{"id":1389,"date":"2018-11-23T10:46:35","date_gmt":"2018-11-23T03:46:35","guid":{"rendered":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1389"},"modified":"2019-08-07T10:03:38","modified_gmt":"2019-08-07T03:03:38","slug":"strategi-pembelajaran-kontekstual-suatu-usulan-bagi-pembelajaran-pendidikan-agama-kristen-pak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1389","title":{"rendered":"Strategi Pembelajaran Kontekstual: Suatu Usulan Bagi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section bb_built=&#8221;1&#8243;][et_pb_row][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;3.3.1&#8243;]<\/p>\n<p><strong>Oleh: Nelson Hasibuan, S.Pd.K<\/strong><\/p>\n<p><strong>ABSTRAK:<\/strong><\/p>\n<p>Strategi pembelajaran kontekstual merupakan salah satu strategi pembelajaran yang\u00a0ada pada dunia pendidikan. \u00a0Strategi pembelajaran kontekstual mengasumsikan konteks kehidupan sosial dan budaya merupakan sumber serta media belajar yang penuh makna, orang tidak hanya dapat belajar dari membaca buku dan literatur. Dengan demikian, masalah kehidupan nyata di tengah keluarga, gereja, dan di dalam masyarakat dapat dihadirkan ke dalam proses pembelajaran itu untuk diperbincangkan dan dikemukakan penyelesaiannya sebelum melakukan aksi konkret.\u00a0 \u00a0Konsep dan teori pun dapat dimunculkan melalui konteks budaya. \u00a0Oleh sebab itu guru PAK harus menguasai bahan pembelajaran yang dirancangkan. Sebab tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah pembaharuan hidup, dalam hal ini pembaharuan hidup bukan hanya dari segi kognitif saja yang berubah, namun dalam tingkah laku, cara pandang dan pola pikir juga. \u00a0Kerajaan Allah menjadi prioritas utama Yesus dalam mengajar setiap orang. \u00a0Inilah yang menjadi alasan mengapa Yesus datang ke dunia ini.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci: Pembelajaran, Kontekstual, serta Pendidikan Agama Kristen (PAK)<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Pendahuluan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kokom Komalasari mengatakan mengenai munculnya pembelajaran kontekstual adalah:<\/p>\n<p><em>\u201cDilatar-belakangi oleh rendahnya mutu keluaran\/hasil pembelajaran yang ditandai dengan ketidakmampuan sebagian besar siswa menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara pemanfaatan pengetahuan tersebut pada saat ini dan di kemudian hari dalam kehidupan siswa.\u201d (Komalasari, 2011:1).<\/em><\/p>\n<p>Oleh sebab itu Elaine B. Jhonson menawarkan untuk melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran, yaitu dengan strategi pembelajaran kontekstual atau <em>Contextual Teaching &amp; Learning <\/em>(CTL). Pembelajaran kontekstual menurutnya adalah:<\/p>\n<p><em>\u201cProses pendidikan yang bertujuan untuk menolong siswa melihat arti di dalam bidang pembelajaran dengan\u00a0<\/em><em>menghubungkan materi dengan konteks kehidupan keseharian mereka, konteks kehidupan pribadi, sosial, dan situasi budaya. Proses mengajar harus memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari . . . harus menjadikannya (ide-ide tersebut) milik mereka, dan harus mengerti penerapannya dalam situasi kehidupan nyata mereka.\u201d (Johnson, 2011:31).<\/em><\/p>\n<p>Dari penjelasan di atas berarti pembelajaran\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 disajikan\u00a0\u00a0 oleh\u00a0\u00a0 guru harus sesuai dengan konteks dunia nyata peserta didik, materi pembelajaran harus dihubungkan dengan keseharian peserta didik, agar pengetahuan yang dimilikinya dapat diimplementasikan.\u00a0 \u00a0Serta peserta didik \u00a0perlu \u00a0mengerti \u00a0apa \u00a0makna \u00a0belajar, apa manfaatnya, dalam status apa yang peserta didik pelajari berguna bagi hidupnya nanti. \u00a0Peserta didik mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menanggapinya. \u00a0Dalam upaya itu peserta didik memerlukan guru sebagai pembimbing untuk mengalami sendiri pembelajaran tersebut selama berada di dalam kelas. Yatim Riyanto mengatakan bahwa,\u00a0<em>\u201cbelajar akan lebih bermakna jika anak \u201cmengalami\u201d apa yang dipelajarinya, bukan \u201cmengetahui\u201d-nya.\u201d (Riyanto, 2010:159).<\/em><\/p>\n<p>Mengalami akan lebih baik daripada mengetahui saja, karena dengan mengalami akan ada proses yang dihadapi seperti; berpartisipasi dalam proses pembelajaran, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, serta dapat bekerjasama dengan peserta didik yang lain.<\/p>\n<p>Di antara strategi-strategi pembelajaran \u00a0yang \u00a0ada \u00a0sekarang\u00a0 ini, strategi pembelajaran kontekstual menganjurkan peserta didik menemukan makna yang berkualitas, berkualitas dalam hal ini adalah makna kontekstual, yaitu dengan menghubungkan materi ajar dengan lingkungan personal dan sosialnya. Ini adalah inti dari pembelajaran kontekstual. \u00a0Jhonson menjelaskan pula bahwa \u201ckontekstual\u201d berarti \u201cteralami\u201d oleh siswa.\u201d \u00a0Selanjutnya dijelaskan pula, bahwa;<\/p>\n<p><em>\u201cMaksud dari teralami adalah \u201cbaik dari segi; pola pikir, cara belajar, bagaimana menanggapi lingkungan, mencari solusi dari suatu masalah, dan mencari makna belajar yang sesungguhnya bagi siswa-siswi.\u201d (Johnson, 2011:20).<\/em><\/p>\n<p>Pembelajaran kontekstual tidak hanya menyajikan teori-teori saja melainkan juga membantu peserta didik menemukan makna (pengetahuan) yang sesungguhnya dari apa yang sudah dipelajari dan ini dihubungkan dengan lingkungan personal dan sosial mereka.\u00a0\u00a0 \u00a0Sehingga mereka ditantang berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan suatu masalah. \u00a0Dalam hal ini guru berperan sebagai fasilitator dan mentor.<\/p>\n<p>Komalasari menjelaskan bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cdalam\u00a0 pembelajaran\u00a0 kontekstual guru harus mempertimbangkan kebhinekaan siswa\u201d. (Komalasari, 2011:10).<\/em><\/p>\n<p>Kebhinekaan\u00a0 peserta\u00a0 didik\u00a0 inilah yang akan menjadi pertimbangan untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal.\u00a0\u00a0 \u00a0Peserta \u00a0didik \u00a0akan \u00a0saling\u00a0belajar dan dapat membagikan apa yang didapatkannya kepada teman-temannya. Apabila kebhinekaan peserta didik tidak diperhatikan, maka dalam melakukan penilaian guru membeda-bedakan peserta didik yang pintar dan yang kurang pintar, memberikan penilaian hanya dari hasil ujian saja padahal seharusnya juga dinilai dari sikap dan tingkah lakunya. Pembelajaran kontekstual juga menggunakan penilaian autentik,\u00a0 yang\u00a0 mengakui \u00a0kekhasan sekaligus keluasan dalam pembelajaran, materi\u00a0\u00a0 ajar\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 prestasi\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 dicapai peserta didik. Materi bahasan yang autentik meliputi koran, program radio dan televisi, <em>website<\/em>, dan sebagainya.