{"id":1272,"date":"2018-11-22T09:18:19","date_gmt":"2018-11-22T02:18:19","guid":{"rendered":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1272"},"modified":"2019-08-07T09:59:25","modified_gmt":"2019-08-07T02:59:25","slug":"dosen-teologi-sebagai-the-life-model","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1272","title":{"rendered":"Dosen Teologi Sebagai \u201cThe Life Model\u201d"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section bb_built=&#8221;1&#8243;][et_pb_row][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;3.3.1&#8243;]<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\" align=\"center\">Penuli: Junihot Simanjuntak, M.Pd.K., Dosen tetap S1 PAK STT Kharisma<\/p>\n<p align=\"center\">\n<p align=\"center\"><b><span lang=\"EN-US\">Pengantar<\/span><\/b><\/p>\n<p>Tujuan Allah yang paling tinggi atas semua orang-orang Kristen adalah untuk mengasihi Dia, memuliakan Dia dan menjadi seperti Yesus Kristus. Pengajaran menyeluruh Alkitab, sebagaimana terlihat dalam kutipan teks pendek yang spesifik, mengkonfirmasikan kebenaran ini. Tujuan yang menakjubkan ini tercapai melalui suatu proses pembentukan spiritual yang dilakukan oleh para\u00a0 pendidik-pendidik teologi.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Oleh sebab itu pendidikan teologi memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan masa depan para pemimpin Kristen yang sedang menerima pelatihan yang terbaik untuk melakukan pelayanan rohani. Perubahan yang terus-menerus, teruji dan konstruktif adalah tugas para pendidik-pendidik Teologi yang sangat penting, mengingat tugasnya yang begitu sentral dalam pelayanan pembentukan para pemimpin-pemimpin Kristen yang terlatih, yaitu mereka yang mengabdikan diri sebagai hamba gereja.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a> Banyak orang di dalam pendidikan teologi memahami bahwa pekerjaan mereka dihubungkan dengan komunitas-komunitas religius yang spesifik. Kebanyakan para siswa di dalam sekolah-sekolah seminari atau teologi sedang dilatih atau disiapkan\u00a0 untuk menjadi pendeta di gereja. Dari zaman Perjanjian Baru, gereja selalu mengharapkan kepemimpinan dengan moral yang patut dicontoh, atau sebagai urutan pertama yang dituliskan, \u201cuntuk menghiasi Injil dengan kehidupan yang kudus.\u201d<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a><\/p>\n<p>Oleh sebab itu tidaklah salah jika dalam makalah ini saya sebutkan dosen-dosen teologi sebagai\u00a0 \u201cThe Life Model\u201d dari siswa-siswa yang datang belajar firman Tuhan kepadanya. Istilah \u201cThe Life Model\u201d yang saya maksudkan adalah dosen-dosen teologi yang bertugas mengajarkan kebenaran-kebanaran Alkitab dan yang sekaligus juga menerapkannya. Dosen-dosen teologi sebagai The Life Model yang memberdayakan siswa-siswanya untuk hidup dalam pelekatan kasih Allah sehingga\u00a0 panggilan kehambaan mereka tidak terhambat dalam perjalanan menuju keutuhan. Hal itu tercapai karena para dosen teologi dalam menjalankan tugas panggilan kehambaannya selalu hidup dari hati yang diberikan oleh Yesus. Sebagaimana Dr. B.S. Sidjabat menghimba supaya kita jangan hanya membawa peserta didik memahami \u201cteori pembentukan\u201d Kitab Suci, tetapi juga mendorong mereka mengembangkan keterampilan penafsiran (hermeneutika) dan eksegesa.Yang lebih penting ialah bahwa melalui studi biblika seharusnya peserta didik dibimbing oleh pengajar untuk lebih mengenal siapa Allah Tritunggal \u2013 Bapa, Anak dan Roh Kudus. Keseluruhan Alkitab mengajarkan kepada kita pribadi Allah yang demikian.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/p>\n<p align=\"center\"><b>\u201cThe Life Model\u201d dalam Kurikulum<\/b><\/p>\n<p>Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Setiap praktik pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, apakah berkenaan dengan penguasaan pengetahuan, pengembangan pribadi, kemampuan sosial, ataupun kemampuan bekerja. Untuk menyampaikan bahan pelajaran, ataupun mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan metode penyampaian serta alat-alat penilaian tertentu pula. Untuk menilai hasil dan proses pendidikan, juga diperlukan cara-cara dan alat-alat penilaian tertentu pula. Keempat hal tersebut, yaitu tujuan, bahan ajar, metode-alat, dan penilaian merupakan komponen-komponen utama kurikulum. Dengan berpedoman kepada kurikulum, interaksi pendidikan antara guru\/dosen dan siswa berlangsung.