TUJUH PRINSIP MENGAJAR KREATIF

(Pdt Dr. Rubin Adi Abraham)

  1. Pertama, Yesus adalah Guru Agung karena pengajarannya mengubah kehidupan! Mencontoh teladan dari Yesus, maka tugas kita dalam mengajar bukan hanya memberikan informasi(informasional) tapi mengubah kehidupan (transformational). Mengajarkan hal rohani bukan hanya memberi informasi tentang kekristenan tapi menolong agar orang-orang menemukan kebenaran dari Injil. Pendidikan Kristen berpusat pada Kristus, berdasarkan Alkitab, proses berkaitan dengan murid untuk mengkomunikasikan Firman Allah yang tertulis melalui kuasa Roh Kudus, dengan tujuan untuk membimbing tiap pribadi untuk mengenal dan bertumbuh dalam Kristus. Karena itu kerinduan para pendidik Kristen seharusnya adalah mengubah orang percaya menjadi serupa seperti Kristus. Ini berarti tidak cukup bila kita hanya memberikan materi yang bagus dan metode yang relevan sehingga murid menjadi lebih pintar, jika kita tidak melihat perubahan pada diri orang yang kita ajar. Hal ini perlu ditekankan khususnya dalam pendidikan di Sekolah Teologi dan di gereja lokal, sebab ada orang yang setelah belajar merasa lebih tahu bahkan sombong tapi hidupnya tidak pernah berubah ke arah yang lebih baik.
  2. Kedua, mengajar adalah proses yang terdiri dari PIE (Preparation, Implementation, Evaluation), maksudnya pelajaran itu harus dipersiapkan dulu secara matang sebelum disajikan, kemudian harus dipresentasikan dengan baik dengan metode yang tepat, kemudian perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana para murid memahami apa yang telah diajarkan. Persiapan meliputi tujuan belajar dan rencana belajar. Tujuan belajar membahas apa yang akan dipelajari dan hasil apa yang akan dicapai, sedangkan rencana belajar yang menerangkan bagaimana tujuan belajar itu akan dicapai. Implementasi mencakup bagaimana mempresentasikan materi pelajaran dengan baik sehingga dipahami oleh para murid, dan bagaimana melibatkan para murid dalam proses belajar tersebut dengan metode yang tepat sehingga semua bisa ikut berpartisipasi. Evaluasi membuat kita tahu kelebihan dan kelemahan kita dalam mengajar dan perubahan apa yang perlu dilakukan. Persiapan yang harus dilakukan oleh tiap guru yang akan mengajar. Kadang-kadang guru yang sudah terbiasa mengajar mengabaikan faktor persiapan ini karena merasa sudah berpengalaman. Akibatnya penyajiannya tidak maksimal. Pengalaman dalam mengajar tidak otomatis mempertajam kemampuan kita, bahkan sebaliknya dapat menumpulkan kemampuan, karena kesalahan yang sama diulang terus berkali-kali dalam mengajar. Melakukan evaluasi terhadap pengalaman mengajarlah yang mengembangkan kemampuan kita dalam mengajar.
  3. Ketiga, murid belajar dalam cara yang berbeda-beda, meliputi: berpikir, merasa, atau melakukan sesuatu berkaitan dengan subjek itu. Fokus belajar adalah: a) Head atau pengetahuan, yang berkaitan dengan berpikir (kognitif) b) Heart atau sikap, yang berkaitan dengan merasa (afektif). c) Habits atau tingkah laku, yang berkaitan dengan melakukan sesuatu (psikomotor). Sasaran dari belajar adalah agar orang melakukan sesuatu. Untuk itu tidak cukup bila seorang murid hanya diberi pengetahuan secara kognitif, tapi sikap hatinya harus didorong secara afektif. Aspek afektif ini sangat penting karena mampu mengubah pemikiran seseorang menjadi nilai-nilai yang diyakininya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan guru untuk membangkitkan aspek afektif dalam diri seorang murid, antara lain dengan cara: menceritakan kisah-kisah yang menarik; memberi illustrasi yang menggugah; mendramatisir suatu konsep atau ide; menghubungkan kebenaran dengan tujuan hidup; membagikan perasaan, sikap, nilai, kerinduan, dan kasih kepada orang yang kita ajar; serta mengembangkan hubungan yang baik dengan para murid. Hal di atas sangat penting untuk dilakukan karena pengajaran yang sukses bukan hanya membuka wawasan berpikir tapi juga membangkitkan emosi, dan mendorong keinginan untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan hal yang telah dipelajari itu. Walaupun hal di atas sangat penting, namun hal terpenting yang harus dilakukan guru untuk mengubah sikap para murid adalah bergantung kepada Roh Kudus untuk menjamah hati, karena hanya Roh Kuduslah yang sanggup mengubah sikap batin manusia.