\u00a0 \u00a0Pembelajaran kontekstual juga memberikan kesempatan kepada \u00a0peserta \u00a0didik \u00a0untuk \u00a0maju \u00a0terus dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.Dalam pembelajaran kontekstual menggunakan\u00a0 konteks\u00a0 yang\u00a0 beragam, yaitu materi pembelajaran yang beragam dan bervariasi yang bertujuan agar pembelajaran kontekstual tercapai dan dapat diimplementasikan dalam dunia nyata, dan peserta didik dapat memecahkan masalah yang dihadapinya, mampu berpikir kritis, serta dapat menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan sehari-hari.Dalam proses belajar mengajar di dalam kelas, harus ada umpan balik antara peserta didik dengan guru pada saat materi ajar disampaikan, juga guru harus mau melibatkan peserta didiknya sehingga dalam pengelolaan kelas berjalan dengan baik. \u00a0Guru juga harus memahami peserta didiknya, menyesuaikan materi pembelajaran dengan kebutuhan mereka agar pengelolaan kelas berjalan dengan baik, akibatnya ada umpan balik dalam pembelajaran.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Strategi dan Pembelajaran<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Untuk menghindarkan salah pengertian dalam jurnal ini, maka akan dijelaskan lebih lanjut mengenai deskripsi yang terdapat dalam judul, yaitu: strategi dan pembelajaran. \u00a0Menurut pendapat Sanjaya mengenai \u201cstrategi\u201d dalam dunia pendidikan diartikan<\/p>\n<p><em>\u201csebagai \u00a0perencanaan \u00a0yang \u00a0berisi\u00a0<\/em><em>tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.\u201d (Sanjaya, 2008:124).<\/em><\/p>\n<ol>\n<li>Sidjabat mengatakan mengenai strategi dalam pembelajaran mengandung arti<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>\u201cbagaimana guru merencanakan kegiatan mengajar (a plan for teaching) sebelum ia melaksanakan tugasnya dengan anak didik.\u201d \u00a0Bagi guru, tidak cukup hanya memilih dan menetapkan strategi mengajar yang akan disampaikan kepada peserta didik. Ketika merencanakan strategi pembelajaran, guru pun harus mempertimbangkan tujuan dari bahan pengajaran, peserta didik yang belajar, fasilitas, ruang, serta waktu belajar. (Sidjabat, 1993:277).<\/em><\/p>\n<p>Sedangkan menurut Yusri Pangabean dan kawan-kawan mengenai pengertian strategi, adalah<\/p>\n<p><em>\u201csiasat, kiat atau taktik yang harus dipikirkan guru untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Siasat, taktik ini akan terlihat melalui rangkaian rencana ataupun pelaksanaan pengajaran yang dipersiapkan guru. Rangkaian\u00a0 rencana\u00a0 itu\u00a0 meliputi\u00a0 bahan ajar,\u00a0\u00a0\u00a0 metode,\u00a0\u00a0 \u00a0pemilihan\u00a0\u00a0 \u00a0media,\u00a0\u00a0 \u00a0serta cara penilaian terhadap hasil proses pembelajaran. Strategi berbeda dengan metode, perbedaannya adalah strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.<\/p>\n<p>Kata \u201cpembelajaran\u201d menurut Yatim Riyanto dengan mengutip pendapat Muhaimin yang mengatakan, bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cPembelajaran adalah usaha membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan e\ufb01sien.\u201d (Riyanto, 2010:131).<\/em><\/p>\n<p>Hal senada dipaparkan Yunus Abidin mengenai pembelajaran, adalah:<\/p>\n<p><em>\u201csebuah proses yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah\u00a0<\/em><em>belajar. Siswa sebagai subjek belajar akan belajar dengan baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan berkesempatan untuk menemukan sendiri.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Dalam bukunya \u201cStrategi, Model, dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2006\u201d, Yusri Pangabean mengutip dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 bab I ketentuan umum, Pasal 1 ayat 20, terkait mengenai pengertian pembelajaran adalah,\u00a0<em>\u201csuatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu\u00a0 \u00a0lingkungan\u00a0 \u00a0belajar. (Panggabean,\u00a0<\/em><em>2007:46).<\/em><\/p>\n<p>Sedangkan Junihot Simanjuntak dalam diktatnya \u201cMedia Pembelajaran PAK\u201d, terkait dengan pembelajaran mengatakan:<\/p>\n<p><em>\u201cpembelajaran lebih menggambarkan usaha\u00a0 pendidik\u00a0 untuk\u00a0 membuat\u00a0 para peserta didik melakukan proses belajar.\u201d (Simanjuntak, 2012:18).<\/em><\/p>\n<p>Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada peserta didiknya.\u00a0 \u00a0Kegiatan belajar\u00a0 hanya\u00a0 akan\u00a0 berhasil\u00a0 jika\u00a0 peserta didik secara aktif mengalami sendiri proses belajar. \u00a0Oleh karena itu dengan berdasar pada penjelasan dari gabungan kedua kata yang telah diuraikan di atas, yakni strategi dan pembelajaran, akan diperoleh suatu istilah apa yang dikenal dengan sebutan \u201cstrategi pembelajaran.\u201d\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan yang dilakukan secara sengaja dan sistematis yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga tercapainya tujuan pembelajaran.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Strategi Pembelajaran Kontekstual<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kata \u201ckonteks\u201d menurut Kamus Besar<\/p>\n<p>Bahasa Indonesia (KBBI) adalah,<\/p>\n<p><em>\u201cSituasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian:\u00a0 \u00a0orang itu harus dilihat sebagai manusia yang utuh dalam kehidupan pribadinya dan masyarakatnya.\u201d Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,\u00a0<\/em><em>(KBBI, 1990:458).<\/em><\/p>\n<p>Sedangkan Jhonson yang mengatakan bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201ckonteks\u201d berasal dari kata kerja Latin contexere yang berarti \u201cmenjalin bersama\u201d. Kata \u201ckonteks\u201d merujuk pada \u201ckeseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan\u201d yang berhubungan dengan diri, yang terjalin bersamanya.\u201d (Jhonson, 2011:83).<\/em><\/p>\n<p>Jadi, konteks adalah situasi yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk\u00a0\u00a0 \u00a0manusia yang utuh dalam kehidupan pribadi dan masyarakatnya.