Oleh: Junihot M. Simanjuntak, M.Pd.K

Pendahuluan

Iman, theologia dan karya Yohanes Amos Comenius dalam dunia pendidikan agama Kristen mengakar dari ajaran Gereja Persaudaraan Morawi, suatu persekutuan yang memeluk tradisi iman Kristen yang dipelopori oleh Hus. Tujuan, isi dan metode PAK Comenius lahir dari integritasnya dalam menjalankan pelayanan keuskupannya di Gereja Persaudaraan Morawi. Integritas pelayanan Comenius nampak dalam enam tahapan perjalanan hidupnya dalam usaha mempertahankan imannya di gereja persaudaraan Morawi, yang disertai dengan pengalaman-pengalaman peristiwa malang. Tahapan-tahapan pengalaman itu adalah: pertama, saat ia kembali ke Morawi-Bohemia, daerah kelahirannya; kedua, saat ia berada di pengungsian di perkebunan Karl; ketiga, saat ia berada Leszno di Polandia Selatan; keempat, saat ia membaharui sistim persekolahan di Swedia; kelima, saat ia melayani jemaat-jemaat pengungsi di Hongaria; dan keenam, saat ia dalam pengungsian di kota Amsterdam.

Keenam tahapan itu dilaluinya (meminjam istilah Bapak Sidjabat dalam buku Sehat dalam Watak, … Comenius “maju dengan gaya hidupnya sendiri” ) dengan melahirkan karya-karya yang sangat bermutu sebagai bagian sentral dari pokok-pokok pendidikan Kristen modern.

Biografi

John Amos Comenius lahir pada tanggal 28 Maret 1592, berasal dari desa yang bernama Komna (demikianlah nama Komensky diberi kepadanya, yakni “dari Komna”) di Moravia, kawasan yang kini dikenal sebagai Repubik Ceko. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, satu- satunya putra dari pasangan suami-istri yang cukup berada dari golongan rakyat jelata. Orang-tuanya adalah anggota Persatuan Bruder (belakangan dikenal sebagai Bruder Bohemia atau Gereja Moravia), kelompok agama yang berasal dari pertengahan abad ke-15 di bawah pengaruh Kaum Waldens dan tokoh reformis lain seperti Peter Chelčhický.

Keluarga Comenius Tatkala Yohanes berumur 16 tahun, ia meninggalkan rumah tantenya untuk meneruskan studi di Prerov, pada salah satu sekolah yang paling bermutu yang diselenggarakan oleh Gereja Persaudaraan Morawi. Kurikulum di sana berporos pada bahasa Latin, yang adalah persayaratan mutlak untuk siapa saja yang ingin melanjutkan studinya. Di sana nama keluarga Komensky dilatinkan menjadi ”Comenius”. Tidak hanya itu, untuk Nama Yohanes ditambah Nama ”Amos” (dalam Bahasa Latin berarti ”yang mengasihi”). Walaupun Comenius sebelumnya tidak pernah mempelajari bahasa Latin, namun ia amat rajin dalam studinya, sehingga walaupun ia baru belajar satu setengah tahun, namun kemampuannya setaraf dengan prestasi anak didik yang paling maju, Pada tanggal 30 Maret 1611, Comenius dan enam pelajar lain dari Morawi dan Bohemia meneruskan studi pada perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh gereja Reformasi. Sekolah itu dipilih karena Pangeran Zerotin sendiri yang penah belajar di sana dan ia bersahabat dengan pelbagai pemimpin negeri pro-reformasi. Tambah pula, padangan fakultas teologinya lebih sesuai dengan iman Persaudaraan Morawi.

Selama belajar di Herborn, Comenius memulai sumbangan ilmiah pertama, yaitu menyusun Kamus Ceko-Latin, termasuk bagian tata bahasa. Setelah belajar dua tahun lamanya di Herborn ia berlibur di negeri Belanda yang baru memerdekakan diri dari kuk Spanyol. Kembali dari liburan itu ia mencalonkan diri sebagai mahasiswa pada universitas Heidelberg, perguruan tinggi yang menganut nilai gereja Reformasi Calvin. Di sini, Comenius mulai mengumpulkan buku bagi perkembangan perpustakaan Pribadi. Dari salah satu toko di sana, Comenius membeli naskah asli karangan Copernicus, De revolutionibus orbium coelstium, tetapi tidak diyakinkan oleh argumentasinya. Sungguhpun demikian, ia tetap tertarik padabidang ilmiah. Kemudian pada tahun 1614 ia kembali lagi ke Morawi. Ia ingin menemukan metode yang lebih menrik bagi para pelajar, sehingga memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pengalaman belajar.