  4. Keempat, agar para murid bisa melakukan sesuatu dari hasil pelajaran yang dia terima, guru tidak cukup bila hanya memberikan pengetahuan tapi juga harus mampu memotivasi para muridnya. Sebetulnya setiap orang dapat dimotivasi, namun tidak pada waktu yang sama, tidak dengan cara yang sama, dan tidak oleh orang yang sama! Jadi kita harus mempelajari bagaimana cara yang paling efektif untuk memotivasi seseorang, antara lain dengan: menciptakan kebutuhan dalam diri murid, mengembangkan tanggungjawab, membangkitkan rasa tertarik, mengambil hikmah dari suatu pengalaman, memberikan pengakuan-dorongan-pujian, memecahkan hambatan emosional, melakukan kompetisi yang sehat, pahala dan hukuman, melakukan hubungan pribadi secara intensif dan memberi teladan tentang antusiasme terhadap hal yang dipelajari.
  5. Kelima, sasaran dari belajar adalah membuat murid memahami persfektif guru tentang materi yang diberikan, kemudian mengembangkan pemahamannya yang unik tentang materi itu. Hal ini penting karena setiap murid adalah individu yang unik. Sehingga dia harus mengaitkan pelajaran tersebut dengan kehidupannya secara pribadi, baru materi itu memiliki nilai signifikan dalam hidupnya. Untuk itulah seorang murid harus mengembangkan strategi “ATM”, maksudnya: Amati, Tiru dan Modifikasi. Dengan demikian materi yang telah dipelajari bukan hanya menjadi sesuatu yang dihafalkan dari buku tapi diaplikasikan dalam hidup pribadinya.
  6. Keenam, dalam pendidikan terhadap orang dewasa ada tiga hal penting yang harus diketahui, yakni: a) Pengalaman, untuk itu guru harus mengakui murid memiliki berbagai pengalaman hidup yang menarik, kemudian guru harus mendorong murid untuk menghubungkan hal yang telah dipelajari dengan pengalamannya. b) Hubungan, untuk itu guru harus mengembangkan hubungan yang baik dengan para murid, karena belajar bersifat relasional. c) Partisipasi,untuk itu guru harus melibatkan murid dalam proses belajar dan memberi kesempatan untuk orang dewasa mendapatkan sendiri hal penting apa dari yang dia pelajari. Dengan menyadari tiga hal penting tersebut, maka pendidikan terhadap orang dewasa bisa berlangsung dengan baik dan hasilnya maksimal.
  7. Ketujuh, alat peraga dan cara penyajiannya yang baik sangatlah penting dalam pengajaran yang kreatif. Penggunaan alat peraga modern berupa audio-visual seperti misalnya: overhead projector, TV, video, LCD projector, sangat penting. Desain presentasi yang bagus tidak muncul secara kebetulan, tapi harus dipersiapkan secara matang dengan cara yang kreatif. Contohnya: iklan di televisi yang disajikan secara singkat, sekitar 15-30 detik namun membuat penonton ingat dan menangkap pesan yang disampaikan karena dipersiapkan secara matang. Hukum Gestalt dalam penyajian alat peraga yang baik mengajarkan bagaimana memisahkan figur dan latar belakang (background). Untuk hasil yang optimal, background tidak boleh menonjol namun figur harus kontras dan memiliki warna yang menyolok dibandingkan background. Pemanfaatan teknologi informasi juga sangat penting khususnya melalui komputer dan internet, yang sangat bermanfaat bagi metode mengajar yang efektif dan kreatif di zaman modern ini.
X