\u00a0 \u00a0Keterkaitan ini haruslah sinkron dengan pribadi orang tersebut, sebab melibatkan seluruh inderanya, cara pandang, pola pikirnya untuk mempelajari dan menilai lingkungan agar mendapatkan makna belajar yang sesungguhnya.<\/p>\n<p>Dalam proses belajar-mengajar sampai saat ini masih banyak guru-guru yang menerapkan pembelajaran konvensional. Konvensional dalam hal ini adalah masih menjadikan guru sebagai sumber belajar, sekedar mendengarkan, mencatat, dan kurangnya\u00a0\u00a0 \u00a0keterlibatan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 peserta\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 didik dalam proses belajar mengajar.\u00a0 \u00a0Materi pembelajaran juga tidak mengena kepada kebutuhan peserta didik sehingga tidak dapat diterapkan saat ini dan dalam kehidupan yang akan datang. \u00a0Untuk pemecahan masalah seperti ini, Sanjaya mengusulkan beberapa strategi \u00a0pembelajaran,\u00a0 salah \u00a0satunya adalah strategi pembelajaran kontekstual (CTL). \u00a0Keuntungan dari penerapan strategi pembelajaran CTL ini menurut Wina Sanjaya adalah \u00a0karena:\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u201cBelajar \u00a0dalam \u00a0konteks CTL bukan hanya sekadar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung.<\/p>\n<p>Berdasarkan pemikiran tersebut berarti proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan peserta didik hanya menerima pelajaran dari guru saja, akan tetapi proses mencari, menemukan, serta mendapat makna dari materi pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, perlu pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi yang<\/p>\n<p>diajarkan dengan dunia nyata peserta didik, diantaranya melalui penerapan <em>contextual teaching and learning,\u00a0 \u00a0<\/em>untuk selanjutnya akan disingkat dengan (CTL). \u00a0Selanjutnya Riyanto menjelaskan, bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cpandangan klasik selama ini berkembang adalah pengetahuan itu secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran anak.\u201dRiyanto, 2010:144.\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Sementara tujuan pembelajaran konstruktivistik ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktivitas kreatif\u00a0 \u00a0produktif\u00a0 \u00a0dalam\u00a0 \u00a0konteks\u00a0 \u00a0nyata yang \u00a0mendorong\u00a0 peserta \u00a0didik \u00a0belajar untuk berpikir dan berpikir ulang lalu mendemonstrasikan.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Agar\u00a0 pandangan klasik tersebut diatas tidak terulang maka diperlukan strategi pembelajaran yang \u201cbaru\u201d, yang lebih memberdayakan peserta didik, yaitu melalui CTL. \u00a0Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan peserta didik menghafalkan fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong peserta didik mengkonstruksikan\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0pengetahuan di\u00a0\u00a0\u00a0 benak\u00a0\u00a0\u00a0 mereka\u00a0\u00a0\u00a0 sendiri\u00a0\u00a0\u00a0 ke\u00a0\u00a0\u00a0 dalam situasi kehidupan nyata mereka.\u00a0 \u00a0Tujuan penerapan CTL ini adalah untuk memotivasi peserta didik dalam memahami makna materi pembelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dalam konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, masyarakat, serta budaya) sehingga peserta didik memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara re\ufb02eksi dapat diterapkan dari permasalahan- permasalahan lainnya.\u00a0 \u00a0Menurut B. Samuel Sidjabat,\u00a0<em>\u201ckecenderungan peserta didik dalam belajar harus berorientasi kepada makna pribadi\u00a0 \u00a0(personal\u00a0 \u00a0meaning).\u201d (Sidjabat,\u00a0<\/em><em>1996:77).<\/em><\/p>\n<p>Dengan orientasi ini peserta didik terdorong terus untuk belajar karena motivasi yang muncul dalam dirinya (intrinsik) atau keinginan mandiri. Atas dasar yang demikian, peserta didik akan mengembangkan pendekatan\u00a0 \u00a0mendalam\u00a0 \u00a0(<em>deep\u00a0 \u00a0approach<\/em>)\u00a0dan kecakapan dalam berbagai bidang. Dibutuhkan motivasi dalam diri peserta didik untuk belajar sendiri dan memaknakannya dalam kehidupannya.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Pendidikan Agama Kristen (PAK)<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam pembahasan ini akan difokuskan pada Pendidikan Agama Kristen yang berbeda dengan pendidikan sekuler (contohnya; sejarah, kimia, bahasa Inggris, matematika, dan lain-lain) pada umumnya, karena pendidikan Kristen adalah pendidikan yang berporos kepada Yesus dan kebenaran \ufb01rman Allah.\u00a0 \u00a0Selanjutnya akan diuraikan beberapa pendapat dari pendidik Kristen mengenai Pendidikan Agama Kristen itu sendiri. Sidjabat mengatakan bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cPendidikan Kristen adalah pendidikan yang bercorak, berdasar dan berorientasi kristiani.\u201d (Sidjabat, 1996:78).<\/em><\/p>\n<p>Pendidikan Kristen harus dipahami dengan menggunakan unsur-unsur pembentuk proses pendidikan, yakni dari sudut apa, siapa, di mana, bagaimana, dan kapan. Maksudnya, pendidikan Kristen yang merupakan upaya sadar dan bersengaja serta memiliki tujuan yang berdasarkan Alkitab.\u00a0 \u00a0Nainggolan menuliskan bahwa tujuan utama PAK ialah:<\/p>\n<p><em>\u201cMembawa peserta didik untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus, mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, hidup dalam ketaatan, serta mampu mempraktekkan imannya dalam kehidupan sehari-hari.\u201d (Nainggolan, 2008, 1).<\/em><\/p>\n<p>Bila guru Kristen bisa membawa peserta didik dalam perjumpaannya dengan Kristus, itu berarti bahwa guru tersebut telah membawa peserta didik memiliki hubungan yang sangat pribadi, mendalam dengan Allah, melalui dan di dalam Yesus Kristus. Hal itu berarti guru Kristen dan peserta didiknya haruslah menempatkan Allah di pusat dan membawa orang kepada hubungan yang benar dengan Allah dan sesamanya dalam perspektif kebenaran-kebenaran Kristen dasariah.\u00a0 \u00a0Pada akhirnya peserta didik tersebut memiliki sikap mengasihi Allah yang\u00a0diwujudkan melalui tutur kata, perilaku, pola pikir, dan gaya hidup yang benar dan hidup dalam iman serta taat kepada-Nya.<\/p>\n<p>Pendidikan Kristen juga berlangsung dalam\u00a0 konteks\u00a0 tertentu\u00a0 (misalnya,\u00a0 di rumah, di sekolah, dan di gereja, relatif berlainan) ada tekanan khusus dari masing- masing lingkungan pendidikan itu, dengan pendekatan atau strategi serta memberi perhatian terhadap isi tertentu pula, karena pendidikan Kristen bersumber dari ajaran Alkitab.