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Kunci utama dalam pengembangan kurikulum bidang pendidikan dengan cita-cita yang tinggi dengan hasil-hasil yang secara efektif adalah perlunya <i>memberi studi yang serius kepada konteks<\/i>. Konteks yang dimaksudkan adalah \u2018latar belakang\u2019 tempat dan keadaan yang melingkupi suatu tindakan atau peristiwa terjadinya proses belajar-mengajar.\u00a0 Di dalamnya termasuk pertimbangan lingkungan di mana kurikulum itu sedang diuji dan dikembangkan. Adapun unsur-unsur dasar dari konteks adalah <i>waktu<\/i> dan <i>ruang<\/i>. Studi waktu dalam hubungan dengan konteks dari suatu kurikulum mengacu pada pertanyaan tentang kaitannya kepada waktu yang ada. Kurikulum kita harus ada kaitannya ke konteks masa kini.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a><\/p>\n<p>Dalam pendidikan Kristen diyakin<span lang=\"EN-GB\">i<\/span> bahwa Allah adalah guru yang terakhir dan bahwa Ia juga terlibat dalam menyusun seluruh kurikulum kehidupan. Pemahaman ini menyiratkan satu keterbukaan dan harapan kepada hadirat dan pekerjaan dari Roh Kudus di dalam misteri Allah yang memasukkan pengajaran isi hidup. Oleh karena itu\u00a0 para guru harus berlatih kepedulian dan kerajinan di dalam bidang-bidang kurikulum yang kelihatan, kurikulum yang tersembunyi, dan kurikulum yang diabaikan.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a><\/p>\n<p align=\"center\"><b>\u201cThe Life Model\u201d dalam Kurikulum <\/b><b><span lang=\"EN-GB\">Eksplisit<\/span><\/b><\/p>\n<p>Kurikulum yang <span lang=\"EN-GB\">eksplisit (<\/span>yang tampak atau yang kelihatan<span lang=\"EN-GB\">)<\/span> secara umum terdiri dari bahan-bahan pelajaran yang diterbitkan atau hasil cetakan, atau gambaran-gambaran yang dinyatakan dalam suatu katalog atau silabus.<\/p>\n<p>Dalam upaya menjadikan dosen teologi sebagai \u201cThe Life Model\u201d bagi para peserta didiknya, maka kurikulum yang yang kelihatan secara umum dalam katalog atau syllabus, diharapkan mampu \u2018memperlihatkan gambaran pengalaman belajar (learning experiences) yang akan ditempuh oleh peserta didik. Demi efektifitas dan efisiensi serta relevansi pelayanan lembaga pendidikan teologi kita, masalah kurikulum dan pengajaran harus terus kita perhatikan.\u2019<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p><span lang=\"EN-GB\">Dalam usaha memenuhi efektifitas dan efisiensi serta relevansi kurikulum pendidikan teologi, sudah seharusnya dosen teologi memikirkan kurikulum eksplisit yang sesuai dengan konteks, isi dan person. Untuk memenuhi ketiga aspek tersebut dosen teologi sebagai \u201cThe Life Model\u201d harus cakap menggali potensinya dan mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum pendidikan teologi. Salah satu dari ilmu-ilmu sosial yang sangat tepat di integrasikan ke dalam kurikulum pendidikan teologi adalah antropologi budaya.\u00a0 Karena antropologi budaya adalah <\/span><span lang=\"EN-US\">ilmu yang hendak memberi jawaban mengenai pertanyan-pertanyaan yang berhubungan dengan manusia sebagai mahluk sosial yang hidup dalam masyarakatnya. Supaya terbangun komunikasi yang baik dalam pelayanan maka kita <\/span><span lang=\"EN-GB\">harus<\/span><span lang=\"EN-US\"> dapat membangun konsep antropologi budaya yang jelas. Yaitu kemampuan memisahkan budaya dari masyarakat dalam satu kesatuan. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan masyarakat adalah manusia yang hidup berkelompok. <a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a><\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-GB\">Paul G. Hiebert mengemukakan <\/span>dua alasan mendasar mengapa orang Kristen perlu belajar ilmu antropologi<span lang=\"EN-GB\"> budaya<\/span>: pertama, karena kita meski adalah warga kerajaan Surga namun kita juga saat ini masih menyandang status kewarga negaraan dunia ini. Kedua, karena kita mempunyai tugas dari Allah yang sangat sentral, yaitu untuk membuat Injil dapat dengan mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dunia yang kontemporer.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn11\" name=\"_ftnref11\">[11]<\/a><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-GB\">Bagi saya sendiri kepentingan kita mempelajari budaya Indonesia dan mengintegrasikannya ke dalam pendidikan teologi adalah supaya orang Kristen Indonesia itu sendiri memiliki kepribadian yang lengkap, yaitu kepribadian yang benar-benar mampu menghayati iman Kristennya secara gerejawi dan sekaligus juga mampu menemukan pengertian dan penghayatan sebagai seorang Indonesia yang terikat dengan budayanya.