Dua tahun sesudah ia ditahbiskan, gereja melantiknya sebagai pendeta jemaat dan kepala sekolah di Fulnek yang letaknya dekta dengan tapal batas Morawi dan Silesia (Jerman Bagian Timur). Ia menikah dengan Magdelina Viovska. Pelayanan di sana dipersulit karena banyak warganya berbangsa Jerman dan beragama Katolik Roma. Selama di Fulnek ia menulis buku yang berjudul Sepucuk Surat yang dialamatkan ke Sorga. Sedangkan buku lain dikarang sebagai tanggapan terhadap keadaan Politis keagamaan yang semakin gawat, yang ditulis dalam bahasa Ceko yang berjudul Peringatan Melawan Daya Tarik Anti-Kristus. Isinya sangat menentang kemajuan Gereja Katolik Roma di Morawi sebagai hasilketekunan kaum Yesuit yang memanfaatkan semua sarana untuk”meroma-katolikkan” para warga Morawi. Tetapi buku ini tidak booleh diterbitkan karena setiap penerbitan buku harus terlebih dahulu disetujui senat. Sehingga damai yang Comenius dan warga lainnya hancur sama sekali.

Kemudian di Fulnek, tentara Spanyol membabi-buta dan Pemimpin biarawan Kapucin menyuruh orang membakar habis rumah Comenius. Alhasil, hilanglah perpustakaan dan semua naskah karangan Comenius yang tidak terhingga nilainya. Dan setahun kemudian istridan kedua naknya meninggal dunia karena wabah pes. Comenius dan 24 orang pendeta lainnya dan Uskup Mateus Konechi hidup sebagai pengungsi diperkebunan milik Pangeran Karl dari Zerotin. Dan begitulah ia semakin akan pentingnya Pendidikan Ilmiah dan Rohani yang mendidik angkatan muda hidup dalam kebajikan. Tetapi Comenius belum mampu mengembangkan teori dan praktek yang merangkum pendidikan yang bercorak demikian.

Pada tahun 1616, Yohanes mulai menyusun encyclopedy yang terdiri dari 16 jilid. Buku ensiklopedia ini adalah yang pertamakali ditulis dalam bahasa Ceko. Judulnya,” Teater segala sesuatu “yang meliputi ‘semua yang ada sejak penciptaan pertama sampai saat ini’. “Sepucuk surat yang dialamatkan ke Surga” berisi keprihatinan terhadap ketidakadilan dalam hubungan kaum kaya dan miskin. “Peringatan Melawan Daya Tarik Anti Kristus” yang isinya menentang dominasi Gereja Roma di Morawi. Pada tahun 1621 ia mengarang buku “Sejumlah Jalan Buntu Duniawi dan Surga Hati Yang Percaya”. Pada tahun 1625 ia mengarang “Pengajar Agung”. Pada tahun 1631, gereja menerbitkan buku “Janua Linguarium Reserata” (Pintu Bahasa Dibuka). Buku lainnya “Vestibulum” (Jalan Masuk) yang terdiri dari 427 kalimat atas seribu kata latin, “Pansopiae Pandromus” (Pembimbing ke Semua Ilmu), “Linguarium Methodus Novissima (metode Terbaru Pelajaran Bahasa) adalah yang paling bermutu dan terpuji dalam sejarah.

Pada tanggal 3 September 1624, Comenius menikah lagi dengan Maria Dorotheas, putri Uskup Yohanes Cyrillis. Tetapi tidak lama sesudah pernikahan tempat pengungsian mereka tidak aman lagi. Sehingga ia harus meninggalkan istrinya dan ia pergi ke kota Leszno di Polandia Selatan. Peristiwa kedua ini memupuk kembali minatnya pada pendidikan. Kemudian ia mulai mengarang buku yang membuat namanya abadi yaitu, Didaktika Agung.

