil-Kabar Keselamatan Untuk Semua Bangsa

Rasul Paulus meyakini- berita tentang Yesus Kristus adalah kabar baik untuk semua bangsa;

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”(Roma 1:16-17)

Paulus mempunyai “keyakinan yang kokoh dalam Injil” – dalam terjemahan lain – “ For I am not ashamed of the gospel of Christ,” (KJV-King James Version) – secara literal artinya Aku tidak malu akan Injil Kristus. Kata dalam bahasa aslinya “epaischunomai”- menjadi malu. Dalam arti positif, Paulus memiliki pendirian yang amat sangat teguh dalam Injil.

Intisari Alkitab adalah Injil. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya- for it is the power of God unto salvation to every one that believeth …(KJV);Injil adalah kekuatan Allah-the power of God- dalam bahasa aslinya istilah yang diterjemahkan sebagai kekuatan- “dunamis”. Artinya bahwa Allah memiliki kesanggupan dalam penyelamatan bagi setiap orang tanpa membedakan asal-usul kebangsaan. Penegasan keyakinan Paulus ini, menjadi dasar sebuah misi Injil secara lintas budaya. Artinya, Injil untuk semua suku bangsa, kaum dengan segala macam kebudayaan dan bahasa mereka. Salah satu, implikasikasinya penting sekali penerjemahan Alkitab ke semua bahasa manusia.

Di dalam Injil nyata kebenaran Allah-yakni kebenaran yang diterima dengan dasar iman. Injil diterima dengan iman merupakan berita pembenaran orang yang beriman kepada pribadi dan karya Kristus. Sifat Injil yang diwarnai anugerah –kasih karunia Allah ditegaskan disini , bukan sifat legalistis yakni kebenaran karena melakukan hukum dan perintah.

Penutup

Sekarang kita bisa mengaku Alkitab adalah firman Allah tanpa ragu-ragu. Kita tidak perlu takut dan digentarkan oleh musuh-musuh Alkitab-orang yang tidak bersunat secara rohani-orang yang tidak lahir baru. Kita memiliki kesaksian Roh Kudus dalam hati kita. Kita -Orang-orang yang lahir baru- , memiliki roh yang diperbaharui dan iman yang semakin teguh tak tergoncangkan.

Sebagai implikasi dari keyakinan kita akan Alkitab, kita akan mengakui dengan hati dan disertai tindakan. Kita akan terus menerus tiada henti untuk membaca, merenungkan, melakukan, mengajarkan kepada anak-anak kita Alkitab yang adalah Firman Allah yang hidup. Kesetiaan dalam mengikuti Alkitab sebagai pedoman hidup kita akan membentuk kerangka dan pola pikir, sudut pandang, dan pola laku kita sehingga membentuk kebudayaan Kristen.

Kita bisa menyatakan bersama-sama dengan pernyataan Chicago tentang ineransi Alkitab: “ Kami menyatakan bahwa sebuah pengakuan tentang otoritas penuh, infalibilitas, dan ineransi Alkitab adalah vital bagi pemahaman yang sehat tentang keutuhan iman Kristen. Pengakuan ini akan seharusnya memimpin ke arah keserupaan dengan citra Kristus.”[7]

Pada akhirnya seiring dengan pertumbuhan dan pengenalan kita akan Tuhan-menjadi orang Kristen sejati-, setiap hari akan ditambahkan kepada kita segala hikmat, pengetahuan dan segala berkat rohani dari Bapa kita. Bersama pemazmur kita senang untuk memuji: “Firmanmu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”. Amin!

Sumber Kepustakaan

BibleWorks versi 6.0. Alkitab Terjemahan Baru

Geisler , Norman L. (ed). 1980. Inerrancy. Grand Rapids, Michigan : Zondervan

Publishing House.

Grudem , Wayne. Systematic Theology. An Introduction to Biblical Doctrine.

Grand Rapids, Michigan : Zondervan Publishing House. 1994.

Packer , J. I. Oden.Thomas C. 2011. “Chicago Statement on Biblical Innerancy, 1978,

Exposition . Authority: Christ and the Bible. Satu Iman. Konsensus Injili. Jakarta:

diterbitkan STT Bandung bekerjasama dengan BPK Gunung Mulia.

Stott , John R.W. 2001.. “The Evangelist’s Message Is Bible Based” dalam The

Mission of an Evangelist. Minneapolis: World Wide Publication.

Sudarmo . R. 1982. Ikhtisar Dogmatika. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Tim Penyusun Modul. 2010. Pengantar Teologi Sistematika. Bandung :

Sekolah Tinggi Teologi Kharisma,

[1] Charles C. Ryrie. Basic Theology. (Wheaton , Illinois: Victor Books, 1987), electronic media.

[2] L. Arnold Hustad (ed.). Introducing Christian Doctrine. (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1992), hlm. 70.

[3] J. I. Packer. Thomas C. Oden. “Chicago Statement on Biblical Innerancy, 1978, exposition . Authority: Christ and the Bible”, dalam Satu Iman. Konsensus Injili. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011). Hlm. 34.

[4] Ibid. Hlm. 45.

[5] Epistemology cabang filsafat yang berkaitan dengan sifat dan cakupan pengetahuan, dan apakah pengetahuan itu dimungkinkan .

[6] John R.W. Stott. “The Evangelist’s Message Is Bible –Based” dalam The Mission of an Evangelist (Minneapolis: World Wide Publication, 2001), Hlm. 58.

[7] Packer. Oden. Ibid. Hlm. 49.

X