<\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-GB\">Gagalnya dosen-dosen teologi sebagai \u201cThe Life Model\u201d bagi para peserta didiknya, karena ia hanya dapat melanjutkan \u201ckekeliruan\u201d orang-orang Barat yang telah menyusupkan pemahaman fragmentatif dari zaman Pencerahan yang bersifat non Kristen tentang realitas ke tengah bangsa-bangsa non Barat<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn12\" name=\"_ftnref12\">[12]<\/a> dalam kurikulum eksplisitnya.<\/span><\/p>\n<p>Apa yang menjadi dasar pemikiran <span lang=\"EN-GB\">para dosen <\/span>untuk mendalami konteks pengembangan kurikulum?\u00a0 Lal Senanayake memberikan empat alasan, yaitu:<i><span lang=\"EN-US\">pertama<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">, pengembangan <\/span>k<span lang=\"EN-US\">urikulum <\/span>dimaksudkan untuk menciptakan pendidikan teologi yang relevan dengan waktu dan tempat. <span lang=\"EN-US\">Ini akan mendorong pengembangan dari \u2018kurikulum <\/span>kontektualisasi<span lang=\"EN-US\">\u2018 ketimbang <\/span>menggunakan <span lang=\"EN-US\">kurikulum barang impor dari tempat lain<\/span>. <span lang=\"EN-US\">Me<\/span>skipun kurikulum yang kita impor tersebut<span lang=\"EN-US\"> baik sekali<\/span>, tetapi itu<span lang=\"EN-US\"> tidak <\/span>akan <span lang=\"EN-US\">bertalian <\/span>dengan <span lang=\"EN-US\">kebutuhan-kebutuhan yang riil dari para <\/span>siswa<span lang=\"EN-US\">; <\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-US\"><i>Kedua,<\/i> pengembangan <\/span>k<span lang=\"EN-US\">urikulum <\/span>akan mengaitkan konteks prospek para peserta pelatihan.\u00a0 Ini akan membantu<span lang=\"EN-US\"> menilai pengetahuan <\/span>para siswa peserta pelatihan<span lang=\"EN-US\">yang umum itu dalam tiga bidang: <\/span>pengetahuan<span lang=\"EN-US\"> dasar injili, <\/span>pengetahuan<span lang=\"EN-US\"> umum di dalam bidang-bidang dari sejarah, geografi dan isu-isu zaman ini, dan <\/span>pengetahuan dasar <span lang=\"EN-US\">matematik<\/span>a<span lang=\"EN-US\">. Hal ini <\/span>akan menjadi dasar para<span lang=\"EN-US\"> panitia untuk menempatkan para siswa menurut kinerja mereka.<\/span><\/p>\n<p><i><span lang=\"EN-US\">Ketiga<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">, kurikulum <\/span>berhubungan<span lang=\"EN-US\"> dengan <\/span>potensi kebutuhan-kebutuhan. Dengan k<span lang=\"EN-US\">onteks kita mulai <\/span>mampu melihat<span lang=\"EN-US\"> suatu <\/span>ruang yang<span lang=\"EN-US\"> kompleks dan yang sangat luas. Dengan demikian, kurikulum <\/span>tidak <span lang=\"EN-US\">hanya <\/span>dituntu bersifat <span lang=\"EN-US\">reaktif<\/span> saja<span lang=\"EN-US\">, tetapi juga <\/span>harus <span lang=\"EN-US\">proaktif di dalam <\/span>ruang dan waktu.<\/p>\n<p><span lang=\"EN-GB\"><i>Keempat<\/i>, k<\/span>onteks akan melihat l<span lang=\"EN-US\">apisan-lapisan <\/span>dari kurikuler. Dengan k<span lang=\"EN-US\">onteks kita<\/span>akan me<span lang=\"EN-US\">lihat suatu <\/span>ladang yang <span lang=\"EN-US\">kompleks dan yang sangat luas. <\/span>Dengan melihat<span lang=\"EN-US\">dinamika dari ruang<\/span> <span lang=\"EN-US\">dan waktu <\/span>dan <span lang=\"EN-US\">lapisan-lapisan lain<\/span>, kita akan mampu membentuk sebuah kurikum yang relevan. Lapisan-lapisan dari kurikuler itu sendiri adalah: <span lang=\"EN-US\">konteks cendekiawan, konteks church\/denomina<\/span>si<span lang=\"EN-US\">, <\/span>konteks<span lang=\"EN-US\"> kelembagaan, konteks <\/span>perancang <span lang=\"EN-US\">kurikulum, konteks global, konteks nasional dan<\/span> <span lang=\"EN-US\">konteks rohani.