Yohanes Comenius meninggal pada 4 November 1670 di kota Amsterdam dan dimakamkan di kota Naarden. Diantara karya- karyanya yang gemilang dan keberhasilannya menyusun metode pengajaran yang dipuji para ahli pendidikan, Yohanes tetap rendah hati dan bahkan menganggap dirinya belum mampu melaksanakan penugasan dari Allah. Sampai saat ini sejarah dunia menempatkan Yohanes Amos Comenius sebagai Bapak Pendidikan Modern yang telah menciptakan berbagai metode pembelajaran berkualitas dan berdedikasi sebagai pengajar.

Dasar Teori Pendidikan

Sama seperti para pendidik Kristen yang kita pelajari, Comenius pun berpendapat bahwa pendidikan yang ia maksudkan selayaknya dinamakan pendidikan agama Kristen, karena nilainya berporos pada iman Kristen,karena nilai-nilainya berporos pada iman Kristen. Jadi,Teologi adalah dasar pertama yang menyoroti teori dan praktek pendidikan.
Dengan memanfaatkan dasar ini Comenius lebih dekat dengan Loyola ketimbang Luther dan Calvin, karena ia tidak menjelaskan iman Kristen secara sistematisia.
Manusia adalah ajaran Teologi kedua yang menyoroti pandangan Comenius tentang pendidikan. Ia mulai pembahasan tentang manusia dengan mengutip dari kejadian 1:26 di dalamnya tersirat tiga pokok tentang jati diri manusia.

  1. Manusia adalah makhluk rasional, yang berarti bahwa Tuhan telah memberikan tugas khusus kepadanya untuk menamai segala sesuatu(Kej.2:19).
  2. Manusia adalah tuan atas segala makhluk lain dan oleh karena itu ia wajib memanfaatkan segalanya sesuai dengan panggilan ilahi yang berkaitan dengan setiap jenis ciptaan.
  3. Manusia wajib mencerminkan semua sifat asli dari gambar Allah didalam dirinya.

Kemahatahuan adalah gambar asli lain dari Allah, yang dicerminkan dalam manusia dan amat relevan bagi dasar Teologi Pendidikan. Manusia dapat dididik secara benar, karena memang itulah maksud Allah baginyakata “Benar” ini berarti bahwa manusia dapat diajar tentang Allah,sesamanya dan benda-benda.
Dalam manusia yang diciptakan segambar dengan Allah terdapat kebutuhan untuk:

  • Berada yaitu untuk hidup. Oleh karena itu ,orang harus diajar untuk menghargai/mengasihi kehidupan kekinian ini agar ia berharap hidup selama-lamanya.
  • Manusia mempunyai kebutuhan untuk mengangap dirinya makhluk yang berharga.
  • Terdapat kebutuhan untuk mengetahui dunia sekitarnya.
  • Manusia harus memahami hal-hal yang ia ketahui.
  • Manusia mempunyai kebutuhan untuk hidup merdeka
  • Manusia membutuhkan kesempatan untuk hidup secara aktif agar memanfaatkan segala bakat dan tenaga.
  • Terdapat kebutuhan untuk memiliki harta benda yang cukup supaya setiap orang memperoleh rezeki yang halal dna tidak menginginkan kepunyaan orang lain.
  • Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk hidup aman juga.
  • Manusia mempunyai kebutuhan yang dasariah untuk dihargai dan dihormati.
  • Setiap orang membutuhkan kemampuan menyampaikan gagasannya secara fasih dan jelas kepada sesamanya.
  • Setiap orang ingin disukai orang lain
  • Kebutuhan menikmati berkat Allah,kebahagiaan hati dan kesenangan mendalam yang berkaitan dengan keyakinan bahwa kehidupan berporos pada Allah.

Tujuan PAK

Tujuan PAK dijelaskan Comenius dalam didaktika Agungnya, yakni menjadikan semua jemaat di kota, di desa, dan setiap Kerajaan Kristen, yaitu semua orang muda (laki-laki dan perempuan) menjadi jemaat yang terpelajar dalam ilmu, murni dalam akhlak, terlatih dalam kesalehan untuk hidup masa kini dan pada dunia di seberang.