\u00a0 \u00a0Kegiatan belajar sebagai bagian hidup manusia tidak hanya terjadi lewat atau di dalam lingkungan sekolah saja, tetapi juga mencakup pendidikan anak di dalam keluarga serta pendidikan warga gereja dalam jemaat yang berpusat kepada Kristus. \u00a0Sementara itu Nainggolan mengatakan bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cPendidikan Kristen merupakan pendidikan yang berporos pada pribadi Tuhan Yesus Kristus dan Alkitab (\ufb01rman Allah) sebagai dasar atau sumber acuannya.\u201d (Nainggolan, 2011:79).\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Sebab Allah mengkomunikasikan diri- Nya kepada manusia melalui Alkitab, baik itu secara khusus (I Yoh. 5:9-12) melalui Yesus Kristus, maupun secara umum (Rm.\u00a01:20) \u00a0melalui \u00a0alam \u00a0cipataan-Nya.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Bagi orang Kristen, Alkitab itu berotoritas, sumber kebenaran iman, moral, dan dimensi kehidupan\u00a0 lainnya.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Banyak\u00a0 inspirasi tentang kasih, kepedulian, dan kebenaran Allah dapat dipelajari dari Alkitab. \u00a0Bahkan, perubahan hidup umumnya juga terjadi dalam kehidupan para guru Pendidikan Agama Kristen dan peserta didik yang membuka hati dan tekun mempelajari, merenungkan,\u00a0 \u00a0serta\u00a0 \u00a0menghayati\u00a0 \u00a0ajaran di dalam Alkitab.\u00a0 \u00a0Dasar dan acuan orang Kristen \u00a0adalah \u00a0\ufb01rman \u00a0Allah \u00a0yang \u00a0hidup yang akan mendidik, mengajar, serta yang dapat mengubah pribadi seseorang menjadi pengikut \u00a0Kristus.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Di \u00a0dalam \u00a02 \u00a0Timotius\u00a03:16, dituliskan:\u00a0\u00a0 \u00a0\u201cSegala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.\u201d \u00a0Dengan demikian \ufb01rman Tuhan itu yang mengajar, mendidik,\u00a0\u00a0 \u00a0menyatakan kesalahan, dan\u00a0memperbaiki kelakuan sehingga pribadi Yesus menjadi prioritas dalam PAK. \u00a0Nilai- nilai kekristenanlah yang harus ditanamkan dan pribadi Yesus yang menjadi teladan dalam kehidupan guru, peserta didik, serta semua orang percaya.<\/p>\n<p>Sementara itu menurut Dien Sumiyatiningsih, terkait dengan PAK menegaskan bahwa:<\/p>\n<p>\u201cPAK ini harus kita bedakan dari nama-nama lain, seperti Pendidikan Kristen, atau Pengajaran Kristen, dan Pendidikan Agama atau Pengajaran Agama, yang memang tidak sama artinya.\u201d (Homrighausen dan Enklaar, 1993:19).<\/p>\n<p>Menurut\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Ronald\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0P.\u00a0\u00a0 \u00a0Chadwick, dalam bukunya \u201c<em>Teaching And Learning An Integrated Approach to Christian Education<\/em>\u201d, de\ufb01nisi dari pendidikan Kristen adalah:<\/p>\n<p><em>\u201cChristian education deals with the process of teaching and learning (that is, the principles and practice of teaching and learning) conducted by a Christian teacher for Christians. Both teacher and pupil must be controlled by the Spirit of God, bringing all truth into living relationship with the truth of the Word of God. This is for the purpose of enabling man to better serve and glorify God.\u201d \u00a0(Chadwick, 1982:21).<\/em><\/p>\n<p>(Terjemahan: Tawaran Pendidikan Kristen dengan proses pengajaran dan pembelajaran (yaitu, prinsip-prinsip dan praktek mengajar dan belajar) yang dilakukan oleh seorang guru Kristen untuk orang Kristen. Antara guru dan murid harus dikontrol oleh Roh Tuhan, membawa seluruh kebenaran hidup dalam hubungan dengan kebenaran \ufb01rman Allah. ini bertujuan untuk memungkinkan manusia melayani lebih baik dan memuliakan Tuhan).<\/p>\n<p>Pengajaran dan pengetahuan menurutnya tidak dipisahkan karena itu sejalan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru Kristen untuk umat Kristen sendiri. Untuk itu pendidikan Kristen haruslah dilakukan oleh guru Kristen yang dikontrol oleh Roh Tuhan dan memegang kebenaran \u00a0\ufb01rman \u00a0Tuhan \u00a0dalam \u00a0hidupnya\u00a0semata-mata dilakukan untuk memuliakan\u00a0Tuhan.<\/p>\n<p>Kebenaran \ufb01rman Tuhan tidaklah hanya dalam sebagian saja dalam Alkitab, melainkan seluruhnya dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. \u00a0Tugas gurulah untuk menggali lebih dalam kebenaran \ufb01rman Tuhan, karena itulah yang akan disampaikan, diajarkan, dijadikan teladan kepada peserta didik dalam setiap proses belajar mengajar, dan selanjutnya dapat memakai sumbangan pemikiran modern dan teori pendidikan sekuler untuk melengkapi pembelajaran, itupun harus dipertimbangkan apakah itu sesuai dengan iman Kristen atau tidak. Pendidikan Kristen itu terjadi tatkala orang yang beriman itu percaya kepada Allah dan perkenananAllah dianugerahkan kepadanya. Untuk itu guru PAK haruslah berpikir dengan serius terlibat dalam teologi yang benar agar dapat mengungkapkan kebenaran tentang Allah dalam hubungannya dengan manusia. Dari teologialah dapat diketahui kebenaran- kebenaran yang hendak disampaikan guru kepada peserta didiknya, baik itu mengenai hakekat dan nasib manusia, tentang arah pertumbuhan Kristen yang dikehendaki, tentang Kerajaan Allah, tentang tujuan, dan metode-metode yang akan dipakai dalam PAK. Dengan demikian, jelaslah bahwa isi PAK itu didasarkan pada teologia, dan bahwa tugas utama dalam PAK adalah menemukan serta meneruskan relevansi dari kebenaran Kristen\u00a0\u00a0 sedemikian\u00a0\u00a0 rupa,\u00a0\u00a0 sehingga peserta didik dapat menerapkannya dan menghayatinya dalam kehidupan mereka. Akan tetapi pengertian PAK menurut Robert W. Pazmino dalam bukunya \u201c<em>Foundational Issues in Christian Education<\/em>,\u201d diterjemahkan oleh B. Samuel Sidjabat, dalam bukunya \u201cStrategi Pendidikan Kristen,\u201d\u00a0\u00a0 \u00a0adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p><em>\u201c. . . usaha bersengaja dan sistematis, ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai- nilai, sikap-sikap, keterampilan-keterampilan dan tingkah laku yang bersesuaian atau konsisten dengan iman Kristen, dalam rangka mengupayakan perubahan, pembaharuan dan\u00a0 \u00a0reformasi\u00a0 \u00a0pribadi-pribadi,\u00a0 \u00a0kelompok\u00a0<\/em><em>bahkan struktur oleh kuasa Roh Kudus, sehingga peserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus.\u201d (Pazmino, 1998:81).<\/em><\/p>\n<p>Pengenalan tentang pribadi Yesus Kristus akan memungkinkan pendidik makin memahami kehendak Allah. \u00a0Karena Yesus sendiri adalah jalan, kebenaran, dan hidup, pembawa orang kepada pengenalan yang sejati \u00a0akan \u00a0pribadi \u00a0dan \u00a0karya Allah \u00a0(Yoh.