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn13\" name=\"_ftnref13\">[13]<\/a><\/span><\/p>\n<p><span lang=\"EN-US\">Disamping penyusunan dan pengembangan kurikulum eksplisit yang mempertimbangkan aspek antropologi budaya di mana pendidikan teologi bersangkutan berdiri, hal lain yang tidak boleh kita abaikan adalah perlunya pendekatan akademik yang berorientasi kepada kebutuhan di lapangan pelayanan para peserta didik. Dr. B.S. Sidjabat mengatakan bahwa dalam pendidikan teologi tugas para guru atau dosen tidak hanya mentrasfer isi buku teks teologi \u2013 lazimnya dinamakan, biblika, sistimatika, sejarah, apologetika \u2013 kepada peserta didiknya. Jika demikian tekanannya, berarti guru atau dosen yang bersangkutan memandang teologi sebagai disiplin ilmu (<i>subject matter<\/i>) belaka, yang sering \u201ckaku\u201d dan apalagi mungkin <i>imported<\/i> sifatnya. Saya kira teologi bukan sebagai disiplin ilmu atau \u201csubject matter\u201d semata-mata. Teologi juga sebagai aktivitas, yakni perbuatan atau <i>the doing of theology<\/i>. Artinya, jika seorang guru atau dosen mengajarkan teologi sesungguhnya ia harus sadar sedang membantu orang lain memahami cara berteologi yang benar. Melalui belajar teologi peserta didik diperlengkapi dengan pengetahuan, pemahaman, metodologi atau pendekatan berteologi (Bochmuel, 1987). Mereka didorong untuk menghasilkan \u201cteologi reflections\u201d yang tentu tidak sama ke dalamannya diantara setiap peserta didik. Bukankah yang kita pelajari dari buku teks teologi itu merupakan \u201cteologi reflections\u201d dari pengarang (teolog) selama jangka waktu tertentu? Bukankah pergumulan dan latar belakang pemikir dan kedalaman spritualitas mereka berbeda dengan kita? Menurut hemat saya, melalui pendidikan teologi yang kita kelola peserta didik haruslah diperkaya dengan wawasan-wawasan teologis yang benar dalam relasi dengan Allah, firman Tuhan (Kitab Suci), gereja, dan tentang dunia (konteks).<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn14\" name=\"_ftnref14\">[14]<\/a><\/span><\/p>\n<p align=\"center\"><b>\u201cThe Life Model\u201d dalam Kurikulum <\/b><b><span lang=\"EN-GB\">Implisit<\/span><\/b><\/p>\n<p>Dosen teologi sebagai \u201cThe Life Model\u201d hadir di tengah-tengah peserta didiknya, selain mengajarkan kebenaran-kebenaran Alkitab melalui kurikulum eksplisit, juga dibutuhkan untuk membantu peserta didiknya untuk memberdayakan mereka untuk hidup dalampelekatan kasih sehingga mereka tidak terhambat dalam perjalanan mereka menuju keutuhan di dalam Kristus. Karena ada begitu banyak alasan-alasan yang melatar belakangi para peserta didik untuk datang belajar teologi, seperti keadaan yang menghimpitnya di tengah-tengah komunitasnya, kehidupan yang hancur, masa lalu yang telah melumpuhkan hidupnya dan lain sebagainya.\u00a0 Dengan menjadi \u201cThe Life Model\u201d bagi peserta didiknya, seorang dosen yang tulus dibutuhkan untuk membangun kelompok-kelompok siswa yang datang dari latar belakang kehidupan yang \u201cgelap\u201d agar bertumbuh dalam penebusan Allah, hidup dari hati yang diberikan Yesus.<\/p>\n<p>Tetapi terkadang para peserta didik yang datang dari latar belakang kehidupan yang \u201cgelap\u201d tersebut bisa terluka untuk yang kedua kalinya, tatkala ia melihat dosennya memberikan \u201cThe Life Model\u201d yang bukan Kristen di tengah-tengah ia berproses di dalam pendidikan teologi. \u00a0Mengapa hal ini terjadi? Selama saya mengikuti\u00a0 kuliah \u201cPendidikan Teologi\u201d, saya mengamati hampir 90% tugas refleksi dan diskusi peserta didik menyoroti seputar kurikulum implisit (<i>hidden curiculum<\/i>) dan lebih dari 50%\u00a0 materi perkuliahan tertuju kepada kurikulum implisit. Berdasarkan hasil diskusi maupun berdasarkan hasil studi saya dari materi kuliah tersebut,\u00a0 saya menyimpulkan bahwa timbulnya luka baru peserta didik dalam pendidikan teologi tidak lain di akibatkan rendahnya mutu kurikulum implisit yang di ajarkan oleh dosen teologi kepada peserta didiknya. Seperti halnya kebiasaan dosen mengajar tanpa doa atau tanpa mengakui kebutuhan untuk diarahkan oleh Roh Kudus dalam pengajaran kita. Dengan mengajar seperti itu maka kita mengambil resiko untuk mengajarkan mahasiswa bahwa Allah tidak peduli mengenai apa yang kita ajarkan, atau bahkan Allah tidak hadir di ruang-ruang kelas diperguruan tinggi teologi. Jika ini yang menjadi muatan kurikulum implisit dosen teologi, bukankah dosen telah membuat kerusakan yang lebih parah dan menimbulkan kesakitan yang lebih ngeri dari keadaan masa lalu siswanya di luar Kristus?<\/p>\n<p>Perry Shaw mengemukakan, bahwa sekalipun kita lebih sering memberi perhatian kepada perencanaan katalog dan sillabus-sillabus (baca: kurikulum eksplisit), namun katalog dan sillabus-sillabus itu pada umumnya hanya mempunyai pengaruh yang sangat sedikit saja kepada para mahasiswa kita. Yang pengaruhnya besar justru adalah kurikulum implisit \u2013 dimensi-dimensi sosiologis dan psikologis yang sangat kuat dari pendidikan, yang biasanya meraba tanpa diajarkan secara sengaja.