Pengajar

Sama seperti pemikir lain di bidang pendidikan agam Kristen, Comenius pun mengangap bahwa Allah adalah pengajar utama. Comenius menggakui bahwa misteri pertumbuhan intelektual dan rohani adalah berkaitan dengan misteri pertumbuhan intelektual dan rohani adalah berkaitan dengan misteri yang lebih agung lagi, yaitu pemilihan ( predestinasi) ilahi.

Pelajar

Dalam wawasan pendidikan Comenius, semua orang adalah pelajar selama hidupnya. Namun Comenius mengkhususkan para pelajar menunjuk pada semua pria dan perempuan muda dari semua golongan sosial. Bagi Comenius, semua yang disebut sebagai anak dididik, semuanya harus diperlengkapi dengan segala sesuatu yang perlu untuk berpikir, memilih mengikuti serta berbuat hal-hal yang baik.

Metode PAK

Ada sepuluh asas menjadi pokok yang menjadi metodologi mengajar Comenius, yaitu: 1) Ada waktu yang cocok untuk mengajar dan untuk mengajarkan bahan tertentu kepada si pelajar; 2) Semua persiapanuntukmengajarharusdilaksanakan sebelum guru masuk kelas; 3) Hendaknya hanya satu gagasan atau vak saja yang diajarkan pada saat tertentu, supaya pelajar tidak bingung; 4) Murid-murid jangan disuruh menghafal bahan sebelum isinya dijelaskan sebaik mungkin lebih dahulu oleh guru; 5) Guru wajib mengajarkan vak/bahannya sepintas lalu sebelum membahasnya secara teliti; 6) Setiap bahan studi perlu dijarkan langkah demi langkah dan dimulai dari yang lebih sederhana, lantas yang lebih majemuk; 7) pada permulaan studi baru, guru wajib mengajarkan unsure-unsur positifnya dahulu sebelum membiarkan murid melibatkan diri dalam perasaan ragu-ragu; 8) Metode mengajar perlu didasarkan pada pancaindra pelajar; 9) Sejauh mungkin, para pelajar harus diberi kesempatan untuk belajar dengan berbuat sesuatu dan menanggulanginya sampai sempurna; dan 10) Pengetahuan harus diterapkan pada pengalaman pelajar.

Lingkungan Luas Pendidikan

Dalam pemikiran dan praktek Comenius, kehidupan manusia yang dibagi atas tujuh tahap itu menjadi lingkungan luas bagi pendidikan, karena pendidikan berarti pembentukan tubuh, akal jiwa dan manusia. Keprihatinan Comeneus terhadap kedua tugas pokok itu tampak dalam tiga usul radikal ang ia anjurkan.orang hendaknya mendirikan tiga”Dewan” atau “perserikatan” Kolese terang ( Dewan para sarjana atau boleh dinamakan Dewan pendidik manusia atau dewan terang dunia, ataupun kementerian pendidikan se-dunia). Mahkamah Perdamaian itu wajib membimbing semua bangsa untuk mengalami keadilan dan perdamaian. Konsistori Gereja se-Dunia itu hendaknya menjadi pemimpin seluruh gereja yang mengejawantahkan tabiatnya sebagai terang dan garam dunia. Singkatnya Konsistori Gereja akan mengakhiri pertikaian dan semua penindasan dalam Tubuh kristus.

Isi PAK

Isi pendidikan agama Kristen Comenius berporos pada iman Kristen. Untuk memahami isi PAK yang diajarkan Comenisu, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa bagi Comenius semua pendidikan bersifat pendidikan agama Kristen. Untuk itu dia membuat tiga dasar pendidikan, yaitu:

