PENDIDIKAN TEOLOGI DAN PERAN DOSEN DI ABAD 21 
(Pdt. Junihot Simanjuntak, M.Th)


 

Lee Wanak dalam buku yang berjudul Educating For Tomorrow (2002) memberi gambaran tentang  tren global di wilayah Asia Pasifik yang didasarkan pada metamorphosis di dalam peran-peran dan gaya  mengajar.

Ada dua isu penting yang sangat berguna bagi pengembangan   ilmu dan gaya mengajar di sekolah teologi pada abad 21 ini. Kedua isu tersebut adalah:

Pertama, isu perubahan bentuk  pendidikan teologi di abad 21.  Menurut Wannak banyak model pendidikan yang berasal dari abad 20 dinilai tidak  lagi relevan untuk dipakai di abad 21.  Oleh sebab itu Lee menggambarkan tujuh bentuk  perubahan yang akan dihadapi oleh pendidikan teologi di abad 21 sebagai ganti model pendidikan dari abad 20, yaitu:

  1. Berubah dari dispenser informasi ke sumber daya. Siswa teologi perlu dibimbing berpikir kreatif dan kritis, ketimbang menyuapi jawaban kepada siswa, sebagai warisan masa lalu.
  2. Berubah dari menyimpan pengetahuan kepada pemecahan masalah. Metode pendidikan tradisional yang hanya sekedar menyimpan pengetahuan di dalam kepala para siswa diubah dengan metode pembuktian seperti pelatihan, simulasi, studi kasus, diskusi kelompok dan pengembangan proyek.  Dosen teologi perlu mengembangkan diri dengan keahlian-keahlian yang aplikatif, analisis, sintesis, dan evaluatif untuk merekonstruksi pemikiran kritis bagisiswanya.
  3. Berubah dari teknologi rendah ke gaya pengajaran teknologi tinggi. Metodologi  pendidikan dengan gaya kelas akan ditinggalkan, orang-orang akan belajar melalui metodologi teknologi tinggi, seperti kursus-kursus yang berbasis internet.
  4. Berubah dari pendidikan lokal ke pendidikan global. Pendidik-pendidikteologi harus mampu mengajarkan keaneka ragaman yang akan memberi maknayang lebih besar dari komunikasi global. Tugas dosen adalah memandu siswanya untuk berpikir.
  5. Berubah dari generalisasi ke spesialisasi ke fokus cabang ilmu pengetahuan.  Di abad 21, sekolah-sekolah teologi akan lebih mengembangk satu fokus dari satu cabang ilmu pengetahuan yang berpusat di sekitar konteks isu-isuyang specifik. Fakultas diperluas dengan spesialisasi tambahan yang berarti, untuk menampung bidang-bidang studi yang baru.
  6. Dari teologi klasik ke teologi holistik. Pendidikan teologi yang holistik memadukan  interaksi antara teori dan praktek di dalam kurikulum dan di dalam keseluruhan program.
  7. Dari yang bukan peraturan ke akreditasi dan surat kepercayaan. Sekolah-sekolah menghendaki akreditasi dari badan pemerintah dan dari organisasi-organisasi akreditasi independen. Para anggota fakultas perlu meningkatkan mutu studi-studi mereka secara formal dengan tiga  bidang perhatian : akademis,pelayanan dan formasi spiritual.

Ketujuh gagasan model perubahan pendidikan yang berkembang di abad 21 diatas dibutuhkan sebagai gagasan pendorong bagi para pendidik  untuk melakukan percobaan dan inovasi yang relevan dengan konteks mereka sebagai pemimpin Kristen.

Isu yang kedua yang sangat berguna untuk pengembangan ilmu mendidik dosen teologi adalah masalah pemeliharaan karunia pengajaran. Terkait dalam pemeliharaan karunia pengajaran ini, Lee menunjukkan lima karakteristik yang dibutuhkan oleh para dosen teologi:

  1. Persfektif Alkitab. Alkitab harus menjadi dasar kualitas karaktristik para guru dan para pemimpin Kristen. Para siswa yang diajar di sekolah teologi tidak mengingat banyak ceramah kuliah atau khotbah-khotbah, tetapi yang paling melekat pada ingtan mereka adalah karakter, sikap-sikap, dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh dosen kepada mereka.
  2. Persfektif  ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu sosial jika dipakai dalam pendidikan akan memberi manfaat besar bagi pengembangan ilmu mendidikan Ilmu-ilmu sosial seperti psikologi pendidikan membantu para pendidik memberi informasi dan penilain terhadap sifat orang-orang yang dididik. Sosiologi menolong guru mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dalam bidang pendidikan. Teori kurikulum memandu guru menyuguhkan pelajaran yang terstruktur. Teknologi menolong guru lebih efisien dalam memberi instruksi.
  3. Menjembatani teks dan konteks. Para pendidik sekolah teologi bertugas menjembatani teks masa lampau dan konteks masa kini, ilmu mendidik masa lampau dan pendekatan modern ke formasi akademik, spritual, dan formasi pelayanan. Roh Kudus sebagai peserta aktif dalam pengembangan karunia mengajaradalah pemandu utama para pendidik di dalam proses ini (1 Kor. 2:9-16).
  4. Mengembangkan keahlian-keahlian mendidik. Studi ini mengidentifikasi tujuh prinsip dari praktek yang baik di dalam mendidik mahasiswa sebelum meraih gelarnya, ketujuh prinsip tersebut adalah: praktek mendorong terjadinya kontak  dosen – mahasiswa, praktek mendorong korporasi antar para siswa, praktek mendorong pelajaran aktif,  praktek memberi umpan balik, praktek menekankan waktu dalam tugas, praktek mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi, dan praktek menggali talenta-talenta.
  5. Belajar dari umpan balik. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dari hasil praktek mengajar kita, kita juga perlu meminta evaluasi dari rekan guru dansiswa kita.

Kelima gagasan ini dibutuhkan sebagai alat pacu pengembangan potensi dan kinerja dari para pendidik teologi yang sangat dibutuhkan di Indonesia,  sebagai saksi hidup dari berita Alkitab yang  iman Kristennya terintegrasi kepada praktek hidup sehari-harinya.