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn15\" name=\"_ftnref15\">[15]<\/a> Kurikulum implisit itu tak tampak namun sesungguhnya lebih kuat berpengaruh daripada kurikulum eksplisit oleh karena pesan yang kita komunikasikan melalui bagaimana kita mengajar meresap jauh ke dalam sukma mahasiswa dan mempengaruhi sikap, motivasi, dan tingkah laku mereka. Dampak seperti ini jarang tercapai hanya melalui kata-kata.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn16\" name=\"_ftnref16\">[16]<\/a><\/p>\n<p>Dalam usaha pengembangan kurikulum implisit untuk mewujudkan dosen teologi yang \u201cThe Life Model\u201d adalah menarik jika kita sejenak menyimak gagasan-gagasan Robert Pazmino yang mengemukakan bahwa k<span lang=\"EN-US\">urikulum <\/span>implisit adalah bagian yang integral dengan kurikulm eksplisit. Kurikulum implisit <span lang=\"EN-US\">menunjukkan tanggung jawab <\/span>seorang g<span lang=\"EN-US\">uru Kristen <\/span>dari<span lang=\"EN-US\"> kurikulum ekspli<\/span>s<span lang=\"EN-US\">it<\/span>nya<span lang=\"EN-US\">. <\/span>Tanggungjawab mengenali pekerjaan yang unik dari Roh Kudus <span lang=\"EN-US\">di dalam <\/span>mem<span lang=\"EN-US\">buka peluang <\/span>bagi<span lang=\"EN-US\">orang-orang untuk <\/span>menginterkoneksikan iman dengan hidup yang menandai terjadinya pengajaran dalam sebuah komunitas iman. <span lang=\"EN-US\">Guru Kristen <\/span>harus terbuka kepada gerak dan pekerjaan<span lang=\"EN-US\"> Roh Kudus melalui kurikulum <\/span>implisit<span lang=\"EN-US\"> dan<\/span>menciptakan <span lang=\"EN-US\">ruang<\/span> <span lang=\"EN-US\">untuk <\/span>membangun <span lang=\"EN-US\">aktivitas yang ekspresif<\/span>, yang mana hal ini<span lang=\"EN-US\">terlalu sering <\/span>di<span lang=\"EN-US\">lalaikan <\/span>dalam <span lang=\"EN-US\">sasaran kurikulum <\/span>eksplisit<span lang=\"EN-US\">. <\/span>Seharusnya kurikulum eksplisit disusun dengan mempertimbangkan hal-hal yang menyenangkan yang dapat digali dari isi, dan kurikulum implisit disusun dengan mempertimbangkan hal-hal yang menyenangkan bagi orang-orang dan konteks<\/p>\n<p>Lebih lanjut Pazmino mengatakan bahwa ada tiga hal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengembangkan kurikulum implisit, yaitu: <i>pertama<\/i>, pengelolaan kelas yang mampu menyeimbangkan antara disiplin dengan kreativitas. Disiplin seharusnya dijadikan sebagai: petunjuk bagi siswa dalam bertingkah laku, mengembangkan aktivitas pelajaran yang sesuai dengan kreatifitas guru dan siswa, mengoreksi tingkah laku yang tidak sesuai tanpa penolakan dari orang yang melakukan tingkah laku yang tidak sesuai. <i>Kedua<\/i>, gaya m<span lang=\"EN-US\">engajar dan <\/span>b<span lang=\"EN-US\">elajar<\/span> yang mencerminkan karakter Kristus. Gaya belajar dan mengajar yang seperti ini dikenali dalam empat gaya yang khusus: <span lang=\"EN-US\">(1) <\/span>gaya belajar-mengajar <span lang=\"EN-US\">yang inovatif,<\/span>merasakan<span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span>meraba<span lang=\"EN-US\">, di<\/span>v<span lang=\"EN-US\">ergers \u2013<\/span> <span lang=\"EN-US\">orang-orang ini mempelajari dengan mendengarkan dan membagi ide-ide; (2) <\/span>gaya belajar-mengajar kesadaran<span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span>umum<span lang=\"EN-US\">, <\/span>kesadaran<span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span>berpikir<span lang=\"EN-US\">, convergers-orang-orang ini senang membangun sesuatu yang bersifat percobaan; (3)<\/span> gaya balajar-mengajar analitik, intuisi <span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span> berpikir<span lang=\"EN-US\">, <\/span>mengasimilasi<span lang=\"EN-US\">-ini orang-orang <\/span>yang <span lang=\"EN-US\">senang belajar dengan mendengarkan ceramah kuliah guru; (4)<\/span>gaya belajar-mengajar <span lang=\"EN-US\">dinamis, intui<\/span>si<span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span>merasakan<span lang=\"EN-US\">, <\/span>mengakomodasi <span lang=\"EN-US\">\u2013<\/span> <span lang=\"EN-US\">ini orang-orang <\/span>yang <span lang=\"EN-US\">senang mengambil apa yang mereka sudah pelajari dan menggunakan imajinasi dan kecurigaan; keingin-tahuan mereka membangun sesuatu <\/span>yang <span lang=\"EN-US\">baru dan bersifat percobaan daripadanya<\/span>. <i>Ketiga<\/i>, gaya k<span lang=\"EN-US\">reativitas<\/span> yang membuka