Pertama, pendidikan yang didasari pada teologi. Pokok teologi dimaksudkan untuk jembatan yang mendamaikan seseorang dengan yang lainnya dalam Yesus Kristus (bd. 2 Kor. 5:18). Pokok teologi ini menyoroti empat bagian penting: (1) Kedaulatan Allah: segala sesuatu yang terjadi dalam dunia berlangsung dalam melulu karena kehendak Allah, dari hal-hal yang paling besar sampai yang paling kecil; (2) Berdasarkan Kejadian 1:26, manusia adalah: makhluk rasional, tuan atas segala makhluk lain yang wajib memanfaatkan segalanya dengan panggilan ilahi yang berkaitan dengan setiap jenis ciptaan, dan makhluk yang wajib mencerminkan gambar Allah di dalam dirinya. Dalam manusia yang diciptakan segambar dengan Allah terdapat kebutuhan untuk: hidup, menggangap dirinya makhluk yang berharga, mengetahui dunia sekitarnya, memahami hal-hal yang ia ketahui, hidup merdeka, kesempatan hidup secara aktif memanfaatkan segala bakat dan tenaga, memiliki harta benda yang cukup, hidup aman, dihargai dan dihormati, kemampuan menyampaikan gagasannya secara fasih dan jelas kepada sesamanya, ingin disukai orang lain, dan menikmati berkat Allah; (3) Iman mistis, yaitu usaha mengamalkan iman sejelas mungkin ketimbang menjelaskannya dengan teliti, karena dari usaha menjelaskan dengan teliti inilah tumbuh persengketaan antara kelompok Kristen yang mengklaim Allah sebagai Tuhan mereka saja; (4) Gereja, yaitu persekutuan orang yang percaya bukan hanya dengan pengakuan lisan saja, melainkan dengan pengakuan tingkah lakunya; (5) Disiplin, yang berarti hidup dalam persekutun Kristen, yang adalah juga pegalaman belajar, karena di dalamnya ada ujian dari rekan seiman dengan harapan setiap orang akan hidup lebih konsekuen sesuai dengan ukuran Injil; (6) Alkitab, perlu dipelajari karena di dalamnya terdapat penyataan Allah kepada manusia.

Kedua, pendidikan yang didasari pada pengalaman pribadi. Dalam pengalamannya sebagai seorang anak di sekolah dan seorang dewasa yang berada dipengungsian, meninggalkan tanah airnya karena penindasan, Comenius ingin memperbaharui masyarakat dengan jalan memperbaharui pendidikan di sekolah, supaya orang dewasa tidak perlu lagi mengungsi dari tanah airnya sebagai hasil penindasan keagamaan. Oleh sebab itu bagi Comenius persekolahan hendaknya menjadi peluang belajar yang menarik dan bukan pengalaman buruk yang cenderung mematikan hasrat belajar diantara kaum muda.

Ketiga, pendidikan yang didasari pada pemikiran analogis, yaitu pendidikan berdasarkan irama proses alamiah dan gaya bertindak seorang petani ataupun seorang ahli dalam bidang pertukangan.

Berdasarkan ketiga pokok dasar itu, Comenius memaparkan enam isu abadi di bidang pendidikan agama Kristen yang mencakup “tujuh sekolah”, yaitu: sekolah Kelahiran: berkaitan dengan orangtua sendiri, Sekolah Bayi: berkaitan dengan orangtua dan anak balita, Sekolah Kanak-kanak: berkaitan dengan sekolah dasar, Sekolah Remaja: berkaitan dengan SMP/SMA, Sekolah Pemuda: berkaitan dengan taraf akademi/perguruan tinggi, Sekolah Orang Dewasa: sebagai refleksi atas pekerjaan atau kehidupan dalam masyarakat, dan Sekolah Lanjut Usia: pengalaman belajar bagi yang lanjut usia.

Masing-masing kurikulum pada ketujuh sekolah tersebut berporos pada tiga macam pengalaman yang menghasilkan kesalehan, kebajikan dan pengetahuan/ pengertian. Pokok yang sama diajarkan pada setiap tingkat, yaitu Iman Kristen. Tetapi ruang lingkup dan kesulitannya semakin majemuk sesuai dengan umur pelajar yang berbeda.
Pengalaman belajar pada Sekolah Dewasa dan Sekolah Lanjut Usia masih harus dijernihkan dalam “tiga sekolah” lagi, yaitu: Kolese Terang (Dewan Para Sarjana se-Dunia), Mahkamah Perdamaian (semacam PBB) dan Konsistori Gereja (semacam Dewan Gereja-gereja se-Dunia).