\u00a01:18; 14:6).\u00a0 \u00a0Sebab, Yesus menyatakan dengan\u00a0 tegas\u00a0 bahwa \u00a0di\u00a0 luar\u00a0 Dia,\u00a0 orang tidak dapat melakukan hal yang benar bagi kemuliaan Allah (Yoh. 15:4-5,16). Di samping itu, hanya melalui persekutuan dengan Dialah, guru Kristen semakin menemukan kebenaran yang sesungguhnya, sehingga membawa dampak kepada perubahan, pembaharuan dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok bahkan struktur oleh kuasa Roh Kudus, sehingga peserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus. Peran Roh Kudus dalam PAK amatlah penting, sebab Roh Kudus datang ke dunia untuk meneruskan, mengaktualkan pekerjaan Allah di dalam Yesus Kristus. Yesus hanya mengajarkan pekerjaan yang ditugaskan\u00a0 dan\u00a0 dikehendaki\u00a0 Bapa-Nya saja, sang Guru juga memberi pengajaran mengenai Roh Kudus, dan menjelaskan bahwa Roh Kudus itu menyertai, mendiami murid-murid (Yoh. 14:16-17), Roh Kudus mengajar dan memampukan mereka menjadi saksi bagi Yesus (Yoh. 14:26; 15:26-27) serta memberikan keinsyafan atas dosa, kebenaran \u00a0dan \u00a0penghakiman \u00a0(Yoh. \u00a016:6-8, 11-13). \u00a0Kehidupan dan pelayanan-Nya sendiri seutuhnya dipenuhi oleh kehadiran Roh \u00a0Kudus \u00a0(Luk. \u00a03:21-22; \u00a04:1,14; \u00a0Mat.\u00a012:27-28).<\/p>\n<p>Guru\u00a0 Kristen\u00a0 harus\u00a0 menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan peningkatan kualitas atau kesadaran\u00a0\u00a0 akan\u00a0\u00a0 kesucian\u00a0\u00a0 hidup,\u00a0\u00a0 tetapi juga di dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Roh Kudus ingin menyatakan\u00a0kuasa dan kehadiran-Nya di dalam diri dan melalui orang, karena setiap orang akan tiba pada keputusan untuk menjadi murid-murid Kristus. Karena itulah, guru bidang studi apa pun, termasuk guru PAK tetap memerlukan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup dan pekerjaannya.\u00a0\u00a0 \u00a0Sebagai pengajar iman Kristen, seorang guru sangat memerlukan ketergantungan \u00a0terhadap \u00a0kuasa, \u00a0urapan, dan kehadiran Roh Kudus. \u00a0Sebab Dialah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (Ef. 3:16-18). Ia pun akan memberikan ide-ide baru dalam masa persiapan, dan bahkan sementara guru melakukan tugas mengajarnya (interaksi belajar mengajar).\u00a0 \u00a0Seorang guru Kristen mampu\u00a0 meyakinkan\u00a0 dan\u00a0 menyadarkan para pendengarnya.\u00a0 \u00a0Ia membuat interaksi di antara sesama anggota dan kelompok belajar dinamis sehingga terasa hangat dan bermakna (Yoh. 16:11-13; 1 Yoh. 2:20,27;\u00a03:24; 1 Kor. 2:14). Pendidikan Kristen harus menjadikan manusia seutuhnya, maksudnya adalah setiap orang Kristen harus mencapai kepribadian yang berintegrasi kepada Kristus. Berintegrasi kepada Kristus tidak memikirkan integrasi kepada kepribadian dalam arti cita- cita, melainkan dalam arti sebagai hasil yang timbul dari akibat hubungan yang dalam dan tetap antar manusia dengan Allah, baik itu didalam doa, persekutuan di gereja, dan hubungan dengan sesama serta lingkungan. Dalam surat Efesus, integrasi Kristen itu dinyatakan sebagai kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu\u00a0\u00a0 manusia\u00a0\u00a0 dalam\u00a0\u00a0 kelicikan\u00a0\u00a0 mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang \u00a0kepada \u00a0kebenaran \u00a0di \u00a0dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia (Ef. 4:13-15).<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Penerapan Strategi Pembelajaran Kontekstual<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Jika\u00a0\u00a0 pendidikan\u00a0\u00a0 agama\u00a0\u00a0 dilakukan oleh persekutuan Kristen (persekutuan iman Kristen) dan dari perspektif agama Kristen,\u00a0maka istilah yang tepat untuk menyebutnya adalah pendidikan agama Kristen. Salah satu komponen dalam pendidikan adalah peserta didik. \u00a0Peserta didik mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar.\u00a0 \u00a0Perbedaan yang dimiliki peserta didik tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. \u201cMenurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu:\u00a0<em>tipe visual, auditorial, dan kinestetis.\u201d (Deporter2007:165).<\/em><\/p>\n<p>Dalam pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia peserta didik, artinya guru perlu menyesuaikan\u00a0\u00a0 gaya\u00a0\u00a0 mengajar\u00a0\u00a0 terhadap gaya belajar peserta didik. \u00a0Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran identik sebagai proses pemaksaan kehendak. Dien menjelaskan, bahwa:<\/p>\n<p><em>Diharapkan guru agama dapat memahami psikologi perkembangan, konsep-konsep pendidikan, lingkungan peserta didik, serta metode-metode pengajaran untuk merangsang kemampuan berpikir yang kreatif dan kritis . . .\u00a0 \u00a0. Kompetensi, \u00a0sikap, \u00a0dan \u00a0perilaku \u00a0pendidik\u00a0<\/em><em>. . . perlu dilatih ulang secara kontiniu . . . keterampilan dan memperdalam wawasan mereka.\u201d (Sumiyatiningsih, 2006:18).<\/em><\/p>\n<p>Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru PAK manakala menggunakan pendekatan CTL, yaitu:<\/p>\n<p><em>\u201csiswa dalam pembelajaran kontekstual\u00a0 dipandang \u00a0sebagai\u00a0 individu yang sedang berkembang, memiliki kecenderungan\u00a0\u00a0 \u00a0untuk\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 belajar\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 hal-hal yang baru dan penuh tantangan, proses mencari keterkaitan atau keterhubungan, belajar proses pembentukan skema baru.\u201d (Jhonson, 2011:41).<\/em><\/p>\n<p>Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasanpengalamanyangdimilikinya. Peran guru PAK bukanlah sebagai instruktur atau \u201cpenguasa\u201d \u00a0yang \u00a0memaksakan \u00a0kehendak\u00a0melainkan guru PAK adalah pembimbing peserta didik agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Setiap peserta didik memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan dan bagi mereka adalah mencoba memecahkan masalah setiap persoalan yang menantang, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh peserta didiknya. Belajar bagi peserta didik adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui, peran guru PAK adalah membantu agar setiap peserta didik mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.