kita<span lang=\"EN-US\">kepada wahyu Allah di dalam gambar Allah<\/span>,<span lang=\"EN-US\"> ketika kita <\/span>mengungkap misteri<span lang=\"EN-US\">, keajaiban, kegembiraan, dan perasaan kagum di dalam hidup kita sebagai guru dan siswa <\/span>yang <span lang=\"EN-US\">sedang dalam proses pengajaran. Semua orang mempunyai kemampuan-kemampuan kreatif <\/span>yang dapat diung<span lang=\"EN-US\">kapkan melalui pengajaran. Kreativitas mengambil bermacam wujud-wujud dan setiap orang mempunyai beberapa kapasitas yang imajinatif <\/span>yang <span lang=\"EN-US\">dapat digunakan untuk Kemuliaan Allah dan untuk kesenangan dari orang lain melalui <\/span>belajar dan mengajar<span lang=\"EN-US\">.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn17\" name=\"_ftnref17\">[17]<\/a> <\/span><\/p>\n<p align=\"center\"><b>Penutup<\/b><\/p>\n<p>Mengakhiri gagasan saya dalam makalah yang berjudul \u201cDosen Teologi Sebagai \u2018The Life Model\u2019\u201d ini saya menggariskan dua pemikiran terpenting:<\/p>\n<p>Pertama, kegagalan dosen sebagai \u201cThe Life Model\u201d bagi para peserta didiknya bermula dari motif pendirian pendidikan teologi yang salah alasan menghadirkan pendidikan teologi yang didirikannya itu,\u00a0 yang kemudian mendorongnya mencari jawaban kurikulum yang dibutuhkan dalam pendidikan teologi, yang mengambil jalan \u201cinstant\u201d dengan <span lang=\"EN-US\">mengimpor kurikulum dari luar konteks\u00a0 institusi<\/span> teologi tersebut<span lang=\"EN-US\">. suatu kurikulum yang <\/span>tidak <span lang=\"EN-US\">berkait<\/span>an<span lang=\"EN-US\"> dengan<\/span><span lang=\"EN-US\">institusi<\/span>nya<span lang=\"EN-US\">, <\/span>isi, konteks dan orang-orang yang dilatihnya.<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn18\" name=\"_ftnref18\">[18]<\/a><\/p>\n<p>Kedua, kegagalan dosen teologi merumuskan panggilannya. Panggilan seorang dosen teologi sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan teologi dan pengajaran. Sebagaiman dikuti Dr. B.S. Sidjabat dari Kent L. Johnson dalam tulisannya Called to Teach (1984) yang menegaskan bahwa salah satu unsur penting yang harus dimiliki oleh setiap guru adalah panggilan secara jelas dari Allah. Dengan panggilan yang jelas guru atau dosen dapat tahu soal \u201cmengapa\u201d dan \u201cuntuk apa\u201d dari tugas-tugas rutinnya dalam membimbing orang lain. Dia akan berusaha untuk tahu dan mampu bagaimana menuntun orang lain bertumbuh ke arah kedewasaan iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, seperti dirinya sendiri.\u00a0 Dia pun tahu perlengkapan pengetahuan apa yang diperlukan bagi pertumbuhan mereka yang dibimbingnya. Dia juga tahu bahwa ia harus memberi layanan yang terbaik dan selalu berusaha demikian (the pursuit of excellence). Memberi pelayanan yang terbaik baginya adalah sumber motivasi yang andal dan tinggi bobotnya bagi setiap guru.<\/p>\n<p>Dilihat dari persfektif Alkitab, panggilan seorang guru dalam konteks pendidikan teologi bukanlah sekedar mengajarkan bahan yang ditugaskan baginya. Sama sekali tidak begitu. Guru hadir dan bekerja sebagai pendidik. Artinya, dia didesak menjadi segala-galanya bagi peserta didiknya! Para peserta didik mengharapkan dirinya sebagai penunjuk jalan, pengarah, pemberi informasi, motivator, fasilitator, bahkan bagaimana dikemukakan oleh Rasul Paulus bertindak sebagai \u201cbapa dan ibu\u201d bagi mereka yang dilayani (1 Tesalonika 2:7-11). Sebagai pelayan Tuhan, guru dalam konteks pendidikan teologi juga dipanggil berperan sebagai gembala, yang mesti melayani dengan sukarela dan dengan pengorbanan diri (bd. 1 Petrus 5:1-3).<a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftn19\" name=\"_ftnref19\">[19]<\/a><\/p>\n<p>Dengan mempertimbangkan kedua pemikiran tersebut, maka saya menghimbau: kiranya jnganlah ada orang yang berkeinginan menjadi dosen teologi, jika hal itu tidak didasarkan pada panggilan Allah yang jelas. Janganlah kiranya ada orang mendirikan sekolah teologi karena motif \u201cbisnis\u201d. Janganlah kiranya ada orang yang bercita-cita menjadi dosen teologi, karena pekerjaan itu bukanlah cita-cita semata. Tetapi hendaklah kiranhya setiap yang memiliki panggilan keguruan\/kedosenan yang sudah jelas dari Allah menjalankan panggilan keguruannya\/kedosenannya, bertumbuh dalam spritualitas yang sehat, bekerja secara profesional, dan hidup dari \u00a0hati yang telah diberikan