Terdapat empat pengajar pokok dalam pendidikan, yaitu Allah sendiri, orangtua, guru, gereja dan masyarakat persekutuan Kristen.

Dalam wawasan pendidikan Comenius, semua orang adalah pelajar selama hidupnya. Namun Comenius mengkhususkan para pelajar menunjuk pada semua pria dan perempuan muda dari semua golongan sosial.

Isi pendidikan agama Kristen Comenius berporos pada iman Kristen. Untuk memahami isi PAK yang diajarkan Comenisu, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa bagi Comenius semua pendidikan bersifat pendidikan agama Kristen. Untuk itu dia membuat tiga dasar pendidikan, yaitu:

Pertama, pendidikan yang didasari pada teologi. Pokok teologi dimaksudkan untuk jembatan yang mendamaikan seseorang dengan yang lainnya dalam Yesus Kristus (bd. 2 Kor. 5:18). Pokok teologi ini menyoroti empat bagian penting: (1) Kedaulatan Allah: segala sesuatu yang terjadi dalam dunia berlangsung dalam melulu karena kehendak Allah, dari hal-hal yang paling besar sampai yang paling kecil; (2) Berdasarkan Kejadian 1:26, manusia adalah: makhluk rasional, tuan atas segala makhluk lain yang wajib memanfaatkan segalanya dengan panggilan ilahi yang berkaitan dengan setiap jenis ciptaan, dan makhluk yang wajib mencerminkan gambar Allah di dalam dirinya. Dalam manusia yang diciptakan segambar dengan Allah terdapat kebutuhan untuk: hidup, menggangap dirinya makhluk yang berharga, mengetahui dunia sekitarnya, memahami hal-hal yang ia ketahui, hidup merdeka, kesempatan hidup secara aktif memanfaatkan segala bakat dan tenaga, memiliki harta benda yang cukup, hidup aman, dihargai dan dihormati, kemampuan menyampaikan gagasannya secara fasih dan jelas kepada sesamanya, ingin disukai orang lain, dan menikmati berkat Allah; (3) Iman mistis, yaitu usaha mengamalkan iman sejelas mungkin ketimbang menjelaskannya dengan teliti, karena dari usaha menjelaskan dengan teliti inilah tumbuh persengketaan antara kelompok Kristen yang mengklaim Allah sebagai Tuhan mereka saja; (4) Gereja, yaitu persekutuan orang yang percaya bukan hanya dengan pengakuan lisan saja, melainkan dengan pengakuan tingkah lakunya; (5) Disiplin, yang berarti hidup dalam persekutun Kristen, yang adalah juga pegalaman belajar, karena di dalamnya ada ujian dari rekan seiman dengan harapan setiap orang akan hidup lebih konsekuen sesuai dengan ukuran Injil; (6) Alkitab, perlu dipelajari karena di dalamnya terdapat penyataan Allah kepada manusia.

Kedua, pendidikan yang didasari pada pengalaman pribadi. Dalam pengalamannya sebagai seorang anak di sekolah dan seorang dewasa yang berada dipengungsian, meninggalkan tanah airnya karena penindasan, Comenius ingin memperbaharui masyarakat dengan jalan memperbaharui pendidikan di sekolah, supaya orang dewasa tidak perlu lagi mengungsi dari tanah airnya sebagai hasil penindasan keagamaan. Oleh sebab itu bagi Comenius persekolahan hendaknya menjadi peluang belajar yang menarik dan bukan pengalaman buruk yang cenderung mematikan hasrat belajar diantara kaum muda.

Ketiga, pendidikan yang didasari pada pemikiran analogis, yaitu pendidikan berdasarkan irama proses alamiah dan gaya bertindak seorang petani ataupun seorang ahli dalam bidang pertukangan.

Berdasarkan ketiga pokok dasar itu, Comenius memaparkan enam isu abadi di bidang pendidikan agama Kristen yang mencakup “tujuh sekolah”, yaitu: sekolah Kelahiran: berkaitan dengan orangtua sendiri, Sekolah Bayi: berkaitan dengan orangtua dan anak balita, Sekolah Kanak-kanak: berkaitan dengan sekolah dasar, Sekolah Remaja: berkaitan dengan SMP/SMA, Sekolah Pemuda: berkaitan dengan taraf akademi/perguruan tinggi, Sekolah Orang Dewasa: sebagai refleksi atas pekerjaan atau kehidupan dalam masyarakat, dan Sekolah Lanjut Usia: pengalaman belajar bagi yang lanjut usia.