\u00a0 \u00a0Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), tugas guru PAK adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>F<\/strong><strong>. Landasan Teologis dalam Penerapan Strategi Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Agama Kristen<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kehadiran dan karya pendidikan Kristen juga memiliki landasan atau dasar teologis. Pemahaman teologis yang dimaksud di sini sudah tentu berakar dari Alkitab. Pemikiran teologis yang baik dan jelas sangat perlu dalam rangka mengarahkan tugas\u00a0 \u00a0pendidikan\u00a0 \u00a0Kristen itu sendiri, terutama guru PAK dalam mengajar.\u00a0 \u00a0Maksudnya pemikiran teologis adalah pemikiran yang melandasi strategi pembelajaran kontekstual yang didasarkan pada Alkitab, tujuannya agar strategi pembelajaran kontekstual memiliki landasan sebagai dasar konstruksi penerapan strategi pembelajaran dalam konteks PAK. \u00a0Dalam pembahasan ini akan dicoba ditelusuri bagaimana Yesus Kristus sebagai Guru Agung menerapkan strategi pembelajaran kontekstual dalam membelajarkan para murid-murid-Nya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong> Yesus sebagai Guru Agung<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Meskipun mengajar bagi sebagian guru merupakan tugas yang menyenangkan, bagi sebagian lainnya tidaklah demikian. Menurut Sidjabat dalam hal ini;\u00a0<em>\u201ckerap menyaksikan guru atau dosen yang kelelahan di dalam perjalanan profesinya,\u00a0\u00a0 \u00a0mereka\u00a0\u00a0 \u00a0jenuh.\u201d\u00a0\u00a0 \u00a0(Sidjabat,\u00a0<\/em><em>1993:33).<\/em><\/p>\n<p>Kemungkinan karena mereka secara rutin \u00a0melakukan \u00a0tugas \u00a0yang \u00a0itu-itu \u00a0saja setiap hari. \u00a0Mungkin pula hal itu berkaitan dengan beratnya tugas dan tanggung jawab administrasi, sementara imbalan \ufb01nansial dirasakan tidak memadai untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bisa juga karena faktor penuaan atau kurang mendapatkan pemahaman, pengetahuan, dan motivasi baru.<\/p>\n<p>Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus memberikan\u00a0\u00a0 tugas\u00a0\u00a0 kepada\u00a0\u00a0 murid-murid- Nya supaya pergi ke seluruh dunia dan menjadikan segala bangsa murid-Nya, serta mengajar mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan kepada mereka (Mat. 28:19-20). \u00a0Dalam hal ini ada tugas pembelajaran dalam rangka pemuridan tersebut.\u00a0 \u00a0Tujuan akhir pembelajaran itu adalah supaya mereka yang dimuridkan itu mampu melakukan pengajaran Tuhan Yesus dan memuridkan lagi orang lain menjadi murid \u00a0Kristus.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Sesungguhnya\u00a0 Yesus Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Mesias yang dijanjikan Allah melalui para nabi dalam masa PL. Lebih kurang tiga setengah tahun Yesus memberi perhatian kepada dua belas murid- Nya dan tidak pernah mengalami kejenuhan, kelelahan, karena Dia selalu datang kepada Bapa untuk berdoa, meminta kekuatan, dan melakukan perintah-Nya (Mat. 14:23; 26:36-42; Luk. 21:36). \u00a0Dia menjadi rabi atau guru bagi mereka. \u00a0Dalam menyatakan rencana Allah bagi umat Israel serta bagi umat manusia secara umum, Yesus memainkan peran sebagai Guru Agung.<\/p>\n<p>Simanjuntak mengatakan bahwa:\u00a0<em>\u201cDia kerap mengajar (Mat. 5:2), orang- orang\u00a0 \u00a0yang\u00a0 \u00a0mendengar\u00a0 \u00a0pengajaran-Nya\u00a0<\/em><em>mengakui bahwa pengajaran-Nya berbobot, hidup dinamis, penuh wibawa (kuasa), berbeda dengan cara mengajar tokoh-tokoh agama di masa itu\u201d (Mat. 7:28-29; 23:1). (Simanjuntak, 2012).<\/em><\/p>\n<p>Tuhan Yesus dikenal sebagai guru daripada pengkhotbah. Murid-murid- Nya\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 orang-orang\u00a0\u00a0 yang\u00a0\u00a0 mendengar Dia, menyapa-Nya sebagai guru.\u00a0 \u00a0Iapun mengakui diri-Nya sebagai guru dan Tuhan (Yoh. 13:13). \u00a0Apakah Yesus hanya menjadi guru\u00a0 untuk\u00a0 kedua\u00a0 belas\u00a0 murid-Nya\u00a0 saja, atau untuk semua orang?\u00a0 \u00a0Ruth Laufer menjelaskan, bahwa: \u201cIa menjadi guru bukan untuk kedua belas murid saja, melainkan untuk semua orang. Hal itu terbukti dengan ke mana, di mana dan kapan saja Ia pergi, Ia mengajar. Berkali-kali disebut dalam Injil: \u201cIa berjalan berkeliling ke desa dan kota untuk memberitakan Injil dan mengajar. Tuhan Yesus menjadikan pengajaran sebagai alat utama mengantar orang ke dalam Kerajaan Allah.\u201d (Ruth Laufer &amp; Anni Dyck, 1998:116-117). Hal ini berarti Yesus dalam pelayanan- Nya tidak pernah membeda-bedakan; baik dalam hal materi, status sosial, jabatan atau mengasingkan orang-orang dijumpainya akan tetapi melihat mereka secara utuh sebagai orang yang membutuhkan pembelajaran, yaitu Kerajaan Allah.<\/p>\n<p>Sementara itu Sidjabat mengatakan bahwa:\u00a0<em>\u201cguru agama Kristen haruslah benar- benar menguasai bahan pengajarannya dan terampil di dalam menjelaskannya supaya anak didiknya bertumbuh dalam iman dan mengalami pembaharuan hidup.\u201d \u00a0(Sidjabat,<\/em><em>1993:11).<\/em><\/p>\n<p>Sidjabatmengatakandemikian,karena seharusnyalah para pendidik Kristen benar- benar menguasai bahan pangajarannya, sebab apa yang akan disampaikan kepada peserta didik kalau tidak menguasai bahan. Dengan menguasai bahan pengajaran, setidaknya proses belajar mengajar terarah, terfokus, pendidik harus tampil sebagai ahli yang kompeten, berwibawa, dan meguasai seluk-beluk materi pengajarannya, sehingga\u00a0tercapainya tujuan pembelajaran yang ditetapkan.\u00a0\u00a0 \u00a0Yesus menguasai bahan pengajarannya, ini dibuktikan lewat teknik pengajaran Yesus yang kreatif, mengandung variasi dalam pendekatan, metode-metode yang dipergunakan; baik khotbah, bertanya, diskusi, cerita, dan dalam hal ini contohnya metode cerita. Ia menuangkan idenya dalam kisah singkat, lukisan, dan perumpamaan. Dikemukakan oleh Injil bahwa \u201ctanpa perumpamaan Ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka\u201d (Mrk. 4:34). \u00a0Misalnya, Ia bercerita mengenai dirham yang hilang, domba yang hilang, dan anak yang hilang (Luk. 15).\u00a0 \u00a0Ia berkisah mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37). \u00a0Ia pun mengemukakan perumpamaan tentang penabur \u00a0benih \u00a0(Luk. \u00a08:4-15) \u00a0dan \u00a0orang kaya yang bodoh (Luk. 12:16-21). \u00a0Yesus menguasai bahan pengajarannya dengan menyesuaikan apa yang menjadi kebutuhan pendengarnya yang kaya dengan contoh kehidupan sehari-hari. Bahkan banyak orang yang mendengar pengajaran-Nya takjub, kagum, sebab mendengarkan kebenaran yang menembusi jiwa mereka (Mat. 7:28-29).