oleh Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Saya melihat dasar peletakan kurikulum eksplisit dan implisit dalam usaha pembentukan dosen sebagai \u201cThe Life Model\u201d adalah kesadaran yang sehat bahwa ia sedang bergabung dengan keluarga Allah. Di atas kesadaran yang sehat itu seorang dosen teologi harus membangun pelekatan hubungan melalui <i>\u201cadopsi rohani\u201d<\/i>: membawa peserta didik ke dalam hidupnya untuk menjadi anggota keluarga kekalnya,\u00a0 sebagaimana Paulus sebagai \u201cThe Life Model\u201d bagi orang-orang Korintus, yang menyatakan dengan tegas: \u201cSebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang telah kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku! Justru itulah sebabnya aku mengirimkan kepada kamu Timotius, yang adalah anakku yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan. Ia akan memperingatkan kamu akan hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus, seperti yang telah kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat\u201d (1 Kor. 4:15-17).<\/p>\n<div><\/div>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Dipinjam dari tulisan James G. Friesen dkk., dalam\u00a0 <i>The Life Model: Hidup dari Hati yang Diberikan Yesus (Inti Sari Kehidupan Kristen)<\/i>, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005). Buku ini\u00a0\u00a0 berisikan panduan-panduan praktis bagi para konselor, namun menurut saya \u201cThe Life Model\u201d lebih tepat dikenakan kepada para guru\/dosen teologi, melihat tugasnya bukan hanya mengajarkan pengetahuannya, tetapi juga seluruh hidupnya<span lang=\"EN-GB\"> (<i>Holistic<\/i>)<\/span>. <span lang=\"EN-GB\">Sebagaimana <\/span>Bpk B. S. Sidjabat menegaskan: \u201cLife style para pendidik itu yang terutama mendemonstrasikan kesatuan kata dan perbuatan\u201d (Lihat Strategi Pendidikan, hal. 210).<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> Richard Ikan haring dan Fritz Deininger, \u201c<i>The Challenges and Blessings of Spritual Formation in Theological Education<\/i>\u201d dalam Educating for Tomorrow, (Indiana Polis, U.S.A: Overseas Council International, 2002), hal. 112<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> Manfred Kholl, \u201c<i>Theological Education: What Needs to Be Changed<\/i>\u201d dalam\u00a0 Educating for Tomorrow, (Indiana Polis, U.S.A: Overseas Council International, 2002), hal. 29<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> Richard John Neuhaus (ed.), dalam Theological Education and Moral Formation (Gran Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Company, 1992), hal. ix<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> Bahan kuliah Bpk. Dr. B.S. Sidjabat di Institut Alkitab Ti<span lang=\"EN-US\">ranus Bandung \u2013 kelas pasca sarjana, primo 2009, dalam makalahnya yang berjudul: <i>\u201cPendidikan Teologi: Apa Keunikannya?\u201d<\/i>, halaman 7.<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref6\" name=\"_ftn6\"><span lang=\"EN-US\">[6]<\/span><\/a><span lang=\"EN-US\"> Nana Syaodih Sukmadinata, dalam Pengembangan Kurukulum (Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 3<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref7\" name=\"_ftn7\"><span lang=\"EN-US\">[7]<\/span><\/a> A. N. Lal Senanayake<span lang=\"EN-GB\">, <i>\u201cDeveloping a Culturally Relevant Curriculum for Theological Education<\/i><\/span><i>in Asia<\/i><i><span lang=\"EN-GB\">\u201d<\/span><\/i><span lang=\"EN-GB\"> dalam <\/span><span lang=\"EN-US\">Educating for Tomorrow<\/span><span lang=\"EN-US\">, (Indiana Polis, U.S.A: Overseas Council International, 2002), hal. 67.<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref8\" name=\"_ftn8\"><span lang=\"EN-US\">[8]<\/span><\/a><span lang=\"EN-US\"> Robert W. Pazmino, dalam Principles and Practices of Christian Education (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1992), hal. 93<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref9\" name=\"_ftn9\"><span lang=\"EN-US\">[9]<\/span><\/a><span lang=\"EN-US\"> Bahan Kuliah Bpk. Dr. B.S. Sidjabat di Institut Alkitab Tiranus Bandung \u2013 kelas pasca sarjana,\u00a0 primo 2009, dalam makalahnya yang berjudul: <i>\u201dKurikulum dalam Pendidikan Teologi\u201d<\/i>,\u00a0 hal. 40<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref10\" name=\"_ftn10\"><span lang=\"EN-US\">[10]<\/span><\/a><span lang=\"EN-US\"> T.O. Irohmi (ed.),\u00a0 dalam Pokok-pokok Antropologi Budaya (Jakarta: Gramedia, 1981), hal. xi.