Masing-masing kurikulum pada ketujuh sekolah tersebut berporos pada tiga macam pengalaman yang menghasilkan kesalehan, kebajikan dan pengetahuan/ pengertian. Pokok yang sama diajarkan pada setiap tingkat, yaitu Iman Kristen. Tetapi ruang lingkup dan kesulitannya semakin majemuk sesuai dengan umur pelajar yang berbeda.

Pengalaman belajar pada Sekolah Dewasa dan Sekolah Lanjut Usia masih harus dijernihkan dalam “tiga sekolah” lagi, yaitu: Kolese Terang (Dewan Para Sarjana se-Dunia), Mahkamah Perdamaian (semacam PBB) dan Konsistori Gereja (semacam Dewan Gereja-gereja se-Dunia).

Terdapat empat pengajar pokok dalam pendidikan, yaituAllah sendiri, orangtua, guru, gereja dan masyarakat persekutuan Kristen.

Refleksi Pemikiran PAK Comenius Bagi  Pendidikan Kristen di Indonesia

Pokok-pokok pikiran Comenius di Indonesia masa kini sangat perlu digali kembali. Terkait dengan istilah pendidikan agama Kristen yang semakin menyempit akhir-akhir ini di kalangan pelajar orang- orang Kristen (gereja, keluarga dan masyarakat), yang hanya memahami istilah PAK pada konteks pendidikan formal saja, maka pemikiran Comenius tentang istilah PAK yang sangat luas dari yang kebanyakan kita pahami sebelumnya, harus segera digali kembali, dimulai dari kalangan orangtua, rohaniawan (gereja) dan pendidik Kristen (guru dan dosen PAK). Penggaliannya dapat dilakukan melalui, khotbah-khotbah atau pendalaman Alkitab di gereja, seminar- seminar pendidikan agama Kristen, maupun dalam diskusi kelas para mahasiswa seminari.

Tujuannya supaya kita banyak belajar dari informasi yang telah ada melalui pikiran yang kritis dan evaluatif, demi terciptanya pemahaman istilah PAK yang luas dan demi menemukan teori PAK yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam konteks budaya Indonesia.

Melihat pokok PAK dari kemampuan pikiran Comenius yang melihat masalah-masalah abadi di bidang pendidikan/pendidikan agama Kristen, pemikiran Comenius ini adalah solusi untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang sangat kompleks terjadi masa kini secara umum di Indonesia, dan secara khusus di dalam gereja.
Hal penting untuk motivasi yang dapat diterapkan dari hasil pemikiran Comenius ini dalam pelayanan gereja Tuhan, adalah bahwa masalah utama PAK masa kini bukanlah masalah kekurangan dana, teologi dan teknologi (seperti yang diperbincangkan dalam banyak diskusi dan seminar), tetapi pada masalah pendidik yang ditantang mampu melihat pelayanan pendidikan sebagai keutuhan yang mencakup pertumbuhan manusia sebelum kelahirannya sampai pada titik wafatnya.

DAFTAR RUJUKAN

Boehlke, Robert 1991 S e j a r a h Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (I). Jakarta,
BPK Gunung Mulia 1997 S e j a r a h Perkembangan dan Praktek Pendidikan Agama Kristen (II). Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Comenius, Jhon Amos. 1986
Comenius’s Pampaediaor Universal Education. Trans. A.M. O. Dobbie. Dover: Buckland.
Dobinson, C.H. (Ed). 1970 Comenius and the Contemporery Education. Hamburg: UNESCO Institute for Education.
Flanagan, Frank M. 2006 G r e a t e s t
Educators Ever. London: Continuum. Limiti, Giaulina. 2003 Chronolgy of the Life and Work of Jan Amos
Comenius.
Reed, James, Ronnie Prevost 1993 A History of Christian Education. Broadman & Holman Publishers