\u00a0\u00a0 \u00a0Penguasaan-Nya terhadap bahan pengajaran sangat mengagumkan sehingga Ia\u00a0\u00a0 memiliki\u00a0 \u00a0kelayakan\u00a0 \u00a0mengajar\u00a0 \u00a0secara tepat. \u00a0Ia berintegritas. \u00a0Hal yang diajarkan bersesuaian dengan yang dilakukan. \u00a0Oleh karena itu, rupanya, Nikodemus kagum dan menyatakan kepada Yesus bahwa Ia diutus dan disertai Allah (Yoh. 3:2; 6:49-52; 19:39-40).<\/p>\n<p>Pengajaran Yesus mampu menjawab setiap kebutuhan para pendengar-Nya. Karena cara Yesus mengajar tidak sama dengan para ahli Taurat seperti dalam ungkapan Matius 7:29, Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Keistimewaan Yesus dalam mengajar bukan hanya karena ia memiliki cara yang menarik dalam mengajar, tetapi karena disertai dengan kuasa. \u00a0Guru PAK adalah penyampai kebenaran \ufb01rman Tuhan\u00a0 \u00a0sehingga\u00a0 \u00a0harus\u00a0 \u00a0memiliki\u00a0 \u00a0kuasa Roh Kudus dalam hidupnya. \u00a0Hal ini yang memungkinkan pengajarannya mampu menjawab kebutuhan para pendengarnya.<\/p>\n<p>Hal senada dijelaskan James L. Drexler, bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cWhy Jesus come to the earth? Shortly after His dramatic announcement in the synagogue, Jesus answer that question: \u201cI must preach the good news of the kingdom of God to other towns also, because that is why I was sent\u201d (Luke 4:43).<\/em><\/p>\n<p><em>(Terjemahan. Mengapa Yesus datang ke dunia ini? Segera setelah Dia bersaksi memberitahukan di sinagoge, Yesus menjawab pertanyaan bahwa: \u201cAku harus memberitakan kabar baik dari Kerajaan Allah untuk kota-kota yang lainnya, oleh karena itulah mengapa Aku diutus\u201d)\u00a0 \u00a0(Luk. 4:43). (Drexler, 2007:361).<\/em><\/p>\n<p>Dalam kasus mengenai pembelajaran kontekstual ini dapat lihat dari Matius 10:16-33, Yesus mengutus kedua belas rasul untuk memenangkan jiwa bagi Kristus. \u00a0Setelah murid-murid dididik, diajar, diberi kuasa untuk melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati (Mat. 10:7-8), tibalah waktunya mereka diutus untuk mempraktekkan apa yang mereka dapat dari Yesus.\u00a0 \u00a0Sementara itu, Regina M. Alfonso mengatakan, bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cNot only did he explain his mission, he empowered the Twelve with his authority to do what he could do: \u201c . . . drive out evil spirits and do heal every disease and every sickness.\u201d (Matthew. 10:1). He was mindful the purpose of all teaching to develop independence in the student.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>(Terjemahan. Dia tidak hanya menjelaskan\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0misi-Nya,\u00a0\u00a0 \u00a0Dia\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0memberi kuasa kepada kedua belas murid dengan otoritas-Nya untuk melakukan apa yang dilakukan: \u00a0\u201c . . . mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.\u201d (Mat. 10:1). Dia sadar bahwa tujuan dari semua pengajaran untuk mengembangkan kemandirian dalam murid- murid.\u201d) (Alfonso, 1986:43).<\/em><\/p>\n<p>Misi Yesus adalah menjadikan setiap\u00a0 orang\u00a0 percaya\u00a0 menjadi\u00a0 murid-Nya dan menjadikannya warga Kerajaan Allah. Yesus melakukannya dengan otoritas Allah\u00a0dan murid-murid bukan hanya sekadar mengetahui pembelajaran yang diberikan Yesus, akan tetapi mereka melakukan dan mempraktekkannya.\u00a0 \u00a0Begitu juga dalam CTL, bahwa:\u00a0<em>\u201cBelajar akan lebih bermakna jika anak \u201cmengalami\u201d apa yang dipelajarinya, bukan \u201cmengetahui\u201d-nya.\u201d (Riyanto,\u00a0<\/em><em>2010:159).\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Strategi pembelajaran ini diteladankan Yesus Kristus melalui kedatangan-Nya dalam konteks Yahudi di Palestina pada masa lalu (Yoh. 1:14). \u00a0Ia hidup di tengah masyarakat selama kurang lebih 33 tahun untuk menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang dan sedang datang. \u00a0Selama tiga puluh tahun, Ia mempersiapkan diri sebelum tiba waktunya untuk melayani secara penuh selama sekitar 3,5 tahun. \u00a0Ia hidup di tengah masyarakat yang menderita dan Ia menyatakan iman serta pengharapan kepada \u00a0Allah, \u00a0sumber \u00a0kebenaran, \u00a0kasih, dan keadilan dan mereka mendapatkan pengalaman langsung dari apa yang diajarkan-Nya.\u00a0\u00a0 \u00a0Hal senada diungkapkan oleh Komalasari, bahwa:\u00a0<em>\u201cdalam proses pembelajaran, siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung (experiencing).\u201d Komalasari, 2011: 9).<\/em><\/p>\n<p>Sedangkan Tilaar &amp; Rian Nugroho, mengatakan bahwa:\u00a0<em>\u201cpengalaman\u00a0 yang\u00a0 baik\u00a0 ditandai oleh interaksi yang kontinuitas dan berkesinambungan.\u201d\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0(Tilaar \u00a0&amp; \u00a0Nugroho,\u00a0<\/em><em>2009:107).<\/em><\/p>\n<p>Dalam pembelajaran CTL penting sekali guru PAK harus mengetahui terlebih dahulu\u00a0 apa\u00a0 yang\u00a0 menjadi\u00a0 kebutuhan peserta didiknya, melalui bertanya atau observasi langsung, agar tercapainya tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang telah dirancangkan dan selanjutnya dituangkan ke dalam bentuk rancangan pembelajaran.<\/p>\n<p>Robert W. Pazmino mengatakan, bahwa:<\/p>\n<p><em>\u201cJesus teaching was adapted to his audience . . . Jesus placed himself at the point of his hearers and started from there . .<\/em><\/p>\n<p><em>. sensitive to what they were able to receive .<\/em><\/p>\n<p><em>. . understood and communicated effectively by contextualizing his teaching.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>(Terjemahan.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Yesus mengajar menyesuaikan \u00a0kepada \u00a0pendengar-Nya \u00a0. \u00a0.<\/em><\/p>\n<p><em>. Yesus menempatkan diri-Nya pada titik pendengar-Nya dan memulai dari sana . . . peka kepada apa yang dapat mereka terima<\/em><\/p>\n<p><em>. . . mengerti dan menyampaikan secara efektif dengan mengkontekstualisasikan pengajaran-Nya.) (Pazmino, 1948:130).