<\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref11\" name=\"_ftn11\"><span lang=\"EN-US\">[11]<\/span><\/a><span lang=\"EN-US\"> Paul G. Hiebert, dalam \u00a0Cultural Antropology, Second Edition (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1992), hal. xx <\/span><span lang=\"EN-GB\">\u00a0<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref12\" name=\"_ftn12\"><span lang=\"EN-US\">[12]<\/span><\/a> <span lang=\"EN-US\">Terjemahan makalah Perry W.H dalam <i>\u201cMendidik Menuju Kegagalan, Mendidik Menuju Sukses: Kurikulum Implisit dalam Pendidikan Teologi<\/i><\/span>\u201d, hal. 9. <span lang=\"EN-US\">Makalah ini juga dilengkapi dengan DVD dan menjadi bahan diskusi kuliah dalam program pasca sarjana dalam \u00a0mata kuliah Pendidikan Teologi yang diampu oleh Bpk. Dr. B.S. Sidjabat di Institut Alkitab Tiranus \u2013 Primo 2009.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref13\" name=\"_ftn13\"><span lang=\"EN-US\">[13]<\/span><\/a> Lal Senanayake<span lang=\"EN-GB\">, <i>\u201cDeveloping a Culturally Relevant Curriculum for Theological Education<\/i><\/span><i> in Asia<\/i><i><span lang=\"EN-GB\">\u201d<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">, \u00a0hal. 70-72.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref14\" name=\"_ftn14\"><span lang=\"EN-US\">[14]<\/span><\/a> <span lang=\"EN-US\">Bahan Kuliah Bpk. Dr. B.S. Sidjabat di Institut Alkitab Tiranus Bandung \u2013 kelas pasca sarjana,\u00a0 primo 2009, dalam makalahnya yang berjudul: <i>\u201dPendidikan Teologi: Apa Keunikannya?\u201d<\/i>,\u00a0 hal. 6<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref15\" name=\"_ftn15\"><span lang=\"EN-US\">[15]<\/span><\/a> Pazmino, dalam <span lang=\"EN-US\">Principles and Practices of Christian Education<\/span>,\u00a0 hal. 93.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref16\" name=\"_ftn16\"><span lang=\"EN-US\">[16]<\/span><\/a> <span lang=\"EN-US\">Terjemahan makalah Perry W.H dalam <i>\u201cMendidik Menuju Kegagalan, Mendidik Menuju Sukses: Kurikulum Implisit dalam Pendidikan Teologi<\/i><\/span>\u201d, hal. 2.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref17\" name=\"_ftn17\"><span lang=\"EN-US\">[17]<\/span><\/a> Pazmino, dalam <span lang=\"EN-US\">Principles and Practices of Christian Education<\/span>,\u00a0 hal.104-111.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref18\" name=\"_ftn18\"><span lang=\"EN-US\">[18]<\/span><\/a> Lal Senanayake, <i><span lang=\"EN-GB\">\u201cDeveloping a Culturally Relevant Curriculum for Theological Education<\/span><\/i><i> in Asia<\/i><i><span lang=\"EN-GB\">\u201d<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">, \u00a0hal.<\/span> 66.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><a href=\"http:\/\/localhost\/stt\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=42:dosen-teologi-sebagai-the-life-model&amp;catid=5&amp;Itemid=16#_ftnref19\" name=\"_ftn19\"><span lang=\"EN-US\">[19]<\/span><\/a> <span lang=\"EN-US\">Bahan Kuliah Bpk. Dr. B.S. Sidjabat di Institut Alkitab Tiranus Bandung \u2013 kelas pasca sarjana,\u00a0 primo 2009, dalam makalahnya yang berjudul: <i>\u201d<\/i><\/span><i>Pelaku Pendidikan<\/i><i><span lang=\"EN-US\">\u201d<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">,\u00a0 hal.<\/span> 23-24.<\/p>\n<\/div>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><div class=\"et_pb_row et_pb_row_0 et_pb_row_empty\">\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t<\/div> Penuli: Junihot Simanjuntak, M.Pd.K., Dosen tetap S1 PAK STT Kharisma Pengantar Tujuan Allah yang paling tinggi atas semua orang-orang Kristen adalah untuk mengasihi Dia, memuliakan Dia dan menjadi seperti Yesus Kristus. Pengajaran menyeluruh Alkitab, sebagaimana terlihat dalam kutipan teks pendek yang spesifik, mengkonfirmasikan kebenaran ini. Tujuan yang menakjubkan ini tercapai melalui suatu proses pembentukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-1272","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel_pak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1272","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1272"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1272\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1274,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1272\/revisions\/1274"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}