<\/em><\/p>\n<p>Dalam \u00a0hal \u00a0ini \u00a0\u2018menyesuaikan \u00a0diri\u2019 berarti Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan, pergumulan, keinginan mereka dan \u00a0dari \u00a0hal \u00a0itulah \u00a0Yesus \u00a0berangkat \u00a0dan memulai \u00a0pembelajaran-Nya. Melihat \u00a0apa yang \u00a0menjadi \u00a0kebutuhan \u00a0pendengar-Nya saja tidak cukup, namun harus memberikan jalan keluar dari pergumulan yang mereka hadapi. Selanjutnya dijelaskan pula, bahwa: <em>\u201cOne example often city in the regard\u00a0<\/em><em>is Jesus teaching of the Samaritan woman at the well (Jhon 4). Jesus point of contact is the water available at the well and the experience of thirst. He progressively responds to the woman and reveals her spiritual needs. The cultimating truth he offers is his very person as Messiah. Jesus tailored his teaching to address this woman\u2019s needs in those areas where she needed instruction, and ultimately, transformation.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>(Terjemahan. Satu contoh di kota Yesus mengajar perempuan Samaria di sumur (Yoh. 4) Titik dari hubungan ini adalah tersedianya air di sumur dan pengalaman dari rasa haus. Dia makin respon kepada wanita dan menyatakan kebutuhan rohaninya. Kebenaran yang dia tawarkan adalah pribadi- Nya sebagai Mesias. Yesus menyesuaikan pengajaran-Nya untuk menunjuk kebutuhan wanita itu dalam wilayah dimana pengajaran yang dibutuhkan, dan pada akhirnya perubahan.) <strong>(<\/strong>Pazmino,1948:131).<\/em><\/p>\n<p>Pengalaman yang dialami perempuan Samaria di sumur Yakub tersebut membuat dia\u00a0 berbalik\u00a0 dari\u00a0 dosa-dosa\u00a0 yang\u00a0 selama ini dilakukannya. \u00a0Rupanya perempuan itu haus akan kebenaran yang selama ini dia\u00a0cari, karena Yesus tidak menghakiminya dengan kata-kata kasar, mencela, dan tidak melemparinya dengan batu, melainkan menawarkan\u00a0 \u00a0\u2018air\u00a0 \u00a0kehidupan\u2019 \u00a0itu sendiri, yaitu Yesus dan memberikan pengampunan kepadanya, pertobatan, berbalik dari jalan yang salah kepada jalan yang benar.<\/p>\n<p>Pendidikan Kristen terpanggil untuk meneladani Yesus sebagai Guru Agung, yang memberikan perspektif komprehensif tentang hakikat dan tugas pendidikan. \u00a0Arti menjadi guru, nilai serta risiko menjadi guru didemonstrasikan oleh Yesus semasa Ia membina para murid, seperti diungkapkan dalam kitab Injil. \u00a0Pendidikan Kristen pun dituntut untuk membimbing orang guna memiliki pemahaman serta relasi yang benar, mendalam dan bersifat pribadi dengan Yesus. Sebab, Ia memberi kuasa, pengampunan dosa (Mrk. 2:9-10). \u00a0Ia memberikan hikmat, kesucian hidup dan pengharapan serta kemuliaan \u00a0(1 \u00a0Kor. \u00a01:30; \u00a0Kol. \u00a01:27; \u00a02:9-10). \u00a0Secara langsung, Ia adalah sumber kedamaian batin serta kekuatan spiritual dan mental dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari (Yoh. 14:27; 15:4-5; Flp. 4:13).<\/p>\n<p>Strategi pembelajaran kontekstual ini perlu digiatkan dalam pembinaan peserta didik agar mampu menghadapi kehidupan nyata dan kritis dalam menanggapi segala sesuatu \u00a0yang \u00a0berdasarkan \u00a0\ufb01rman \u00a0Tuhan.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR RUJUKAN<\/strong><\/p>\n<p>Alfonso, Regina M. (1986). <strong>How Jesus Taught (The Methods and Techniques of the Master)<\/strong>. New York: Alba House.<\/p>\n<p>Bobbi Deporter, et. al., (2007).<strong>Quatum Teaching <\/strong>Bandung: Penerbit Kaifa.<\/p>\n<p>Chadwick, Ronald P. (1982). <strong>Teaching And Learning An Integrated Approach to Christian Education <\/strong>New Jersey: Flemming H. Revell Published.<\/p>\n<p>Drexler, \u00a0James \u00a0L. \u00a0(2007). \u00a0<strong>School as Communities: Education leadership, Relationships, and Eternal Value of Christian Schooling <\/strong>Colorado: Purposeful Design Publications A Division of ACSI.<\/p>\n<p>Dyck, Anni \u00a0&amp; \u00a0Laufer, \u00a0Ruth. \u00a0(1998).<strong>Pedoman\u00a0 \u00a0Pelayanan\u00a0 \u00a0Anak<\/strong>.\u00a0 \u00a0Surabaya:\u00a0Bahtera Gra\ufb01ka.<\/p>\n<p>Homrighausen,\u00a0 \u00a0E.G. \u00a0dan\u00a0 \u00a0Enklaar, I.H.\u00a0 \u00a0(1993). <strong>Pendidikan Agama Kristen<\/strong>, dit. Oleh Sumadinata Jakarta: BPK Gunung Mulia.<\/p>\n<p>Johnson, Elaine B. (2011). <strong>CTL: Contextual Teaching &amp; Learning, <\/strong>dit. oleh Ibnu Setiawan Bandung: Kaifa.<\/p>\n<p>Komalasari, Kokom. (2011). <strong>Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi) <\/strong>Bandung: PT. Re\ufb01ka Aditama.<\/p>\n<p>Nainggolan, Jhon M. (2008). <strong>Strategi Pendidikan Agama Kristen. <\/strong>Bandung: Generasi Info Media.<\/p>\n<p>Nainggolan, Jhon M. (2011). <strong>Pendidikan Berbasis Nilai-Nilai Kristiani<\/strong>. Bandung: Bina Media Informasi.<\/p>\n<p>Panggabean, Yusri. et. al., (2007). <strong>Strategi, Model, dan Evaluasi Pembelajaran Kurikulum 2006. <\/strong>Bandung: Bina Media Informasi.<\/p>\n<p>Pazmino, Robert W. (1948). <strong>Foundational Issues in Christian Education. <\/strong>New York: Baker Book House Company.<\/p>\n<p>Pazmino, Robert W. (1998). <strong>Principles &amp; Practices of Christian Education. <\/strong>New York: Baker Book House Company.<\/p>\n<p>Riyanto, Yatim. (2010). <strong>Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas <\/strong>Jakarta: Kencana Prenada Media Group.<\/p>\n<p>Sanjaya, Wina. (2008). <strong>Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).\u00a0\u00a0 \u00a0<\/strong>Jakarta: Kencana Prenada Media Group.<\/p>\n<p>Sidjabat, B.S. (1993). <strong>Mengajar Secara Profesional: Mewujudkan Visi Guru Profesional, <\/strong>edisi revisi, Bandung: Yayasan Kalam Hidup.<\/p>\n<p>Simanjuntak, Junihot. (2011). Diktat Kuliah: <strong>Media Pembelajaran PAK<\/strong>,\u00a0 \u00a0STT Kharisma.<\/p>\n<p>Tilaar H.A.R. &amp; Nugroho, Riant. (2009) <strong>Kebijakan Pendidikan<\/strong>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><div class=\"et_pb_row et_pb_row_0 et_pb_row_empty\">\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t<\/div> Oleh: Nelson Hasibuan, S.Pd.K ABSTRAK: Strategi pembelajaran kontekstual merupakan salah satu strategi pembelajaran yang\u00a0ada pada dunia pendidikan. \u00a0Strategi pembelajaran kontekstual mengasumsikan konteks kehidupan sosial dan budaya merupakan sumber serta media belajar yang penuh makna, orang tidak hanya dapat belajar dari membaca buku dan literatur. Dengan demikian, masalah kehidupan nyata di tengah keluarga, gereja, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-1389","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel_pak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1389","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1389"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1389\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1390,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1389\/revisions\/1390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}